Dari Digital ke Sosial, BSI Perluas Manfaat Kurban
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo menyerahkan bantuan 1 ekor sapi limousin untuk ibadah Qurban. (Foto - Humas BSI).
Transformasi digital kini tak hanya menjadi instrumen percepatan layanan perbankan, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi penguatan nilai-nilai sosial kemasyarakatan.
Hal tersebut tercermin dalam program kurban PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang terus berkembang melalui integrasi layanan digital dan penguatan dampak sosial bagi masyarakat.
Pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah atau tahun 2026, BSI menghadirkan kemudahan berkurban melalui berbagai kanal digital, seperti aplikasi BYOND by BSI, pemanfaatan BSI Hasanah Card, hingga kolaborasi bersama Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi.
Inovasi tersebut memungkinkan masyarakat menunaikan ibadah kurban secara lebih mudah, aman, praktis, dan transparan, bahkan dengan pilihan harga yang inklusif mulai sekitar Rp1,9 juta untuk kambing.
Kemudahan akses digital serta variasi harga yang terjangkau menjadi salah satu faktor penting yang mendorong meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berkurban melalui BSI.
Digitalisasi layanan tidak hanya menyederhanakan proses transaksi, tetapi juga memperluas jangkauan masyarakat untuk terlibat dalam ibadah sosial secara lebih luas tanpa terkendala jarak dan waktu.
Upaya tersebut sejalan dengan capaian program kurban BSI secara nasional pada 2026 yang mencatat total penghimpunan mencapai Rp47,95 miliar, setara dengan 24.593 ekor kambing/hewan kurban. Hingga periode pelaporan, realisasi program telah mencapai 87,19 persen dari target kurban nasional tahun 2026.

Di wilayah Kalimantan, kontribusi BSI melalui Regional Office IX Kalimantan juga menunjukkan komitmen nyata. Tercatat, total kurban mencapai Rp4,16 miliar, setara dengan 2.136 ekor hewan kurban, atau berkontribusi sebesar 8,69 persen terhadap total program kurban nasional BSI.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis perbankan syariah harus berjalan beriringan dengan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.
“Perbankan syariah hadir untuk membawa kemaslahatan yang lebih luas. Kinerja positif BSI harus berjalan seiring dengan peningkatan volume ZISWAF, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung dalam meningkatkan kesejahteraan umat, salah satunya melalui pemerataan distribusi hewan kurban,” ujar Anggoro.
Program kurban BSI tidak hanya menghadirkan manfaat bagi penerima daging kurban, tetapi juga memberikan dampak ekonomi berantai (multiplier effect) terhadap sektor peternakan nasional.
Secara luas, BSI melibatkan peternak lokal, pelaku UMKM, hingga desa binaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok hewan kurban.
Keterlibatan peternak lokal tersebut menjadi penggerak ekonomi berbasis kerakyatan sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan bagi pelaku usaha kecil di sektor peternakan.
Dengan pola pemberdayaan yang terintegrasi, program kurban tidak hanya dipandang sebagai ibadah tahunan, tetapi juga instrumen penguatan ekonomi masyarakat.
Tak berhenti pada aspek sosial dan ekonomi, BSI juga menempatkan prinsip keberlanjutan (sustainability) sebagai bagian penting dalam program kurban.
Salah satunya melalui penggunaan besek bambu sebagai kemasan distribusi daging kurban yang lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan plastik sekali pakai.
Daging kurban kemudian didistribusikan kepada masyarakat duafa, pesantren, wilayah terdampak bencana, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan di berbagai daerah. Langkah ini menjadi bukti bahwa transformasi digital yang dibangun BSI tidak berhenti pada kemudahan layanan, tetapi juga bermuara pada penguatan kepedulian sosial dan pemerataan manfaat bagi masyarakat.
Melalui pendekatan yang mengintegrasikan teknologi, nilai sosial, dan keberlanjutan, BSI berupaya memastikan bahwa semangat kurban tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga medium menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi umat dan negeri.(Olpah Sari).
