Belajar Tanpa Dinding, Semangat Kebangsaan Tak Pernah Runtuh
Salah kelas Game yang dipandu anggota Sujarwanto. membuat suasana kelas menjadi seru dan ramai. (Foto - Risanta).
Keterbatasan fasilitas ternyata tidak mampu membatasi semangat belajar para siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pangeran Moehammad Noor, Pelambuan, Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin.
Di tengah kondisi sekolah yang masih jauh dari kata ideal, ratusan siswa tetap menunjukkan antusiasme luar biasa saat mengikuti sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang digelar dalam suasana sederhanadi ruang kelas tanpa dinding.
Pemandangan itu menghadirkan ironi sekaligus harapan. Di saat banyak sekolah telah memiliki aula representatif dan fasilitas pembelajaran yang lengkap, MTs Pangeran Moehammad Noor justru harus memanfaatkan ruang kelas yang belum selesai dibangun untuk menggelar kegiatan penting.
Bangunan sederhana tanpa sekat permanen itu menjadi saksi semangat para siswa dalam menimba ilmu dan memperkuat wawasan kebangsaan.
Tak ada pendingin ruangan. Tak ada aula besar. Bahkan sebagian bangunan tampak belum sepenuhnya rampung.
Keterbatasan biaya pembangunan membuat pihak sekolah belum mampu menyelesaikan ruang belajar maupun menyediakan fasilitas pertemuan yang layak.

Kondisi tersebut juga diperparah dengan minimnya anggaran untuk melanjutkan pembangunan dan membayar jasa tukang.
Namun, di balik keterbatasan itu, tersimpan pemandangan yang menyentuh hati. Para siswa duduk dengan tertib, memperhatikan setiap pemaparan yang disampaikan para narasumber.
Tidak terlihat keluhan. Tidak ada tanda kehilangan semangat. Justru yang tampak adalah wajah-wajah penuh rasa ingin tahu, semangat belajar, dan keinginan memahami nilai-nilai kebangsaan.
Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan tersebut menghadirkan narasumber dari pemerintah daerah dan tokoh pendidikan wawasan kebangsaan.
Materi disampaikan oleh Lukman Fadlun, Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Setda Kota Banjarmasin, bersama Bambang Budiyanto dan Ali Alguhum dari Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Banjarmasin.
Dalam pemaparannya, para narasumber mengajak siswa memahami pentingnya nilai-nilai kebangsaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Empat pilar yang menjadi materi utama meliputi Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu keberagaman bangsa.
Meski kegiatan berlangsung dalam ruang yang jauh dari sempurna, suasana belajar tetap terasa hidup. Sesekali para siswa mengajukan pertanyaan, menyimak penjelasan dengan saksama, hingga mengikuti sesi diskusi dengan penuh perhatian.
Semangat mereka menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan sejatinya tidak selalu ditentukan oleh megahnya bangunan, tetapi oleh besarnya tekad untuk belajar.
“Alhamdulillah, meskipun deburan kipasan angin harus berbagi dengan teman-teman lainya.Bagi kami tak mengapa yang penting kami mendapat ilmu luar biasa di kelas sederhana ini,” ujar Rifky, salah satu siswa yang ikut Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, yang digagas Badan Kesbangpol Banjarmasin dan PPWK, Senin (18/05/2026).
Kondisi MTs Pangeran Moehammad Noor sekaligus menjadi refleksi bahwa masih ada sekolah-sekolah yang berjuang di tengah keterbatasan sarana pendidikan.
Di balik dinding yang belum berdiri, terdapat mimpi-mimpi besar para siswa yang tetap tumbuh. Mereka datang ke sekolah dengan harapan sederhana, mendapatkan pendidikan yang layak dan masa depan yang lebih baik.
“Ini menyentuh banget, barangkali ini pengalaman mengharukan saat kami sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan.Bayangkan kelas tanpa dinding, mereka tetap bersemangat menimba ilmu di suasana begitu, “ tutur Bambang Budiyanto, Ketua PPWK Banjarmasin.

Momentum sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan ini pun terasa lebih bermakna. Sebab nilai tentang persatuan, gotong royong, dan kecintaan terhadap bangsa tidak hanya dipelajari melalui teori, tetapi juga tercermin dalam perjuangan nyata sebuah sekolah yang terus bertahan di tengah keterbatasan.
Di ruang kelas tanpa dinding itu, semangat kebangsaan justru terasa berdiri kokoh. Mengingatkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar, dan bahwa cinta terhadap negeri bisa tumbuh bahkan dari ruang-ruang sederhana yang belum selesai dibangun.
“Barangkali ini yang luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat lain, di ujung Gang Perjuangan, Pelambuan ini, ada Tsanawiyah yang masih terbatas kondisi.Namun yang membuat haru semangat anak-anak ini dan tetap bertahan hingga akhir belajar 4 Pilar kebangsaan,” kata Sujarwanto, guru olahraga sekolah tersebut.(M.Irfani).
