DIANA DAN ENDY LEBARAN DI KANDANGAN

Foto Ilustrasi - Suasana lebaran di salah satu keluarga di Kota Kandangan. (Foto - Risanta).

Lebaran selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang. Begitu kata indah para penyair yang mengungkapkan pikirannya dalam tulisan.

Ia tidak hanya hadir dalam gema takbir yang menggetarkan langit malam, tetapi juga dalam langkah-langkah kecil yang kembali menapaki tanah asal kampung halaman, tempat segala kenangan berakar.

Di kampung kami, Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan peristiwa batin. Bagi kami pribadi berdarah peranakan Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Selatan ini adalah diam sejenak dari riuh dunia luar, tempat waktu seolah melambat agar setiap pertemuan terasa lebih utuh.

Sejatinya memang di sanalah rindu yang lama dipendam akhirnya menemukan bentuknya, dalam pelukan orang tua, tawa saudara, dan sapa hangat tetangga yang tak pernah benar-benar berubah.Meskipun saat ini kedua orangtua kami sudah tiada, namun setidaknya jejak sejarah kampungnya tetap kami pegang dalam rindu di dalam memori.

Tradisi mudik menjadi pintu awal dari semua itu. Perjalanan panjang, lelah, bahkan macet yang mengular, tak lagi terasa berarti ketika disambut oleh hamparan sawah, udara yang lebih jernih, dan wajah-wajah yang menunggu di beranda rumah.

Kampung bukan hanya ruang geografis, ia adalah ingatan kolektif yang terus hidup, memanggil siapa saja untuk kembali.Terlebih ini juga dirasakan suami yang berdarah Kandangan dan Nagara, Hulu Sungai Selatan.

 

Sepupu Kami Yudhi bersama istri, yang sempat merasakan lebaran di berbagai kota di Indonesia , karena bertugas sebagai salah satu abdi negara. Namun tahun ini berlebaran di kampung halaman.

Di dapur-dapur sederhana, kehangatan lain tercipta. Ketupat direbus dalam panci besar, opor ayam dimasak perlahan dengan bumbu yang diwariskan turun-temurun, dan aneka kue tradisional tersusun rapi di meja tamu.

Aroma itu bukan sekadar menggugah selera, tetapi juga membangkitkan kenangan, bagaimana kenangan masa kecil yang penuh tawa, tentang tangan ibu yang tak pernah lelah menyiapkan segalanya.

Halal bihalal menjadi puncak dari perjalanan batin itu. Saling memaafkan, berjabat tangan, menundukkan ego, semua menyatu dalam suasana haru yang tulus. Di momen itulah, manusia kembali pada fitrahnya, membersihkan hati dari beban yang mungkin tak pernah terucap sepanjang tahun.

Bagi keluarga kami, Lebaran selalu bermuara pada dua simpul penting, Kandangan dan Amuntai. Dua kota kecil di Kalimantan Selatan yang menjadi pengikat darah dan kenangan.

Di Kandangan, rumah abah dan padatuan menjadi titik temu, meskipun sekarang hanya tersisa tanah-tanah semata karena bangunannya sudah hilang dimakan usia zaman. Dari sanalah cerita-cerita lama kembali dihidupkan, dan generasi baru diperkenalkan pada akar mereka, mereka zuriatnya orang sini, kepada anak-anak kami.

Malam menjelang Lebaran di Kandangan selalu punya denyutnya sendiri. Warga berbondong-bondong memenuhi pusat kota, menyaksikan tradisi turun-temurun seperti Baarak Naga dan Halilipan sebuah pertunjukan budaya yang tak hanya memikat mata, tetapi juga mengikat identitas. Lampu-lampu tanglong berpendar, menghiasi malam Ramadan yang perlahan menutup dirinya. Di sudut lain, Kampung Kuliner dipadati manusia, menyatu dalam euforia malam kemenangan.

Namun, pagi setelahnya menghadirkan suasana yang berbeda. Pada hari pertama Lebaran, Kandangan seolah beristirahat. Pertokoan di “Kota Dodol” banyak yang tutup, jalanan lebih lengang, dan kehidupan berpusat di dalam rumah di ruang-ruang keluarga yang penuh tawa dan cerita.Kandangan memang menyimpan cerita kenangan indah.

 

Foto Ilustrasi –  (Foto – Risanta – Model : Diana & Endy).

Perjalanan lalu berlanjut ke Amuntai, kota yang tak kalah hangat dalam memeluk siapa pun yang datang. Di sana, Lebaran terasa hidup dengan cara yang sederhana. Jalan Bypass—yang akrab disebut “Jalan Tol Amuntai” menjadi tempat berkumpul, ruang publik yang menyatukan warga dalam suasana santai.

Sementara itu, Taman Putri Junjung Buih dipenuhi keluarga yang duduk di bawah rindang pohon, menikmati waktu tanpa tergesa.

Amuntai juga menghadirkan wajah religius yang kuat. Masjid-masjid menjadi pusat kegiatan sejak Ramadan hingga hari raya, menghidupkan tradisi keagamaan yang mengakar. Di tengah bentang rawa yang menjadi ciri khasnya, kota ini menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan, seolah mengajarkan bahwa kebahagiaan tak selalu harus riuh.

Lebaran di kampung kami adalah pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Karena  mempertemukan yang jauh menjadi dekat, yang lama menjadi baru, dan yang sederhana menjadi begitu berarti. Setiap sudutnya menyimpan cerita, setiap langkahnya menghidupkan kenangan.

Dan ketika semua usai, yang tersisa bukan hanya foto atau catatan perjalanan, melainkan rasa, tentang rasa pulang yang tak tergantikan. Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan tentang ke mana kita pergi, melainkan ke mana hati kita kembali.

Di kampung kami, Lebaran selalu menemukan rumahnya. Dan kedua kota ini, kami belajar bahwa kebahagiaan sejati sering kali hadir dalam bentuk yang paling sederhana kebersamaan.Minal Aidin Wal Faidzin. (Olpah Sari).

Olpah Sari – Jurnalis -Economic Travelling.Com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!