Dari Kelayan ke Balai Kota Banjarmasin

0
MACHLI KELAYAN OKE UTAMA

Kisah Inspiratif Machli Riyadi Dari Balai Kota

Ada kisah-kisah yang tumbuh tidak dengan gegap gempita, melainkan dari lorong sunyi kehidupan.

Kisah yang tidak lahir dari privilese, bukan pula dibangun oleh sorotan panggung kekuasaan. Ia tumbuh pelan, ditempa waktu, dibesarkan oleh kesederhanaan, lalu menemukan jalannya sendiri menuju tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Tiga puluh tahun silam, publik Banjarmasin tentu tak banyak mengenal nama Machli Riyadi. Di sudut kawasan Kelayan A Dalam,Banjarmasin sebuah wilayah yang akrab dengan denyut kehidupan masyarakat sederhana, ia hanyalah seorang remaja biasa.

Tidak lahir dari keluarga berada, tidak pula datang dari lingkar elite birokrasi. Yang ia punya saat itu hanya satu, yakni kemauan untuk terus berjalan.

Di usia muda, ketika sebagian anak seusianya masih sibuk memikirkan masa depan, Machli justru sudah belajar memahami arti perjuangan. Hidup mengajarkannya satu hal penting. tidak semua orang diberi kemewahan untuk hanya belajar. Sebagian harus belajar sambil bekerja.

Berangkat dari keluarga sederhana, ia memilih membantu meringankan beban orang tua. Pilihan itu tidak mudah, tetapi justru dari sanalah watak hidupnya terbentuk, sebagai sosok bekerja keras tanpa banyak mengeluh.

Namun, seperti banyak kisah tentang orang-orang yang tumbuh besar dari keterbatasan, keadaan tidak pernah benar-benar mampu membatasi mimpi.

Machli dikenal sebagai anak muda dengan kemampuan akademik yang baik, otak encer, tekun, dan haus belajar. Ia menempuh pendidikan hingga menjadi tenaga kesehatan profesional, sebuah jalan hidup yang kala itu lebih dekat pada pengabdian ketimbang kemapanan.

 

Saat jadi Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Machli Riyadi memberikan presentasi dalam sebuah acara.(Foto – Dok Pribadi).

Kariernya pun benar-benar dimulai dari bawah.

Sebelum mengenakan pakaian birokrasi, ia terlebih dahulu mengenakan seragam pengabdian. Di Kelayan A, Machli pernah membuka praktik kesehatan melalui sebuah klinik sederhana bernama Asyifa.

Ia menjadi mantri kesehatan, profesi yang mungkin kini mulai jarang terdengar, tetapi dahulu begitu dekat dengan denyut kehidupan masyarakat kecil.

Di ruang praktik sederhana itu, ia tak sekadar memberi layanan medis. Ada banyak cerita kemanusiaan yang tumbuh di sana. Pasien datang bukan hanya membawa sakit, tetapi juga kesulitan ekonomi. Dan sering kali, biaya bukanlah hal utama baginya.

Bagi warga yang tak mampu, pelayanan tetap diberikan. Kadang tanpa tarif. Kadang cukup dengan ucapan terima kasih.

Mungkin di titik itulah publik mulai bisa membaca karakter seorang Machli Riyadi, bahwa kerja bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian.

Hidup, pada akhirnya, selalu memberi ruang kepada mereka yang bersungguh-sungguh. Perlahan, perjalanan membawanya masuk ke dunia Aparatur Sipil Negara (ASN). Tidak instan. Tidak pula meloncat. Semua dijalani tahap demi tahap.

Yang menarik, perjalanan itu dilakukan hampir tanpa gaduh. Senyap. Nyaris tanpa sensasi.

Di tengah kesibukan bekerja, Machli tetap menjaga satu kebiasaan lama, membaca dan belajar. Barangkali karena ia memahami betul bahwa latar belakang sederhana hanya bisa dilampaui dengan ilmu pengetahuan.

Kesungguhan itu mengantarnya meraih gelar doktor, sebuah capaian yang tidak mudah, terlebih ketika dirinya masih aktif bekerja di RSUD Ulin, rumah sakit terbesar di Kalimantan Selatan.

Di sana ia pernah dipercaya sebagai humas,posisi yang mengasah kemampuannya membaca persoalan publik, membangun komunikasi, dan memahami kompleksitas birokrasi pelayanan.

Takdir kemudian membawanya lebih jauh.

 

Tenaga Perawat Banjarmasin yang bertugas di Jepang, dikunjungi Delegasi Pemko Banjarmasin, Dr Machli Riyadi dan Dr Ramadhan.

Ia merapat ke Pemerintah Kota Banjarmasin. Jejak kariernya terus bertumbuh mulai sebagai Kepala Dinas Kesehatan, kemudian dipercaya menjadi Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Banjarmasin, hingga memimpin Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin.

Jabatan demi jabatan datang bukan semata karena ambisi, melainkan karena rekam kerja yang perlahan berbicara sendiri.

Kini, jalan itu tampaknya membawanya ke satu titik penting kursi Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin.

Banyak yang menyebut namanya sebagai salah satu kandidat terkuat. Dukungan publik mulai mengalir. Harapan ikut tumbuh. Tetapi di balik semua itu, ada satu pesan yang terasa lebih penting daripada sekadar peluang jabatan.

Bahwa birokrasi tidak selalu harus lahir dari orang-orang besar.

Kadang, ia datang dari gang kecil di Kelayan. Dari anak kampung yang tumbuh dalam keterbatasan. Dari seseorang yang memahami arti antre di puskesmas, mahalnya biaya hidup, hingga sulitnya mencari pekerjaan.

Barangkali karena itu kisah Machli Riyadi terasa relevan untuk dibaca hari ini. Di tengah krisis keteladanan dan jarak yang kadang terlalu jauh antara pejabat dan rakyat, masyarakat merindukan figur yang mengerti kehidupan dari bawah bukan sekadar memahami laporan di atas meja.

Ketika ditanya tentang perjalanan hidupnya, Machli menjawab dengan sederhana.

“Apa yang kami lakukan hanyalah sebuah pengabdian. Memang kami bukan siapa-siapa, namun setidaknya orang kampung bisa juga untuk berkarya dan memberikan manfaat kepada masyarakat.”

Kalimat itu terdengar biasa saja. Tetapi justru kesederhanaannya menyimpan kekuatan.

Sebab pada akhirnya, jabatan hanyalah tempat singgah. Yang abadi adalah manfaat yang ditinggalkan.

Dan jika benar langkahnya tinggal selangkah lagi menuju Balai Kota sebagai Sekda, maka kisah ini mungkin bukan sekadar tentang seorang pejabat yang naik jabatan.

Melainkan tentang kemungkinan.

Bahwa anak kampung dari Kelayan pun bisa tumbuh, belajar, jatuh bangun, lalu berdiri di ambang salah satu kursi paling strategis di kota ini.

Sebuah pengingat kecil bagi siapa saja mimpi tidak selalu lahir dari tempat yang besar. Kadang ia justru tumbuh dari rumah sederhana, dari gang sempit, dari kerja keras yang dilakukan diam-diam hingga suatu hari, sejarah mengetuk pintu.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!