PT BCL Perkuat Posyandu, Lawan Stunting dari Desa
PT BCL ingin memastikan keberadaan perusahaan mampu memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat( Foto - Humas Astra Agro Lestari).
Di tengah perhatian nasional terhadap isu stunting dan kualitas kesehatan masyarakat, PT Bhadra Cemerlang (PT BCL) memperkuat kontribusinya melalui program Astra Sehat.
Sebuah inisiatif yang dirancang untuk menghadirkan dampak sosial nyata sekaligus memperkuat layanan kesehatan berbasis masyarakat di wilayah pedesaan.
Alih-alih menghadirkan program yang bersifat seremonial, PT BCL memilih pendekatan yang lebih mendasar membangun ekosistem kesehatan desa yang aktif, terstruktur, dan berkelanjutan melalui pembinaan 17 Posyandu di delapan desa sekitar wilayah operasional perusahaan.
Dari delapan desa tersebut, empat berada di wilayah Kabupaten Barito Timur, yakni Desa Kotam, Lalap, Bentot, dan Mawani. Sementara empat desa lainnya berada di Kabupaten Tabalong, meliputi Desa Bintang Ara, Kambitin Raya, Wayau, dan Gerunggang.
Langkah ini menjadi penting ketika Posyandu masih menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dasar masyarakat desa terutama dalam mendeteksi dini persoalan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pencegahan stunting.
Program Astra Sehat dijalankan melalui kolaborasi bersama pemerintah desa, fasilitas layanan kesehatan, dan kader Posyandu.
Tujuannya sederhana tetapi krusial memastikan pelayanan kesehatan dasar dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, rutin, dan konsisten.

Perwakilan Management Area Kalimantan Selatan, Agus Budiarto, mengatakan perusahaan meyakini keberlanjutan tidak hanya bicara pertumbuhan bisnis, tetapi juga tentang bagaimana kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasional ikut tumbuh.
“PT BCL ingin memastikan keberadaan perusahaan mampu memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Kami melihat Posyandu bukan hanya tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga ruang tumbuh bagi generasi masa depan desa,” katanya.
Karena itu, pihaknya mendorong program kesehatan yang tidak sekadar bersifat bantuan, tetapi mampu memperkuat kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.
Menurut Agus, pendekatan kolaboratif menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan program sosial perusahaan.
Persoalan kesehatan masyarakat, kata dia, tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi antara perusahaan, pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat desa itu sendiri.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan standar Lima Meja Posyandu, mulai dari proses pendaftaran, penimbangan balita, pencatatan tumbuh kembang anak, penyuluhan gizi, pemberian makanan tambahan (PMT), hingga layanan kesehatan dasar dan imunisasi.
Namun PT BCL tidak berhenti pada dukungan teknis semata.
Perusahaan juga mendorong penguatan kapasitas kader Posyandu agar mampu menjadi motor edukasi kesehatan masyarakat di tingkat desa.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak cukup dilakukan dengan bantuan jangka pendek.
Yang dibutuhkan adalah sistem pendampingan yang konsisten agar masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan menjaga kesehatan keluarga sejak dini.
Langkah PT BCL melalui Astra Sehat juga menjadi bagian dari kontribusi Astra Agro dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting nasional.
Perseroan meyakini kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh kualitas kesehatan sejak masa awal kehidupan.
Sepanjang tahun 2025, program ini telah memberikan manfaat kepada 812 penerima manfaat, terdiri dari 633 balita, 80 ibu hamil dan menyusui, serta 99 kader Posyandu.
Angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi menggambarkan bagaimana pendekatan pembangunan sosial dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas bisnis perusahaan.
“Bagi Astra Agro, keberlanjutan berarti menghadirkan kontribusi nyata yang mampu menciptakan perubahan jangka panjang. Inilah wujud komitmen kami untuk terus performing sekaligus transforming bersama masyarakat,” tambah Agus.
Di tengah tantangan kesehatan yang masih dihadapi banyak wilayah pedesaan, langkah seperti ini menunjukkan bahwa peran perusahaan tidak harus berhenti pada aktivitas operasional semata.
Ada ruang yang lebih besar untuk diisi yakni menjadi bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia, dimulai dari desa.(Olpah Sari).
