STIE Pancasetia Tebar Berkah Iduladha
Ketua Yayasan Pendidikan Sumber Ilmu Hj. Lailani Archifah didampingi sejumlah Dosen STIE Pancasetia memulai prosesi penyembelihan hewan qurban. (Foto - Arul).
Hari Raya Iduladha bagi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pancasetia Banjarmasin bukan sekadar perayaan tahunan yang hadir lalu berlalu.
Di tengah semangat berbagi dan pengorbanan, kampus yang dikenal dengan sebutan “Kampus Gila Marketing” itu kembali menerjemahkan makna Iduladha menjadi aksi nyata yakni menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sabtu (30/05/2026), di lingkungan Kampus Gila Marketing Banjarbaru, suasana Iduladha terasa berbeda.
Bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, melainkan bagaimana sebuah institusi pendidikan mencoba merawat hubungan sosial dengan masyarakat di sekitarnya melalui kepedulian yang nyata.
Tahun ini, STIE Pancasetia menyembelih empat ekor sapi kurban, terdiri dari tiga ekor sapi dari keluarga besar kampus dan satu ekor sapi bantuan dari Hasnur Group.
Daging kurban kemudian disalurkan kepada masyarakat sekitar, sekaligus menjadi simbol bahwa kampus tidak ingin berdiri jauh dari denyut kehidupan sosial warganya.
Di tengah perubahan zaman yang serba kompetitif, kampus tidak hanya dituntut melahirkan lulusan unggul secara akademik. Ada tanggung jawab moral yang lebih besar dalam menanamkan nilai empati, solidaritas, dan keberpihakan sosial.

Ketua Panitia Pelaksana, H. Asruni, SE., MM, mengatakan momentum kurban dimaknai sebagai ruang pembelajaran tentang keikhlasan dan kebersamaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar membagikan daging kurban, tetapi juga mempererat hubungan antara sivitas akademika dengan masyarakat sekitar kampus.
“Iduladha mengajarkan tentang berbagi dan kepedulian. Kampus ingin hadir bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang ikut merasakan denyut kehidupan sosial,” ujarnya.
Yang menarik, pelaksanaan kurban di STIE Pancasetia melibatkan berbagai unsur kampus mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.
Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi ikut terlibat dalam proses penyembelihan, pengemasan, hingga distribusi daging kurban.
Mahasiswa tidak hanya belajar teori ekonomi, strategi pemasaran, atau manajemen bisnis di ruang kelas.
Mereka juga belajar tentang nilai kemanusiaan: bagaimana berbagi, bekerja bersama, dan memahami bahwa ilmu pengetahuan menjadi lebih bermakna ketika memberi manfaat bagi orang lain.

Salah satu dosen STIE Pancasetia, Arifia, menilai tradisi kurban tahunan ini menjadi cara kampus menanamkan pendidikan karakter secara nyata.
Menurutnya, semangat gotong royong dan kepedulian yang tumbuh dalam kegiatan seperti ini penting dirawat, terutama di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
“Mahasiswa perlu melihat langsung bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan memiliki empati sosial dan rasa peduli terhadap sesama,” katanya.
Lebih jauh, kegiatan ini juga memperlihatkan wajah lain perguruan tinggi, bukan menara akademik yang eksklusif, tetapi institusi yang hadir bersama masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan sebagian warga, kehadiran daging kurban mungkin tampak sederhana. Namun bagi sebagian keluarga, itu bisa menjadi kebahagiaan yang bermakna.
Dan mungkin, di situlah esensi Iduladha sesungguhnya bukan pada seberapa besar yang diberikan, tetapi pada seberapa tulus kehadiran itu dirasakan oleh sesama.(Olpah Sari).
