Pundut Nasi, Gurihnya Bungkus Daun Pisang yang Selalu Dirindukan Saat Lebaran
Aroma harum daun pisang yang mengepul dari kukusan seolah menjadi penanda pagi di Banjarmasin.
Di balik bungkus sederhana itu, tersimpan satu kuliner khas yang tak pernah absen di momen istimewa, termasuk saat Lebaran, kami orang Banjar menyebutnya pundut nasi.
Bagi masyarakat Banua, pundut nasi bukan sekadar makanan. Kuliner satu ini adalah bagian dari tradisi sarapan hangat yang mengenyangkan sekaligus menghadirkan rasa rumah.
Kata “pundut” sendiri dalam bahasa Banjar berarti bungkus, merujuk pada cara penyajiannya yang unik, dibalut daun pisang berbentuk kerucut atau segitiga.
Saat dibuka, uap panas langsung menyeruak membawa aroma santan yang gurih. Teksturnya lembut, pulen, dengan cita rasa legit dari santan kental yang meresap hingga ke dalam nasi.
“Sensasi ini semakin lengkap saat pundut disiram sambal habang—bumbu merah khas Banjar yang pedas-manis dan sedikit smoky,” kata Endy, salah satu ASN Tapin yang memilih Pundut nasi sebagai salah satu menu di momen lebaran.
Perempuan muda cantik ini pun menuturkan bagaimana dia dan keluarganya sangat menyukai kuliner yang satu ini.Terlebih di kota Rantau tempay ia bekerja, penganan yang satu ini selalu ada. Karenanya ketika tak sempat memasak sarapan Endy selalu membeli Pundut nasi di kantin kantornya.
Nah soal lauk katanya, biasanya dia dan teman sekantornya selalu tak ketinggalan dengan lauk pendamping seperti telur itik (intalu itik), ikan haruan (gabus), hingga ikan papuyu, menjadi pasangan yang nyaris tak tergantikan. Perpaduan rasa gurih, pedas, dan manis inilah yang membuat pundut nasi begitu istimewa.
Di bulan Ramadan hingga Lebaran, pundut nasi semakin mudah ditemui. Mulai dari pasar tradisional hingga warung pinggir jalan, kuliner ini menjadi incaran warga yang ingin menikmati sarapan praktis namun tetap kaya rasa.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional. Beras dimasak setengah matang dengan santan dan daun pandan, lalu dibungkus daun pisang yang sudah dilayukan agar lentur. Setelah diberi siraman santan kental, bungkusan ini dikukus hingga matang sempurna.
Sementara itu, sambal habang dibuat dari cabai merah kering, bawang, rempah, serta gula merah yang dimasak hingga kental dan mengeluarkan minyak menjadi kunci rasa yang menggugah selera.
“Alhamdulillah lebaran ini kami juga menyediakan pundut nasi di rumah, kebetulan besan dari Palangkaraya sangat suka dengan kuliner ini,” terang Syahriyanto Ruslan, Jurnalis Senior Elshinta yang bermukim di Banjarmasin.
Di tengah gempuran makanan modern, pundut nasi tetap bertahan sebagai simbol kekayaan kuliner lokal. Lebih dari sekadar hidangan, ia adalah cerita tentang tradisi, kesederhanaan, dan kehangatan keluarga yang selalu hadir di meja makan saat Lebaran.(Ridzky Husna).
