Ellyana Trisya dan Pesan Kepemimpinan yang Membumi untuk Generasi Muda
Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Kalimantan Selatan ,drg. Ellyana Trisya Hasnuryadi, didampingi praktisi dunia usaha, Kristin Mariani, dalam Kuliah Umum dan Launching Klub Jantung Sehat Remaja Bisnis Digital Politeknik Hasnur.(Foto - Biro Adpim Kalsel).
Di hadapan ratusan mahasiswa Politeknik Hasnur, drg. Ellyana Trisya Hasnuryadi tidak tampil sebagai sosok yang sedang memberikan ceramah panjang tentang kesuksesan atau kepemimpinan.
Sebaliknya, Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Kalimantan Selatan itu memilih berbicara dari pengalaman, menyampaikan pesan-pesan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Dalam Kuliah Umum bertema Peran Generasi Muda dalam Kepemimpinan yang Sehat dan Berdaya Saing di Wetland Square Banjarmasin, Rabu (10/6/2026), Ellyana hadir bukan hanya sebagai istri Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, tetapi sebagai figur yang mengajak generasi muda melihat masa depan dengan cara yang lebih sehat dan lebih manusiawi.
Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial, Ellyana justru mengingatkan mahasiswa agar tidak kehilangan jati diri.
Menurutnya, kepemimpinan tidak selalu dimulai dari panggung besar atau jabatan tinggi. Kepemimpinan justru berawal dari kemampuan seseorang mengelola dirinya sendiri.
“Semua berawal dari mindset dan attitude yang baik. Setelah itu kita terus belajar, berkembang, dan terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan prinsip,” ujarnya.
Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa yang ringan namun mengena. Tidak ada kesan menggurui. Yang terlihat justru upaya untuk memahami keresahan generasi muda yang hidup di era kompetisi dan perubahan yang sangat cepat.
Bagi Ellyana, menjadi pemimpin bukan hanya soal kecerdasan akademik. Lebih dari itu, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berinovasi, serta mampu menawarkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dalam paparannya, ia juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai fondasi untuk meraih prestasi. Baginya, anak muda yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan berkontribusi.
Karena itu, selain berbicara tentang kepemimpinan, Ellyana turut mengajak mahasiswa untuk lebih peduli terhadap kesehatan jantung melalui pola hidup sehat, olahraga rutin, istirahat yang cukup, dan menjaga pola makan.
Pendekatan yang ia bangun terasa berbeda. Kepemimpinan dan kesehatan tidak ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah, melainkan saling berkaitan. Generasi yang ingin membawa perubahan, menurutnya, harus memiliki tubuh yang sehat sekaligus karakter yang kuat.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian mahasiswa adalah ketika Ellyana mengingatkan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk berkembang dan berhasil.
“Indonesia menunggu kalian untuk menjadi pemimpin yang dipanggil dan dipercaya. Jadilah versi terbaik dari diri sendiri. Kita semua tidak ada yang terlambat, kita hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk masing-masing,” pesannya.
Kalimat tersebut seolah menjadi penegasan bahwa kesuksesan bukan perlombaan siapa yang paling cepat, melainkan tentang bagaimana seseorang terus bertumbuh dan mempersiapkan diri.
Di tengah banyaknya figur publik yang sering berbicara dari atas podium, Ellyana memilih hadir sebagai pendengar sekaligus penyemangat.
Ia tidak menawarkan resep instan menjadi pemimpin, melainkan mengajak mahasiswa untuk membangun karakter, menjaga kesehatan, dan percaya pada proses.
Melalui pendekatan yang hangat dan relevan dengan kehidupan anak muda, Ellyana Trisya Hasnuryadi memperlihatkan bahwa inspirasi tidak selalu lahir dari pidato yang megah.
Kadang, inspirasi hadir dari pesan-pesan sederhana yang mampu membuat seseorang percaya bahwa masa depan masih terbuka lebar bagi mereka yang terus belajar, menjaga integritas, dan tidak berhenti bertumbuh.(Olpah Sari).
