Bahrul Ilmi Gaspol Tangani Sampah Batola

0
KERJASAMA SAMPAH

Bupati H. Bahrul Ilmi bersama Bupati Banjar H Saidi Mansur, Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR serta Staf Khusus Kementerian Lingkungan Hidup, Hanifah Dwi Nirwana dalam penandatanganan kerja sama pembangunan PSEL Aglomerasi Banjarmasin Raya, yang digelar di Gedung Idham Chalid, Banjarbaru ,Kamis (09/04/2026). (Foto - Dok Diskomifo Batola).

Batola Masuk Skema Proyek Energi 30 Tahun

Persoalan sampah tak lagi diperlakukan sebagai urusan rutin di Barito Kuala.

Bupati H. Bahrul Ilmi mulai mendorong penanganan yang lebih serius dan terstruktur dengan masuk ke proyek pengolahan sampah berbasis energi listrik (PSEL) skala regional.

Komitmen itu terlihat saat Bahrul Ilmi hadir dalam penandatanganan kerja sama pembangunan PSEL Aglomerasi Banjarmasin Raya, yang digelar di Gedung Idham Chalid, Banjarbaru,Kamis (09/04/2026).

Proyek ini mengintegrasikan tiga wilayah sekaligus—Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Barito Kuala,dalam satu sistem pengolahan sampah jangka panjang.

Langkah ini menandai pergeseran pendekatan dari sekadar angkut-buang menjadi pengelolaan berbasis teknologi dan energi.

Bagi Barito Kuala, keterlibatan dalam proyek ini bukan pilihan tambahan, melainkan tekanan untuk berbenah dari hulu ke hilir,mulai dari ketersediaan lahan hingga kepastian pasokan sampah.

Staf Khusus Kementerian Lingkungan Hidup, Hanifah Dwi Nirwana, menegaskan bahwa keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi pada kesiapan daerah menjalankan komitmen secara konsisten.

“Daerah harus memastikan pasokan sampah, kesiapan lahan, dan dukungan pengelolaannya. Ini program jangka panjang, sekitar 30 tahun, jadi harus masuk dalam perencanaan daerah,” ujarnya.

Di titik ini, keseriusan pemerintah daerah mulai diuji. PSEL bukan proyek instan ia menuntut disiplin kebijakan lintas tahun, bahkan lintas kepemimpinan.

Bahrul Ilmi menyadari hal tersebut. Ia menempatkan kerja sama ini sebagai fondasi solusi jangka panjang, bukan sekadar proyek simbolik.

“Ini bagian dari upaya penanggulangan sampah yang lebih terarah. Harapannya, pembangunan pengolahan sampah menjadi energi ini benar-benar terwujud dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Dengan masuknya Barito Kuala dalam skema PSEL regional, ruang kompromi terhadap masalah sampah semakin sempit. Targetnya jelas mengurangi beban lingkungan sekaligus mengubah sampah menjadi sumber energi.(Olpah Sari).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!