Andai Aku Bermain di Piala Dunia
Oleh: Fikri Husaini
Andai aku bermain di Piala Dunia. Kalimat itu sederhana.
Namun bagi jutaan anak Indonesia, kalimat itu adalah langit yang mereka pandangi setiap hari.
Anak-anak lahir di lapangan tanah merah yang berdebu. Mereka tumbuh di gang-gang sempit perkotaan. Dan berlari di atas rumput liar di desa-desa yang jauh dari sorotan kamera televisi.
Di negeri ini, banyak anak kecil yang tidur dengan mimpi menjadi pemain sepak bola. Mereka menendang bola plastik yang sudah penyok.Terkadang berlari tanpa sepatu, seperti diriku di masa kecil di Banjarmasin.
Mereka membuat gawang dari sandal jepit, tidak memiliki stadion megah. Mereka tidak memiliki lapangan berstandar FIFA. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang lebih besar dari itu semua. Mereka memiliki mimpi.
Dan mimpi adalah bahan bakar paling kuat yang pernah dimiliki manusia.
Aku sering membayangkan bagaimana rasanya berdiri di tengah lapangan Piala Dunia. Puluhan ribu penonton memenuhi stadion. Dan lampu-lampu menyala terang. Kamera dari seluruh dunia mengarah ke lapangan. Jutaan pasang mata menyaksikan pertandingan dari berbagai benua.
Lalu terdengar suara yang sangat akrab. “Indonesia Raya…” Pada saat itu mungkin aku tidak akan mampu menahan air mata. Karena yang berdiri di lapangan bukan hanya sebelas pemain.
Di belakang mereka berdiri jutaan harapan Ada wajah abah yang dulu membelikan bola pertama meski harus menyisihkan uang belanja. Ada ibu yang berkali-kali mencuci jersey yang sama setiap minggu.
Bahkan aku ingat pelatih kampung, Pa Solihin yang mengajarkan arti disiplin dan kerja keras.Tentunya teman-teman masa kecil yang pernah bermain hingga matahari tenggelam.
Ada rakyat Indonesia yang selama puluhan tahun hanya menjadi penonton pesta sepak bola terbesar dunia.
Dan kini, untuk pertama kalinya, kita ikut berada di dalam cerita itu. Aku membayangkan mengenakan jersey merah putih. Bukan karena ingin terkenal dan ingin dipuja.
Tetapi karena tidak ada kehormatan yang lebih besar bagi seorang pemain selain membawa nama bangsanya.
Saat lambang Garuda menempel di dada, kita tidak lagi bermain untuk diri sendiri. Kita bermain untuk jutaan orang yang mungkin tidak pernah kita kenal.
Untuk anak-anak yang sedang menonton dari pelosok Kalimantan, nelayan di Maluku, petani di Jawa, guru di Nusa Tenggara, pedagang kecil di Sumatra.
Untuk semua yang percaya bahwa Indonesia bisa berdiri sejajar dengan bangsa mana pun di dunia.
Andai aku bermain di Piala Dunia, mungkin aku akan berhadapan dengan pemain-pemain yang selama ini hanya kulihat di televisi.
Mungkin ada Lionel Messi. Mungkin ada Cristiano Ronaldo.
Mungkin ada bintang-bintang dunia yang namanya memenuhi halaman media olahraga.
Namun sesungguhnya, pertandingan terbesar bukanlah melawan mereka.
Pertandingan terbesar adalah melawan keraguan. Keraguan yang selama ini berkata bahwa Indonesia tidak mungkin sampai ke sana.
Keraguan yang membuat kita sering merasa cukup menjadi penonton. Keraguan yang membuat kita takut bermimpi terlalu tinggi.
Padahal sejarah selalu ditulis oleh orang-orang yang berani bermimpi lebih dulu.
Bukankah setiap negara besar sepak bola pernah memulai dari titik nol?
Bukankah setiap legenda dunia pernah menjadi anak kecil yang bermain di jalanan?
Bukankah setiap prestasi besar selalu berawal dari sebuah keyakinan bahwa sesuatu yang tampak mustahil ternyata bisa diwujudkan?
Karena itu, ketika seorang anak Indonesia berkata, “Aku ingin bermain di Piala Dunia,” jangan tertawakan dia. Jangan katakan bahwa itu terlalu tinggi dan mustahil.
Sebab dunia selalu berubah karena mimpi-mimpi yang dianggap mustahil.
Hari ini mungkin ia hanya bermain di lapangan desa. Besok mungkin ia bermain di tingkat provinsi. Lima tahun lagi mungkin ia mengenakan jersey tim nasional.
Dan siapa yang tahu?
Sepuluh tahun kemudian ia berdiri di panggung terbesar sepak bola dunia. Membawa Garuda di dada dan Merah Putih di hati.
Membawa nama Indonesia di hadapan dunia. Sesungguhnya, Piala Dunia bukan hanya tentang sepak bola.
Ia adalah simbol bahwa tidak ada mimpi yang terlalu jauh untuk dikejar.Dan semua itu mengajarkan bahwa kerja keras lebih penting daripada asal-usul
Karena ini membuktikan bahwa anak kampung pun bisa berdiri di panggung dunia.
Dan mungkin itulah alasan mengapa setiap empat tahun sekali miliaran manusia jatuh cinta pada turnamen ini.
Karena di dalamnya ada cerita tentang harapan dan keberanian.
Ada cerita tentang manusia biasa yang berusaha melakukan hal-hal luar biasa.
Andai aku bermain di Piala Dunia. Mungkin itu masih sebatas mimpi.
Tetapi bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah berhenti bermimpi.
Suatu hari nanti, ketika Indonesia benar-benar berdiri di panggung tertinggi sepak bola dunia, anak-anak negeri ini tidak lagi berkata:
“Andai aku bermain di Piala Dunia.”
Mereka akan berkata dengan penuh keyakinan:
“Aku akan bermain di Piala Dunia.”
Dan pada hari itu, mimpi bukan lagi sekadar angan.
Mimpi telah berubah menjadi kenyataan.
Untuk Indonesia. Untuk Garuda.
