Belajar Menulis Berita dengan Cara Sederhana
Memahami Straight News dan Feature dengan Bahasa yang Mudah Dicerna
Oleh : Muhammad Risanta
Banyak orang membayangkan menulis berita sebagai pekerjaan rumit. Harus serius, penuh istilah jurnalistik, dan hanya bisa dilakukan mereka yang bekerja di media besar.
Padahal sesungguhnya, menulis berita tidak serumit yang dibayangkan. Pada dasarnya, jurnalistik hanyalah seni menyampaikan fakta dengan cara yang tepat agar mudah dipahami orang lain.
Masalahnya kemudian bukan sekadar apa yang ditulis, melainkan bagaimana cara menceritakannya.
Dalam dunia jurnalistik, ada dua gaya menulis yang paling sering digunakan wartawan, yakni straight news dan feature. Keduanya lahir dari fakta yang sama, sama-sama membutuhkan wawancara, observasi, dan data yang akurat.
Namun cara menyajikannya berbeda. Bila diibaratkan perjalanan, straight news seperti kendaraan cepat yang langsung melaju menuju tujuan.
Sementara feature menyerupai perjalanan santai yang mengajak pembaca menikmati pemandangan, berhenti sejenak di tikungan cerita, lalu memahami makna di balik perjalanan itu.
Straight news biasanya hadir ketika sebuah peristiwa membutuhkan kecepatan.
Ketika kebakaran terjadi, banjir melanda, pejabat meluncurkan kebijakan baru, atau sebuah keputusan penting diumumkan, pembaca tentu tidak punya banyak waktu. Mereka ingin segera tahu apa yang terjadi.
Pada posisi ini straight news mengambil peran. Ibarat seorang pembicara ia hadir lugas, cepat, dan langsung menuju inti persoalan. Tidak banyak basa-basi, tidak berputar-putar.
Bayangkan suatu pagi sebuah pasar tradisional di Banjarmasin terbakar. Dalam situasi seperti itu, orang tidak sedang mencari kisah panjang. Mereka ingin tahu apa yang terjadi, di mana lokasinya, apakah ada korban, dan bagaimana dampaknya.
Karena itulah wartawan biasanya langsung menulis inti informasi di paragraf paling awal. Dalam jurnalistik, pola ini dikenal sebagai piramida terbalik.
Informasi paling penting ditempatkan di bagian atas, lalu disusul detail tambahan di bawahnya.
Sederhananya, straight news mengutamakan kecepatan dan ketepatan.
Tulisan model ini biasanya menjawab pertanyaan dasar dalam jurnalistik tentang siapa yang terlibat, apa yang terjadi, kapan berlangsung, di mana lokasi kejadian, mengapa terjadi, serta bagaimana prosesnya.
Semua unsur itu sebisa mungkin sudah terjawab sejak awal tulisan agar pembaca langsung memahami inti persoalan.
Misalnya begini.
Kebakaran menghanguskan lima rumah warga di kawasan Jalan Veteran Banjarmasin pada Selasa dini hari. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Hanya dalam satu paragraf, pembaca langsung memahami pokok persoalan. Tidak perlu menebak-nebak.
Itulah kekuatan straight news. Cepat, ringkas, dan efisien.
Namun jurnalistik tidak selalu berbicara soal kecepatan. Ada kalanya sebuah peristiwa membutuhkan ruang yang lebih luas untuk diceritakan. Ada kisah-kisah yang terlalu sayang bila hanya berhenti pada angka, data, atau informasi singkat.
Makanya tulisan feature menjadi jembatan lain menyampaikan informasi yang ditulis lebih.
Feature lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan sisi manusia dalam sebuah peristiwa. Ia bukan sekadar memberitahu pembaca tentang apa yang terjadi, tetapi mengajak mereka ikut merasakan.
Feature lebih dekat pada seni bertutur.
Bayangkan seorang ibu penjual kue tradisional di sudut pasar sejumput di Pekapuran Raya yang setiap hari bangun pukul tiga pagi demi membiayai kuliah anaknya. Jika ditulis dengan straight news, mungkin hanya menjadi berita pendek tentang seorang pelaku usaha kecil yang berhasil menyekolahkan anak.
Namun lewat feature, cerita itu berubah menjadi lebih hidup dan mungkin menggugah perasaan pembaca.
Pembaca diajak masuk ke dapur kecilnya, mencium aroma santan yang mengepul sejak dini hari, melihat jemarinya sibuk membungkus kue, hingga merasakan harapan sederhana seorang ibu yang ingin anaknya hidup lebih baik daripada dirinya.
Itulsah Feature yang dikatakan memang tidak tergesa-gesa.
Ia menikmati cerita.
Kadang tulisan dibuka dengan suasana, dialog, bahkan detail kecil yang tampak sederhana tetapi menyimpan makna mendalam.
Misalnya seperti ini.
Langit masih gelap ketika lampu dapur kecil itu menyala. Di atas tungku sederhana, panci besar mulai mengepulkan aroma gula merah dan santan. Di sudut ruangan, Siti Rahmah tersenyum kecil sambil membaca pesan singkat dari anaknya di Yogyakarta. “Bu, doakan ujian hari ini lancar.”
Barangkali pembaca belum langsung tahu inti ceritanya. Namun rasa penasaran muncul. Mereka ingin terus membaca.
Siapa perempuan ini. Mengapa ia begitu gigih. Apa yang sedang diperjuangkannya.
Begitulah feature bekerja. Ia memancing rasa ingin tahu, membangun emosi, lalu perlahan membawa pembaca masuk ke inti cerita.
Jika straight news membuat orang tahu, maka feature membuat orang merasa.
Lalu kapan harus memakai straight news dan kapan memilih feature.
Jawabannya sebenarnya sederhana.
Jika peristiwanya mendesak, aktual, dan harus segera diketahui publik, gunakan straight news. Peristiwa seperti kebijakan pemerintah, kecelakaan, kriminalitas, rapat penting, atau bencana alam lebih tepat ditulis secara langsung dan lugas.
Namun bila sebuah cerita memiliki sisi manusia yang kuat, menyimpan inspirasi, atau menghadirkan emosi yang layak dirasakan pembaca, maka feature menjadi pilihan terbaik.
Tulisan tentang perjuangan UMKM perempuan, kisah tokoh inspiratif, perjalanan wisata, pendidikan, hingga kehidupan masyarakat kecil sering kali terasa lebih kuat jika disampaikan lewat pendekatan feature.
Meski berbeda, keduanya tidak saling menggantikan. Straight news dan feature justru saling melengkapi. Wartawan yang baik adalah mereka yang mampu bergerak cepat ketika situasi membutuhkan kecepatan, tetapi juga mampu melambat ketika cerita membutuhkan rasa.
Karena tidak semua peristiwa cukup disampaikan dengan angka dan data. Ada cerita-cerita yang memerlukan hati agar benar-benar sampai kepada pembaca.
Sekali lagi sejatinya menulis bukan semata perkara bakat. Menulis adalah soal kepekaan.
Kepekaan melihat kehidupan, mendengar cerita orang lain, menangkap detail kecil yang sering terlewat, lalu merangkainya menjadi kisah yang bermakna.
Sebab sesungguhnya berita ada di mana-mana. Di pasar, di sekolah, di kantor pemerintahan, di warung kopi, bahkan di meja makan rumah sendiri.
Tinggal bagaimana kita memilih cara menceritakannya.
Karena kami pribadi selalu percaya, tulisan yang baik bukan hanya membuat orang membaca sampai akhir, melainkan membuat mereka berhenti sejenak lalu berkata dalam hati, “Saya paham sekarang.”
*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia & Ahli Pers Dewan Pers.

