Kalau Pagi Diawali Senyuman, Jam 9 Pagi Sudah Lemas Badan
Oleh: Ridzky Husna
Ada satu kebiasaan yang sering kita banggakan, padahal diam-diam sedang “mengkhianati” tubuh sendiri. Namanya melewatkan sarapan.
Banyak orang merasa cukup memulai pagi dengan senyuman. Bangun tidur, mandi, bersiap ke kantor atau kampus, lalu berangkat dengan semangat. Urusan makan? Nanti saja. Toh, masih kuat.
Namun, realitas sering kali berbicara lain. Baru pukul sembilan pagi, mata mulai berat, badan terasa lemas, konsentrasi buyar, dan emosi menjadi lebih sensitif. Senyuman yang tadi mengembang perlahan berubah menjadi wajah lesu.
Kalau sudah begini, mungkin tubuh sedang menyampaikan pesan sederhana: “Aku butuh bahan bakar.”
Sama seperti kendaraan yang tidak akan berjalan tanpa bensin, tubuh manusia pun membutuhkan energi untuk beraktivitas. Setelah tidur selama sekitar delapan jam tanpa makan dan minum, kadar glukosa dalam darah otomatis menurun. Padahal glukosa merupakan sumber energi utama bagi tubuh, terutama otak.
Ahli Gizi Universitas Gadjah Mada, Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., M.P.H., RD., seperti dilansir dari ugm.ac.id, menjelaskan bahwa seseorang yang tidak makan setelah bangun tidur berpotensi mengalami lemas karena tidak ada bahan bakar yang masuk ke tubuh. Itulah sebabnya banyak orang merasa kurang bertenaga ketika melewatkan sarapan.
Jadi, kalau pagi hanya diawali dengan senyuman tanpa sarapan, jangan heran bila pukul sembilan pagi badan sudah “protes” dan lemas luar biasa.

Lebih dari sekadar menghilangkan rasa lapar, sarapan ternyata memiliki banyak manfaat ilmiah.
Pertama, sarapan membantu meningkatkan fungsi otak. Otak manusia membutuhkan pasokan glukosa agar dapat bekerja optimal. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang yang sarapan memiliki kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan fungsi kognitif yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak sarapan.
Bagi pelajar, sarapan membantu meningkatkan fokus selama belajar. Bagi pekerja, sarapan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi risiko melakukan kesalahan akibat menurunnya konsentrasi.
Kedua, sarapan ternyata tidak membuat gemuk, justru sebaliknya.
Masih banyak orang yang sengaja tidak sarapan dengan alasan ingin menurunkan berat badan.
Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa melewatkan sarapan justru dapat meningkatkan rasa lapar pada siang dan malam hari. Akibatnya, seseorang cenderung makan lebih banyak, bahkan kalap, ketika waktu makan tiba.
Menurut Dr. Mirza, makanan yang dikonsumsi pada pagi hari akan digunakan tubuh sebagai energi untuk beraktivitas sehingga tidak serta-merta disimpan menjadi lemak. Sebaliknya, makan berlebihan pada sore atau malam hari ketika aktivitas mulai menurun justru berpotensi meningkatkan penumpukan lemak.
Ketiga, sarapan juga berkaitan erat dengan kesehatan jantung.
Sejumlah studi internasional menemukan bahwa orang yang rutin melewatkan sarapan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner.
Bahkan, riset jangka panjang yang dilakukan selama 16 tahun pada kelompok usia 45 hingga 82 tahun menunjukkan adanya peningkatan risiko penyakit jantung pada mereka yang terbiasa tidak sarapan.
Temuan ini tentu menjadi pengingat bahwa sarapan bukan sekadar urusan kenyang atau tidak kenyang, tetapi investasi kesehatan jangka panjang.
Selain itu, sarapan juga berperan menjaga suasana hati. Pernah merasa mudah marah atau cepat tersinggung saat lapar? Ternyata ada penjelasan ilmiahnya. Ketika kadar gula darah menurun, kerja otak menjadi kurang optimal sehingga memengaruhi suasana hati.
Tidak heran jika orang yang belum sarapan cenderung lebih mudah emosi, kurang bersemangat, atau merasa cepat lelah.
Lalu, kapan waktu terbaik untuk sarapan?
Para ahli gizi menyarankan sarapan dilakukan antara pukul 06.00 hingga 09.00 pagi, dengan waktu ideal sekitar pukul 07.00 hingga 08.00. Waktu tersebut disesuaikan dengan ritme kebutuhan energi tubuh yang meningkat pada pagi hingga siang hari.
Tentu saja, sarapan juga perlu diperhatikan kualitasnya. Jangan hanya mengandalkan kopi atau teh manis. Pilihlah menu yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta vitamin dan mineral.
Telur, roti gandum, oatmeal, susu, buah-buahan, atau nasi dengan lauk berprotein bisa menjadi pilihan sederhana tetapi bergizi.
Jadi sarapan bukan sekadar rutinitas. Sarapan adalah bentuk kasih sayang paling sederhana kepada tubuh sendiri.
Karena benar, pagi memang boleh diawali dengan senyuman. Tetapi akan jauh lebih sempurna jika senyuman itu ditemani sepiring sarapan.
Sebab kalau hanya senyuman saja, jangan salahkan tubuh jika jam sembilan pagi sudah lemas badan.
Dan percayalah, perut yang kenyang sering kali membuat senyuman bertahan lebih lama.Hem.

