Wagub Kalsel: Warisan Guru Banjar Indah Tak Pernah Padam
Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Hasnuryadi Sulaiman bersama ulama. (Foto - Biro Adpim Kalsel).
Lantunan doa menggema di Majelis Bani Isma’il, Jalan Kayu Kuku, Banjar Indah Permai, Banjarmasin, Senin (16/3/2026) malam.
Di antara ribuan jamaah yang hadir, Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Hasnuryadi Sulaiman, tampak larut dalam kekhusyukan, menundukkan hati dalam haul ke-2 KH Syaifuddin Zuhri bin KH Abdurrahman Isma’il atau Abah Guru Banjar Indah.
Bagi banyak orang, haul adalah ruang mengenang. Namun malam itu, ia terasa lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa jejak seorang ulama tidak pernah benar-benar hilang.
“Warisan beliau tidak pernah padam. Kita merasakannya hingga hari ini,” ujar Hasnuryadi, menegaskan penghormatan mendalam kepada sosok yang semasa hidupnya menjadi panutan umat.
Kehadiran Wakil Gubernur bukan sekadar formalitas. Sejak sore, ia mengikuti rangkaian kegiatan yang dipadati jamaah dari berbagai daerah Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, hingga wilayah sekitarnya.
Acara diawali dengan kebersamaan berbuka puasa, dilanjutkan shalat Magrib berjamaah, hingga puncaknya pembacaan manaqib dan doa haul.
Sejumlah ulama kharismatik turut hadir, di antaranya KH Abdullah Basya (Guru Basya Sakumpul) dan KH Mubaraq, memperkuat suasana religius yang terasa kental sepanjang malam.
Dalam kesempatan tersebut, Hasnuryadi mengajak masyarakat tidak hanya mendoakan para ulama yang telah wafat, tetapi juga menjaga dan mengamalkan nilai-nilai yang mereka wariskan.
“Ulama adalah cahaya. Ketika mereka wafat, tugas kitalah menjaga agar cahaya itu tetap menyala, melalui amal dan akhlak kita sehari-hari,” pesannya.
Ajakan itu bukan tanpa alasan. Dalam pembacaan manaqib, kembali diingatkan bagaimana perjalanan hidup KH Syaifuddin Zuhri, seorang ulama yang lahir di Dalam Pagar, Martapura, pada 20 Oktober 1952, dan dikenal sebagai murid dari ulama besar, di antaranya KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul) dan KH Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjary (Guru Bangil).
Semasa hidupnya, Abah Guru Banjar Indah dikenal istiqamah dalam mengajar. Majelis taklim yang diasuhnya rutin digelar setiap malam Jumat selepas Isya dan Sabtu pagi khusus jamaah perempuan.
Dari majelis sederhana itulah, lahir kedekatan antara guru dan murid, serta nilai-nilai keilmuan yang terus hidup hingga kini.
Almarhum wafat pada 27 Ramadan 1445 Hijriah atau 7 April 2024. Namun bagi para jamaah yang memadati majelis malam itu, kepergian tersebut bukanlah akhir,melainkan awal dari keberlanjutan warisan yang terus dijaga.
Kehadiran Hasnuryadi yang juga konsisten menghadiri haul ini sejak tahun pertama, menjadi simbol bahwa hubungan antara umara dan ulama tetap terjalin erat. Bukan hanya dalam seremoni, tetapi dalam penghormatan yang tulus.
Di bawah langit Ramadan, haul ini menjadi ruang sunyi untuk merenung bahwa ulama boleh wafat, tetapi ajaran dan keteladanan mereka akan selalu menemukan jalan untuk tetap hidup, di hati umat yang menjaga dan mengamalkannya.(M.Irfani).
