Jejak Lebaran di Negeri Orang
Dari Balik Kampung hingga Chand Raat
Pagi barusan, takbir berkumandang dalam aksen yang berbeda-beda. Di satu sudut dunia ia terdengar lirih dari balik jendela apartemen, di tempat lain menggema di lapangan luas yang dipenuhi ribuan manusia.
Namun di mana pun ia bergaung, ada satu rasa yang tak berubah. Sebuahkelegaan yang menjelma haru, seolah seluruh perjalanan batin selama Ramadhan menemukan muaranya.
Lebaran selalu punya cara untuk menemukan kita,bahkan ketika kita jauh dari rumah.
Di Asia Tenggara, suasana itu terasa begitu akrab. Di Malaysia dan Singapura, tradisi “balik kampung” menjadi denyut utama. Tim Economic Travelling.Com pun merasakan bagaimana denyut Kuala Lumpur dan beberapa kota di Malaysia.
Jalanan padat, pelukan menghangat, dan meja makan penuh oleh rendang, ketupat, serta cerita yang lama tertunda. Bagi perantau Indonesia, Lebaran di sini seperti potongan rumah yang tak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah tempat.

Di Turki, Lebaran atau Bayram, berjalan dengan ritme yang lembut. Anak-anak mengetuk pintu, menebar salam, dan pulang dengan saku penuh permen. Ada kesederhanaan yang terasa mewah, waktu yang dihabiskan sepenuhnya untuk saling mengunjungi, tanpa distraksi, tanpa jarak emosional.
Sementara di Mesir, Lebaran hadir lewat detail-detail kecil yang memikat. Aroma manis kahk menguar dari dapur, gula halusnya menempel seperti kenangan yang enggan pergi.
Lentera fanous (lentera tradisional khas Mesir yang menjadi simbol ikonik dalam menyambut bulan suci Ramadan ) menggantung, memantulkan cahaya hangat di wajah-wajah yang saling tersenyum,sebuah lanskap yang terasa seperti lukisan hidup.
Dari Mesir kita beranjak ke Pakistan, perayaan justru dimulai sejak malam sebelumnya. Chand Raat,malam bulan sabit mengubah kota menjadi lautan cahaya dan warna.
Tangan-tangan dihias henna, gelang berkilau di pergelangan, dan tawa mengalir tanpa henti. Ini bukan sekadar penantian, melainkan perayaan itu sendiri.
Di Afghanistan, kebahagiaan juga menemukan bentuknya yang paling sederhana. Tokhm Jangi atau adu telur rebus menjadi permainan yang menyatukan semua usia. Tawa pecah saat satu telur retak dan yang lain bertahan, menghadirkan Lebaran dalam wujud yang jujur dan membumi.
Namun tak semua Lebaran dirayakan dalam kemeriahan. Di Palestina, suasana sering kali lebih sunyi, lebih sederhana namun justru terasa lebih dalam.
Di tengah keterbatasan dan konflik yang belum usai, orang-orang tetap mengenakan pakaian terbaik, saling menguatkan, dan menjaga tradisi dengan penuh keteguhan. Bicara Lebaran di sana adalah tentang harapan yang tak pernah padam.

Di belahan dunia lain seperti Amerika Serikat dan Australia, Lebaran tumbuh dalam wajah komunitas. Lapangan terbuka, aula, hingga pusat konvensi menjadi ruang temu lintas budaya.
Biasanya usai salat Id, orang-orang berkumpul, berbagi hidangan dari berbagai negeri. Sungguh ini menciptakan harmoni rasa dalam satu meja panjang yang hangat.
Di antara semua lanskap itu, ada satu cerita yang diam-diam paling menyentuh, kisah para perantau Indonesia.
Mereka merayakan Lebaran dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Di dapur kecil, opor ayam dimasak dengan bumbu yang harus dicari jauh-jauh hari. Ketupat mungkin diganti lontong instan, tetapi tak mengurangi makna lebaran dan sarat doa.
Perantauan Indonesia berkumpul dengan sesama perantau, saling menguatkan, menciptakan keluarga baru di tanah yang asing.
Husni Naparin salah satunya, dia merasakan bagaimana berlebaran di negara orang. Kerinduan pun menyeruak tatkala gema takbir membahana di tanah perantauan, ada rasa haru yang menyeruak dalam.
“Alhamdulillah, saat ini kita bisa menggunakan teknologi untuk menyambung silaturahmi dan video call menjadi pengobat rindu saat berlebaran di negeri orang,” tutur Doktor IT Multimedia lulusan Kuala Lumpur Malaysia.

Kepada Tim Economic Travelling.Com, pria yang sekarang menjadi Tour Leader Biro Perjalanan Haji dan Umrah nasional, bercerita bahwa lebaran di negeri orang memang menimbulkan rindu yang mendalam akan kampung halaman dan terkadang membuat merasa sendiri.
“Tapi Alhamdulillah, beberapa warga setempat menyambut kami dengan hangat.Bahkan mengundang Open House di rumah mereka, karena tahu kita perantauan yang sedang menimba ilmu.Rasa persaudaraan saat lebaran membuat kami nyaman dan betah berlebaran di sini, “ ujar Made Ludya Edwi Shanty.
Perempuan yang menjadi pemandu wisata ini pun menjadikan Kuala Lumpur rumah kedua berlebaran. Sehingga ketika berlebaran di negeri jiran Malaysia, terasa terobati kampung halaman dengan kehangatan dan keramatahan disana.
Lebaran sendiri juga dirasakan Syahriyanto Ruslan, bukan sekadar tentang tempat. Ia adalah perjalanan rasa tentang pulang, bahkan ketika raga belum sampai. Tentang menjaga yang jauh tetap dekat, dan yang dekat tetap bermakna.
“Di negeri mana pun ia dirayakan, Idul Fitri selalu menyatukan, menghangatkan, dan mengingatkan bahwa rumah, sejatinya, adalah rasa yang kita jaga bersama,” ucap Jurnalis senior yang memilih lebaran di kota orang. (Muhammad Irfani).
