Mulkani dan Rupiah Baru di Ujung Ramadan
Sore mulai turun di sebuah persimpangan jalan Lambung Mangkurat di Banjarmasin. Matahari belum benar-benar tenggelam, tetapi cahaya keemasannya sudah menyapu trotoar dan deretan warung kecil di pinggir jalan.
Lalu lintas padat seperti biasa. Sepeda motor melintas beriringan. Debu tipis terangkat dari aspal yang panas.
Di tepi jalan itu, seorang pria paruh baya berdiri sambil memegang tas kecil.
Di dalam tas itu bukan barang dagangan biasa. Ada tumpukan uang pecahan baru, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, hingga dua puluh ribu rupiah. Lembarannya masih kaku, warnanya terang. Pria itu bernama Mulkani.
Sesekali orang mendekat. Mereka bertanya pelan. Mulkani membuka tasnya sebentar, menunjukkan beberapa bundel uang yang sudah diikat rapi. Setelah itu transaksi kecil pun terjadi.
“Biasanya menjelang Lebaran seperti ini ramai,” kata Mulkani sambil tersenyum tipis saat bertemu sahabatnya Hj Aisyah.
Ia tidak selalu berdiri di kawasan Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin. Kadang di depan pusat perbelanjaan, kadang di dekat pasar, atau di titik jalan yang ramai dilalui orang pulang kerja.Namun ia kebanyakan berada di titik sentral jantung kota Banjarmasin, tidak jauh dari kantor Bank Indonesia Kalsel.

Padahal pekerjaan utamanya bukan pedagang uang.
Sehari-hari Mulkani dikenal sebagai seorang tour guide atau pemandu wisata yang cukup lama berkecimpung di dunia pariwisata Kalimantan Selatan. Kemampuan bahasa Inggrisnya membuat ia sering mendampingi wisatawan asing yang ingin melihat pasar terapung, menyusuri sungai Martapura, atau mengenal budaya Banjar lebih dekat.
Dulu, pekerjaan itu cukup menjanjikan.
“Waktu turis ramai, hampir tiap minggu ada tamu,” ujarnya mengenang.
Namun pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Wisatawan berhenti datang. Agen perjalanan sepi. Tur yang dulu menjadi sumber penghasilan utama mendadak hilang.
Hingga kini, pariwisata Banjarmasin belum sepenuhnya pulih. Wisatawan mancanegara masih jarang terlihat.
“Sekarang paling tamu lokal saja. Itu juga tidak sering,” kata Mulkani sambil menghela nafas.
Dalam kondisi seperti itu, ia harus mencari cara lain agar dapur rumah tetap mengepul.
Menjelang Ramadan beberapa tahun terakhir, ia mulai memanfaatkan satu peluang yang selalu muncul setiap musim Lebaran, permintaan uang pecahan baru.
Setiap orang ingin berbagi THR kepada anak-anak saat Idul Fitri. Tetapi tidak semua orang punya waktu mengantre di bank atau kas keliling.
Kondisi ini membuat Mulkani melihat celah.
Ia mengumpulkan pecahan uang baru dari berbagai sumber. Sebagian dari penukaran resmi, sebagian lagi dari orang-orang yang lebih dulu mendapatkan jatah penukaran di bank.
Pekerjaan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya tidak ringan.
Mulkani harus berkeliling mencari suplai uang baru. Kadang dari teman, kadang dari kenalan, kadang dari penukar kecil yang bersedia menjual kembali pecahannya.
Modalnya juga tidak sedikit.
Belum lagi risiko yang harus ditanggung. Mengelola uang tunai dalam jumlah besar tentu tidak lepas dari kekhawatiran mulai dari keamanan hingga kemungkinan menerima uang palsu.
Namun Mulkani menjalaninya dengan tenang.
“Namanya juga usaha. Yang penting halal.Insya Allah pandai-pandai bersyukur” katanya singkat.
Musim Lebaran bagi Mulkani hanya datang sekali setahun. Tetapi dari musim singkat itulah ia berharap bisa menambah penghasilan.
Di tangan para pembeli, uang pecahan baru itu nantinya akan masuk ke dalam amplop kecil. Dibagikan kepada anak-anak yang datang bersalaman pada pagi Idul Fitri.
Kisah Mulkani adalah sisi lain di balik lembaran Rupiah yang berpindah tangan itu, ada kisah lain yang jarang terlihat, tentang orang-orang yang bertahan dengan cara mereka sendiri.
Seorang pemandu wisata yang pernah akrab dengan turis mancanegara, kini berdiri di tepi jalan menjajakan uang pecahan baru demi menjaga dapur rumah tetap menyala.
Sore makin turun. Lalu lintas tetap ramai. Dan di sudut jalan itu, Mulkani masih berdiri menunggu pembeli berikutnya.(Risanta).
