Bank Kalsel Penjaga Marwah Ekonomi Digital Banua

0
BANK KALSEL QRIS

Foto Ilustrasi - Dok Economic Travelling.Com.

Oleh: Muhammad Risanta

Digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan atau pemanis dalam laporan tahunan, melainkan urat nadi baru bagi ketahanan ekonomi daerah.

Dalam peta jalan digitalisasi Kalimantan Selatan, Bank Kalsel berdiri di garda terdepan sebagai fasilitator utama sekaligus jangkar yang menjaga stabilitas transisi dari budaya tunai ke ekonomi digital.

Sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Kalsel mengemban tanggung jawab yang jauh melampaui fungsi intermediasi perbankan konvensional.

Bank Kebanggaan Banua ini adalah mesin penggerak yang memastikan setiap roda birokrasi dan ekonomi kerakyatan bergerak selaras dalam ekosistem nontunai.

Sentralitas peran Bank Kalsel terlihat nyata dalam upaya percepatan implementasi Kartu Kredit Indonesia (KKI) di lingkup Pemerintah Daerah. Bank Kalsel memegang kendali teknis untuk memastikan integrasi antara Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) dengan kanal pembayaran digital berjalan tanpa celah.

Keandalan sistem yang dibangun Bank Kalsel menjadi kunci untuk menghapus keraguan teknis yang selama ini menjadi alasan klasik Pemda menunda penggunaan KKI.

Tanpa kesiapan infrastruktur yang mumpuni dari bank daerah, instruksi gubernur mengenai transparansi belanja daerah melalui KKI hanya akan berakhir menjadi dokumen di atas meja tanpa eksekusi nyata.

 

Karikatur Ilustrasi – Dok Tim Redaksi.

Urgensi transformasi ini semakin mendesak jika menilik pertumbuhan digital yang impresif. Berdasarkan catatan kinerja terakhir, Bank Kalsel telah berhasil mengakuisisi lebih dari 25.000 merchant QRIS.

Secara makro, Kalimantan Selatan seperti dilansir interactiv Tecnologies.Corp, mencatatkan lonjakan transaksi QRIS yang luar biasa, mencapai hampir 37 juta transaksi hingga Agustus 2025—naik 67,21% secara tahunan.

Bank Kalsel, melalui aplikasi mobile banking “Aksel”, menjadi motor utama dengan dukungan basis pengguna QRIS di tingkat provinsi yang kini menyentuh hampir 779.000 orang.

Namun, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mengejar angka, melainkan bagaimana melakukan penetrasi agresif hingga ke pelosok pasar tradisional guna menjemput bola utilisasi di akar rumput.

Efisiensi digital ini terbukti menjadi “mesin uang” baru bagi stabilitas perbankan daerah. Bank Kalsel mampu menjaga rasio beban operasional (BOPO) di level yang sehat, sekitar 80,34% per Juni 2025, yang mencerminkan peningkatan efisiensi bisnis.

Dampaknya terlihat langsung pada profitabilitas; aset Bank Kalsel tumbuh konsisten mencapai Rp35,36 triliun pada triwulan III 2025, dengan laba bersih yang melesat tumbuh 31,96% (yoy).

Lagi-lagi angka ini bukan sekadar statistik, melainkan modalitas kuat bagi Bank Kalsel untuk terus berekspansi menjadi Bank Devisa dan memperkuat struktur permodalannya di masa depan (sumber infobanknews).

 

Foto-Humas Bank Kalsel.

Keberhasilan digitalisasi di Kalimantan Selatan secara fundamental bergantung pada sejauh mana Bank Kalsel mampu memberikan rasa aman dan kemudahan akses.

Bank daerah harus mampu menjawab keraguan masyarakat di pasar-rakyat melalui ketersediaan jaringan yang stabil dan layanan inklusif bagi seluruh lapisan, termasuk ASN sebagai motor penggerak birokrasi.

Kehadiran Bank Kalsel di setiap sendi transaksi daerah adalah jaminan bahwa digitalisasi bukan sekadar memindahkan angka di layar, melainkan upaya konkret menutup celah kebocoran anggaran dan mempercepat perputaran uang di masyarakat.

Karenannya peran Bank Kalsel sebagai jangkar transformasi adalah tentang membangun kepercayaan.

Ketika Bank Kalsel mampu membuktikan bahwa sistem digitalnya andal, efisien, dan transparan, maka resistensi terhadap perubahan akan runtuh dengan sendirinya.

Bank Kalsel tidak hanya sedang membangun sistem perbankan, tetapi sedang membangun peradaban ekonomi baru bagi Kalimantan Selatan yang lebih akuntabel dan berdaya saing global.

Penulis adalah Jurnalis CNN Indonesia & Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!