Segarnya Selendang Mayang di Tengah Riuh Jakarta Fair

0
ES SELENDANG MAYANG - YANTI MAHASISWA

Oleh: Olpah Sari

Jakarta memang selalu punya cara untuk membuat orang rindu dan ingin kembali.

Bukan hanya karena gemerlap kotanya, bukan pula karena hiruk-pikuk jalanannya yang tak pernah benar-benar tidur.

Ada satu hal sederhana yang sering membuat orang tersenyum ketika berkunjung ke Jakarta, terutama saat Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair digelar setiap bulan Juni. Namanya Es Selendang Mayang.

Di tengah cuaca Jakarta yang kadang terasa menyengat, melihat semangkuk Es Selendang Mayang yang dingin rasanya seperti menemukan oase kecil di tengah keramaian pengunjung.

Es batu yang berkilau, kuah santan yang putih gurih, siraman gula merah yang manis legit, dan potongan selendang mayang berwarna-warni membuat siapa pun sulit menolak godaannya.

Saya selalu merasa Es Selendang Mayang bukan sekadar minuman. Ini adalah cerita panjang tentang Jakarta tempo dulu yang masih bertahan hingga hari ini.

Nama “Selendang Mayang” sendiri terdengar begitu puitis. Ada unsur keindahan di dalamnya. Kata selendang merujuk pada lapisan warna-warni merah muda, putih, dan hijau yang menyerupai selendang penari Betawi. Sementara mayang sering dimaknai sebagai sesuatu yang indah dan harum.

Konon, nama mayang juga dikaitkan dengan cerita rakyat Betawi tentang Mayang Sari, seorang perempuan cantik yang terkenal pada masanya. Seperti kecantikan Mayang Sari, sajian Es Selendang Mayang pun memancarkan pesona melalui perpaduan warna yang mencolok namun harmonis. Merah muda, putih, dan hijau berpadu menjadi tampilan yang sederhana tetapi memikat selera.

Begitu disajikan, potongan kue kenyal berbahan tepung hunkwe, sagu aren, atau tepung beras dipotong kotak-kotak tipis. Di atasnya disiram santan yang gurih dan harum daun pandan.

Lalu gula merah cair dituangkan perlahan, menciptakan warna cokelat keemasan yang menggoda. Terakhir, es batu menjadi sentuhan penutup yang menghadirkan sensasi dingin menyegarkan.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, rasa manis, gurih, dan dingin langsung berpadu. Tekstur kenyal selendang mayang menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan minuman kekinian yang banyak beredar sekarang.

Sederhana, tetapi justru di situlah daya tariknya jajanan rakyat yang satu ini, hem bikin kepingin lagi.

Dahulu, Es Selendang Mayang hampir selalu hadir dalam berbagai hajatan masyarakat Betawi. Pernikahan, khitanan, hingga pesta keluarga terasa kurang lengkap tanpa sajian ini. Kini, keberadaannya memang tidak sebanyak dulu. Namun bukan berarti es ini hhilang.

Masih ada tempat-tempat yang setia menjaga warisan kuliner ini, seperti kawasan budaya Betawi Setu Babakan, festival kuliner tradisional, hingga beberapa stan makanan khas Nusantara yang hadir di Jakarta Fair.

Karena itu, jika Anda berkunjung ke Jakarta Fair tahun ini, cobalah berhenti sejenak dari hiruk-pikuk wahana dan deretan produk pameran. Carilah semangkuk Es Selendang Mayang.

Nikmati perlahan.

Rasakan dinginnya es yang menyegarkan tenggorokan, gurihnya santan yang lembut, dan manisnya gula merah yang begitu akrab di lidah orang Indonesia.

Barangkali yang Anda nikmati bukan hanya sebuah minuman.

Melainkan sepotong cerita tentang Jakarta, tentang Betawi, dan tentang warisan kuliner yang tetap bertahan meski zaman terus bergerak maju.

Dan di tengah keramaian Jakarta Fair yang penuh warna, Es Selendang Mayang mengingatkan kita bahwa kadang-kadang kebahagiaan bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, dari semangkuk es tradisional yang dingin dan manis di siang hari yang terik.Hem puitis banget namun yuk kita coba !.

Penulis adalah Jurnalis dan Pemimpin Umum Media Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!