Rupiah Tersungkur, Pasar Berguncang, BEI Tancap Gas
Foto Ilustrasi - Dok Olpah Sari.
Luncurkan ETF Emas dan Bersih-Bersih Bursa
Tekanan geopolitik global dan melemahnya nilai tukar Rupiah masih menjadi tantangan utama bagi pasar modal Indonesia sepanjang paruh pertama 2026.
Kondisi tersebut membuat pergerakan bursa saham cukup fluktuatif, bahkan mendorong investor asing melakukan aksi jual dalam jumlah besar.
Namun di tengah tekanan itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) justru menyiapkan sejumlah langkah strategis. Mulai dari peluncuran ETF Emas hingga pembenahan aturan pasar agar lebih sehat dan transparan.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan BEI Kalimantan Selatan, Yuniar, dalam Workshop Wartawan Daerah 2026 di Banjarmasin, Rabu (29/04/2026).
Yuniar mengatakan, tahun 2026 menjadi periode yang cukup menantang bagi pasar saham. Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik membuat investor cenderung berhati-hati.
Di saat bersamaan, Rupiah juga melemah hingga menyentuh Rp17.205 per Dolar AS.
Kondisi itu memberi tekanan ke pasar saham nasional, termasuk saham-saham berkapitalisasi besar.
“Gerakan pasar tahun ini sangat dinamis. Bahkan beberapa saham besar sempat kembali ke level harga saat masa pandemi,” ujar Yuniar.
Per 24 April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 4,76 persen secara year to date (YTD).
Meski pasar bergerak penuh tekanan, minat masyarakat terhadap investasi justru terus tumbuh. Hingga April 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 26,12 juta investor.
Saat ini terdapat 957 perusahaan tercatat di BEI. Menariknya, sebagian besar investor baru berasal dari kelompok usia muda.
Menurut Yuniar, hal itu menjadi sinyal positif karena generasi muda berpotensi menjadi kekuatan utama pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

ETF Emas Segera Hadir
Untuk memberi pilihan investasi yang lebih beragam, BEI juga tengah menyiapkan peluncuran ETF Emas yang ditargetkan hadir pada Juni atau Juli 2026.
Produk ini menggunakan emas fisik sebagai dasar investasi, baik standar internasional LBMA maupun standar nasional SNI.
Karena berbasis emas fisik, ETF ini juga masuk kategori investasi syariah dan telah mengantongi fatwa dari DSN-MUI.
BEI menggandeng sejumlah pihak dalam ekosistem bullion nasional, di antaranya Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI).
“Ini produk menarik karena dijamin emas fisik dan sesuai prinsip syariah,” jelas Yuniar.
Produk ini juga dirancang terjangkau bagi investor ritel, dengan skema 1 lot berisi 100 unit penyertaan.
Selain menghadirkan produk baru, BEI juga memperketat aturan bagi perusahaan tercatat. Salah satunya menaikkan batas minimal saham yang beredar di publik (free float) dari 5 persen menjadi 15 persen.
Langkah ini dilakukan agar perdagangan saham lebih likuid dan transparan.
“Jangan kaget jika ada emiten yang berpotensi delisting karena tidak memenuhi syarat baru,” kata Yuniar dalam sesi wawancara khusus.
BEI memberi waktu penyesuaian hingga 2027 untuk emiten kecil dan 2029 bagi perusahaan berkapitalisasi besar.
Di tengah tekanan global, langkah BEI menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tidak tinggal diam. Saat situasi eksternal belum menentu, bursa justru bergerak memperkuat fondasi.
ETF Emas menjadi opsi aman saat gejolak meningkat, sementara aturan baru diharapkan membuat pasar lebih sehat dan dipercaya investor.
Pemerhati Masalah Ekonomi Syahrianto Ruslan menilai langkah BEI sangat tepat, terukur, dan tetap mengedepankan kehati-hatian.
Kebijakan tersebut dinilai mencerminkan kedewasaan berpikir regulator dalam membaca situasi pasar yang penuh tekanan, tanpa kehilangan arah untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.
“Singkatnya, saat badai datang, BEI memilih berbenah sambil menyiapkan arah baru pertumbuhan,” ucap Syahri. (Olpah Sari).
