Pertamax Naik, Yang Gelisah Bukan Hanya Pemilik Mobil
Pagi itu, grup-grup WhatsApp kembali ramai. Ada yang mengirim poster kenaikan harga Pertamax, ada yang langsung menghitung biaya perjalanan harian, ada pula yang hanya mengirim emoji menangis sambil bercanda, “Isi penuh sekarang terasa seperti cicilan.”
Bagi sebagian orang, kenaikan harga Pertamax mungkin hanya angka. Dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Selisihnya Rp3.950. Jika dihitung secara persentase, kenaikannya mencapai lebih dari 32 persen.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, angka itu tidak pernah sekadar angka.
Di balik kenaikan harga BBM, selalu ada cerita tentang biaya hidup, pengeluaran rumah tangga, ongkos distribusi barang, hingga kecemasan masyarakat terhadap harga kebutuhan pokok yang berpotensi ikut bergerak naik.
Sebagai masyarakat, kita tentu memahami bahwa harga energi tidak berdiri sendiri.
Harga minyak dunia naik, nilai tukar rupiah melemah, sementara Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar. Secara ekonomi, penyesuaian harga memang memiliki dasar yang dapat dijelaskan.
Tetapi dari sudut pandang sosial, persoalannya tidak sesederhana rumus ekonomi.
Yang sering muncul adalah pertanyaan yang sangat sederhana apakah pendapatan masyarakat juga naik secepat harga-harga yang terus bergerak?
Di Kalimantan Selatan, kegelisahan seperti ini terasa cukup dekat. Banyak warga setiap hari bergantung pada kendaraan pribadi untuk bekerja, berdagang, mengantar anak sekolah, atau menjalankan aktivitas usaha kecil.
Jarak antar wilayah yang tidak selalu dekat membuat kendaraan menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar pilihan.
Makanya ketika saya berdiskusi dengan sahabat saya, Acil Nurul, Selegram Banua, kami menyebut harga BBM naik, yang pertama kali menghitung bukanlah ekonom.
Yang pertama menghitung justru para pengemudi ojek, pedagang pasar, pelaku UMKM, sopir angkutan, hingga pegawai yang setiap hari harus menempuh perjalanan puluhan kilometer.
Mereka mulai bertanya dalam hati apakah pengeluaran bulan ini masih cukup?
Kenaikan harga Pertamax memang tidak langsung mengubah harga beras, cabai, atau ikan di pasar. Namun masyarakat sudah cukup berpengalaman memahami bagaimana rantai ekonomi bekerja.
Ketika biaya transportasi naik, biaya distribusi ikut naik. Ketika biaya distribusi naik, pelaku usaha mulai melakukan penyesuaian.
Karena itu, yang sering ditakutkan masyarakat sebenarnya bukan kenaikan BBM hari ini, melainkan efek berantai yang mungkin muncul beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian.
Di warung kopi, obrolan semacam ini mulai terdengar. Di pasar-pasar tradisional, para pedagang juga mulai memperhatikan perkembangan harga.
Semua orang mencoba membaca arah keadaan dengan cara masing-masing.
Meski demikian, ada satu hal yang patut dicatat. Pemerintah masih mempertahankan harga Pertalite dan Solar bersubsidi.
Kebijakan ini setidaknya menjadi bantalan agar tekanan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah tidak semakin berat.
Namun kita juga harus jujur bahwa kelompok pengguna Pertamax bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan ekonomi tinggi.
Banyak pegawai, guru, pelaku usaha kecil, hingga pekerja kelas menengah yang selama ini menggunakan Pertamax karena pertimbangan kualitas bahan bakar dan kondisi kendaraan mereka.
Karena itu, kenaikan ini tetap dirasakan oleh lapisan masyarakat yang cukup luas.
Dalam situasi seperti sekarang, masyarakat sesungguhnya tidak hanya membutuhkan penjelasan mengenai mengapa harga harus naik.
Mereka juga membutuhkan keyakinan bahwa pemerintah terus berupaya menjaga daya beli, mengendalikan inflasi, dan memastikan biaya hidup tidak melonjak terlalu tinggi.
Endingnya bahwa ekonomi bukan hanya soal grafik, kurs dolar, atau harga minyak dunia.
Ekonomi adalah soal dapur yang harus tetap mengepul, usaha kecil yang harus tetap berjalan, dan keluarga yang setiap bulan berusaha menjaga keseimbangan antara pendapatan dan kebutuhan.
Kenaikan Pertamax mungkin lahir dari mekanisme pasar. Namun dampaknya akan selalu bermuara pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Makanya ketika harga BBM naik, yang gelisah bukan hanya pemilik mobil. Yang ikut menghitung adalah hampir seluruh lapisan masyarakat yang hidupnya terhubung dengan roda ekonomi yang terus berputar, termasuk saya.(Olpah Sari).

