Kisah Inspirasi Yoni Setiawan, Revolusi Sunyi dari Sampah Rumah Tangga
Pagi belum sepenuhnya matang ketika Yoni Setiawan sudah berjalan menyusuri gang sempit di wilayahnya.
Di tangannya, bukan map administrasi atau stempel jabatan, melainkan kantong-kantong sampah yang ia jemput satu per satu dari rumah warga.
Pria yang dikenal humble dan ramah ini menyebutnya sederhana sedekah sampah.
Tak banyak ketua RT yang memulai hari dengan cara seperti itu. Namun di lingkungan kecil itu, Yoni perlahan mengubah sesuatu yang selama ini dianggap sepele yakni sampah menjadi pusat gerakan sosial.
Yoni tidak datang dengan pidato panjang atau instruksi kaku, melainkan dengan teladan yang dilakukan berulang. Sering kali ia mengetuk pintu, menyapa, lalu mengambil sampah yang sudah dipilah.
Dari situ, percakapan dimulai. Kesadaran pun tumbuh berlahan seiring waktu.
“Sampah itu bukan masalah, kalau kita tahu cara memperlakukannya,” begitu prinsip yang ia jalankan.

Dari langkah kecil itu lahir program yang kini dikenal warga sebagai MARKISA (Mari Kita Sedekah Sampah). Program ini bukan sekadar soal kebersihan.
Program sederhana di kampung ini menjelma menjadi ekosistem sosial, sampah yang terkumpul diolah, lalu nilainya dikembalikan untuk membantu warga yang membutuhkan.
“Insya Allah ada aliran manfaat yang terus berputar, dari rumah ke rumah, dari limbah menjadi berkah,” tuturnya saat menerima Tim Economic Travelling.Com di rumahnya di Landasan Ulin, Banjarbaru.
Yoni sendiri tidak berhenti pada pengumpulan. Ia memahami bahwa inti persoalan ada di sumbernya adalah dapur rumah tangga. Di kampung sederhana di kawasan Banjarbaru, perubahan harus dimulai dari sana.
Dengan Program Suster Santi, ia memperkenalkan inovasi sederhana namun berdampak besar sumur komposter sanitasi. Sebuah lubang pengolah sampah organik yang tidak berbau, tidak mengganggu, dan dapat langsung dimanfaatkan warga.
Teknologi kecil, tetapi menjawab persoalan besar, bagaimana mengolah sampah tanpa harus menunggu sistem kota yang sering kali berjalan lambat.
Puluhan hingga ratusan rumah tangga kemudian diajak masuk dalam program Zero Waste. Tidak ada paksaan. Tidak ada sanksi. Yang ada hanyalah pendekatan persuasif obrolan ringan, contoh nyata, dan konsistensi.
Warga pun mulai memilah sampah dari dapur organik, anorganik, dan residu. Hal yang dulu terasa merepotkan, kini berubah menjadi kebiasaan.
Di balik itu, sistem dibangun dengan rapi. Empat metode dijalankan secara bersamaan:
Lubang biopori untuk resapan alami
Tong komposter untuk sampah organik
Budidaya maggot sebagai pengurai sekaligus sumber ekonomi
Pemilahan sampah anorganik untuk didaur ulang
Hasilnya terasa, bukan sekadar terlihat.

“Tumpukan sampah berkurang drastis. Lingkungan menjadi lebih bersih, udara lebih segar. Yang lebih penting, cara pandang warga berubah. Sampah tidak lagi dibuang begitu saja, tetapi dipikirkan, dipilah, dan dimanfaatkan,” ucapnya bersyukur.
Perubahan ini tidak datang secara instan. Yoni mengasah gagasannya melalui berbagai studi tiru ke Yogyakarta dan Jakarta. Ia menyerap praktik terbaik, lalu membumikan konsep tersebut sesuai dengan kondisi kampungnya. Ia tidak menyalin mentah-mentah, melainkan menerjemahkan.
Di lapangan, Program Suster Santi menjadi penguat. Kolaborasi ini menciptakan keseimbangan antara pendekatan teknis dan sosial antara sistem dan sentuhan kemanusiaan.
Menariknya, di balik perannya sebagai penggerak lingkungan, Yoni adalah sosok yang sederhana. Sehari-hari, ia bekerja sebagai tukang ledeng di perusahaan air minum di Banjarmasin. Di sela kesibukannya, ia juga tengah menimba ilmu manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pancasetia.
Baginya, perubahan tidak membutuhkan posisi tinggi cukup kemauan untuk bergerak.
Kini, yang dibangun Yoni bukan sekadar program lingkungan. Ia sedang membentuk budaya.
Di tengah kota-kota yang masih bergulat dengan persoalan sampah, kisah ini menjadi semacam anomali,sunyi, tetapi bekerja.
Tidak ada proyek besar. Tidak ada anggaran miliaran. Yang ada hanyalah konsistensi, keteladanan, dan keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari lingkup terkecil.
Dari sebuah RT. Dan dari seorang ketua RT yang memilih turun tangan, alih-alih sekadar memberi arahan.
“Jangan pernah berhenti berbuat baik. Sederhana saja, kita mulai dari mengelola sampah,” kata Yoni. (M.Irfani).
