Bank Kalsel Naik Kelas, Saatnya Menatap Dunia
Foto Ilustrasi - Dok M.Risanta.
Oleh: Muhammad Risanta
Rabu, 17 Juni 2026, boleh jadi akan tercatat sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah pembangunan ekonomi Kalimantan Selatan. Pada hari itu, Bank Kalsel resmi beroperasi sebagai bank devisa.
Bagi sebagian masyarakat, status bank devisa mungkin terdengar sebagai istilah teknis dunia perbankan. Namun sesungguhnya, di balik perubahan status tersebut tersimpan makna yang jauh lebih besar.
Ini bukan sekadar penambahan layanan valuta asing atau kemampuan mengirim uang ke luar negeri. Melainkan sebuah simbol bahwa Bank Kalsel sedang naik kelas.
Bank yang selama puluhan tahun tumbuh bersama masyarakat Banua kini memasuki arena yang lebih luas. Jika sebelumnya aktivitas bisnis internasional harus banyak bergantung pada bank-bank nasional besar, kini sebagian kebutuhan tersebut dapat dilayani langsung oleh bank milik daerah sendiri.
Transformasi ini membuka banyak pintu.
Pelaku ekspor karet, batu bara, perikanan, hasil perkebunan, hingga UMKM yang mulai menjual produknya ke pasar global akan memiliki akses layanan yang lebih dekat.
Pengusaha tidak perlu lagi terlalu jauh mencari layanan Letter of Credit (L/C), transaksi valuta asing, maupun transfer internasional.
Dalam bahasa sederhana, Bank Kalsel kini memiliki “paspor” untuk ikut bermain di panggung ekonomi global.
Namun sejarah menunjukkan bahwa memperoleh status bank devisa hanyalah garis start, bukan garis finis.
Ada banyak contoh yang bisa dijadikan cermin.
Bank BJB berhasil menjadikan layanan devisa sebagai mesin penggerak bisnis korporasi dan perdagangan internasional. Bank Jateng mampu mendampingi pelaku usaha daerah menembus pasar ekspor.
BPD Bali memanfaatkan status devisa untuk menopang industri pariwisata internasional yang menjadi tulang punggung ekonomi daerahnya.
Bank NTT bahkan menjadikan status devisa sebagai momentum memperluas akses ekonomi daerah yang selama ini relatif jauh dari pusat pertumbuhan nasional.
Artinya, kunci keberhasilan bukan terletak pada statusnya, melainkan pada apa yang dilakukan setelah status itu diperoleh.
Karena kalau mau jujur dan berpandangan ke depan inilah tantangan sekaligus peluang Bank Kalsel.
Kalimantan Selatan sesungguhnya memiliki modal ekonomi yang luar biasa. Komoditas pertambangan, perkebunan, perikanan, industri pengolahan, hingga sektor jasa memiliki keterhubungan langsung dengan pasar internasional.
Pertanyaannya, apakah Bank Kalsel mampu menjadi mitra utama para pelaku usaha tersebut?
Menjadi bank devisa tidak cukup hanya menyediakan loket transaksi valas. Bank Kalsel perlu membangun ekosistem bisnis internasional.
Dibutuhkan sumber daya manusia yang memahami perdagangan global, manajemen risiko valuta asing, pembiayaan ekspor-impor, serta layanan treasury yang kompetitif.
Nasabah tidak hanya membutuhkan tempat menukar dolar atau mengirim uang ke luar negeri. Mereka membutuhkan mitra bisnis yang mampu membantu ekspansi usaha.
Karena itu, Bank Kalsel tidak perlu malu belajar kepada BPD lain yang telah lebih dahulu sukses bertransformasi.
Belajar bukan berarti meniru. Belajar berarti mengambil praktik-praktik terbaik lalu menyesuaikannya dengan karakteristik Banua.
Jika Bank BJB kuat di sektor korporasi, Bank Kalsel bisa mengembangkan kekuatan pada sektor sumber daya alam dan perdagangan komoditas.
Jika BPD Bali sukses menopang pariwisata internasional, Bank Kalsel dapat membangun layanan unggulan untuk perdagangan ekspor hasil bumi dan industri halal.
Keberanian belajar sering kali menjadi pembeda antara institusi yang tumbuh dan institusi yang berjalan di tempat.
Tentu saja, perjalanan ini tidak bisa dibebankan kepada Bank Kalsel semata.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebagai pemegang saham pengendali juga memiliki pekerjaan rumah yang tidak kalah penting.
Pertama, pemerintah daerah perlu menjadikan Bank Kalsel sebagai bagian dari strategi besar pembangunan ekonomi daerah. Jangan hanya diposisikan sebagai tempat penyimpanan kas daerah.
Kedua, Pemprov harus mendorong lahirnya lebih banyak eksportir baru. Semakin banyak pelaku usaha yang masuk pasar global, semakin besar pula kebutuhan terhadap layanan devisa yang disediakan Bank Kalsel.
Ketiga, penguatan investasi harus menjadi agenda utama. Investor yang masuk ke Kalimantan Selatan membutuhkan sistem perbankan yang modern, sehat, dan mampu melayani transaksi internasional.
Keempat, hilirisasi industri harus terus didorong. Daerah yang hanya menjual bahan mentah akan memperoleh nilai tambah terbatas. Namun ketika industri pengolahan tumbuh, transaksi perdagangan internasional ikut meningkat dan peran bank devisa menjadi semakin strategis.
Kelima, transformasi digital tidak boleh berhenti. Dunia perbankan internasional bergerak sangat cepat. Kecepatan layanan, keamanan transaksi, dan kemudahan akses menjadi faktor penentu daya saing.
Jadi dari sudut pandangan sederhana kami adalah status bank devisa bukan sekadar prestasi institusi perbankan. Ini adalah momentum pembangunan daerah.
Bank Kalsel kini memiliki kesempatan untuk menjadi jembatan yang menghubungkan Banua dengan pasar dunia. Kesempatan yang mungkin hanya datang sekali dalam beberapa dekade.
Peresmian hari ini patut disyukuri. Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa lima atau sepuluh tahun mendatang, masyarakat dapat melihat bahwa keputusan menjadi bank devisa benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi ekonomi daerah.
Karena sesungguhnya, ukuran keberhasilan sebuah bank devisa bukan terletak pada izin yang dikantongi, melainkan pada seberapa besar nantinya mampu membuka jalan bagi kemajuan daerah yang dilayaninya.
Hari ini Bank Kalsel resmi menjadi bank devisa. Besok, tantangan sesungguhnya baru dimulai.Tetap semangat dan berjuang untuk Banua.

