THR, Uang Baru, dan Ritual Berbagi

0
RIDZKY HUSNA THR

Foto Ilustrasi - Indahnya berbagi di momen Lebaran Idulfitri. (Foto- Risanta).

Setiap Ramadan mendekati ujungnya, pemandangan itu selalu kembali. Antrean memanjang di depan bank.

Mobil kas keliling dikerubuti warga. Orang-orang datang membawa setumpuk uang untuk ditukar dengan satu hal yang sama: pecahan baru Rupiah. Mereka berburu uang baru.

Pecahan dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, hingga dua puluh ribu rupiah. Lembarannya masih licin, warnanya terang, belum kusut oleh perjalanan panjang dari dompet ke dompet.

Fenomena ini berulang setiap tahun. Dari Jakarta hingga Surabaya. Dari Bandung ke Medan. Dari Palembang sampai Pekanbaru. Bahkan di kota Banjarmasin tempat saya dilahirkan, tradisi itu juga selalu muncul menjelang Lebaran.

Orang rela mengantre lama.

Kadang harus mendaftar dulu secara daring. Kadang harus bersaing dengan ratusan orang lain yang juga datang dengan tujuan yang sama untuk mendapatkan pecahan uang baru.

Untuk itulah Bank Indonesia menjalankan program SERAMBI yaitu Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri. Tahun ini bank sentral menyiapkan Rp185,6 triliun uang layak edar. Sebagian dialokasikan untuk layanan kas keliling yang menyasar ribuan titik penukaran di berbagai daerah.

Penukaran dibatasi maksimal Rp5,3 juta per orang melalui aplikasi PINTAR BI. Pecahan yang tersedia mulai Rp1.000 hingga Rp50.000. Semua diatur agar distribusi uang baru bisa lebih merata.

Namun bagi masyarakat, urusan uang baru sebenarnya tidak pernah semata soal sistem penukaran.

Ini soal tradisi ya !

Dalam beberapa hari setelah ditukar, lembaran Rupiah yang masih kaku itu akan berpindah tangan lagi. Uang-uang pecahan baru Rupiah ini masuk ke dalam amplop kecil yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.

Amplop Lebaran. Saya tak bisa membuat diksi ala penulis kebanyakan. Bagi saya pribadi, jusru di situlah Tunjangan Hari Raya (THR) menemukan makna sosialnya.

Secara hukum, THR hanyalah kewajiban perusahaan kepada pekerja. Negara mengaturnya sebagai tambahan penghasilan menjelang hari raya. Tujuannya sederhana, membantu kebutuhan keluarga saat Lebaran.

Tetapi masyarakat Indonesia selalu memberi makna baru pada uang.

THR tidak berhenti sebagai tambahan gaji. Ia berubah menjadi ritual tahunan. Sebagian dibelanjakan untuk kebutuhan Lebaran. Sebagian lagi dipecah menjadi uang kecil yang siap dibagikan.

Pagi hari Idul Fitri adalah puncaknya. Setelah salat usai, anak-anak biasanya datang berbaris. Mereka bersalaman, mencium tangan orang yang lebih tua. Lalu sebuah amplop kecil berpindah tangan.

Tipis. Ringan. Tetapi selalu membawa kegembiraan. Bagi anak-anak, amplop itu hadiah Lebaran. Bagi orang dewasa, itu kenangan yang kembali hidup.

Dulu mereka yang berkeliling mencari amplop Lebaran. Kini mereka yang menyiapkannya. Peran berganti, tetapi tradisinya tetap sama. Inilah mengapa begitu menariknya kebiasaan ini.

Di tengah ekonomi yang sering terasa keras,harga bahan pokok naik, biaya hidup makin mahal, kami di kampung menyebut istilah ritual kecil itu tetap bertahan. Orang masih menyisihkan sebagian rezekinya untuk dibagikan.

Amplop Lebaran mungkin hanya berisi beberapa lembar Rupiah. Tetapi bagi anak-anak yang menerimanya, nilainya selalu terasa lebih besar dari angka yang tertulis di sana.

Mungkin karena di dalamnya bukan hanya uang yang berpindah tangan.

Ada kegembiraan. Ada kenangan. Dan ada satu pelajaran sederhana yang selalu diulang setiap Lebaran, rezeki terasa lebih berarti ketika dibagi. (Ridzky Husna).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!