Bandara Syamsudin Noor Berbagi Ramadan, Kepedulian Terbang Lebih Tinggi
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Milyas Wardana, menegaskan bahwa keberadaan bandara tidak boleh terlepas dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.. (Foto - Humas Bandara Syamsudin Noor).
Bagi sebagian orang, bandara identik dengan lalu lintas pesawat, jadwal penerbangan, dan mobilitas manusia yang tidak pernah berhenti.
Namun di balik aktivitas itu, ada dimensi lain yang sering luput dari perhatian adalah sosal tanggung jawab sosial kepada masyarakat di sekitarnya.
Momentum Ramadan dimanfaatkan oleh PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor untuk memperkuat jalinan sosial dengan masyarakat sekitar bandara.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Safari Ramadan, perusahaan menyalurkan berbagai bantuan kepada komunitas keagamaan, warga sekitar, hingga kelompok rentan.
Program ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi refleksi bahwa sebuah bandara tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi udara, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem sosial di daerah tempatnya berdiri.
Sejumlah bantuan disalurkan kepada masyarakat di kawasan Guntung Damar dan sekitarnya. Majelis Taklim Nur Haddad menerima 25 Al-Qur’an beserta terjemahannya lengkap dengan dudukan, karpet, serta perangkat pengeras suara untuk mendukung kegiatan pengajian.
Langgar Raudhatul Jannah mendapat bantuan pembangunan kanopi tempat wudhu agar jamaah dapat beribadah dengan lebih nyaman.

Dukungan juga diberikan kepada TPA Al-Qur’an di kawasan yang sama berupa pengeras suara dan karpet untuk menunjang kegiatan belajar mengaji bagi anak-anak.
Tidak hanya menyasar fasilitas ibadah, program ini juga menjangkau masyarakat luas. Sebanyak 578 paket Lebaran dan sembako disalurkan kepada warga sekitar bandara, komunitas bandara, hingga rekan-rekan awak media yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem komunikasi bandara.
Kepedulian tersebut turut menyentuh kelompok yang membutuhkan perhatian lebih. Santunan diberikan kepada anak-anak di Rumah Griya Anak Yatim di Jalan Gotong Royong serta kepada 35 penyandang difabel yang berada di Rumah Difabel di kawasan Jalan Trikora.
Secara keseluruhan, nilai bantuan yang disalurkan dalam program TJSL Safari Ramadan tahun ini mencapai Rp158,9 juta.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Milyas Wardana, menegaskan bahwa keberadaan bandara tidak boleh terlepas dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Keberhasilan sebuah bandara tidak hanya diukur dari kelancaran operasional penerbangan atau kualitas layanan kepada penumpang. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat di lingkungan sekitarnya,” tuturnya.
Karena itu, program TJSL menjadi salah satu cara perusahaan untuk memastikan bahwa pertumbuhan sektor transportasi udara berjalan seiring dengan pembangunan sosial.
Pendekatan semacam ini semakin penting di tengah perkembangan industri aviasi yang kian dinamis. Bandara modern tidak lagi berdiri sebagai infrastruktur transportasi semata, melainkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial di wilayahnya.
Dengan menjaga hubungan yang harmonis antara pengelola bandara, masyarakat sekitar, komunitas bandara, serta para pemangku kepentingan, ekosistem yang sehat dapat tercipta.
Pada akhirnya, nilai dari sebuah bandara tidak hanya terletak pada pesawat yang datang dan pergi, tetapi juga pada dampak positif yang ditinggalkannya bagi masyarakat.
Di bulan Ramadan yang sarat makna berbagi, langkah kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur yang besar akan selalu menemukan maknanya ketika ia mampu menyentuh kehidupan manusia di sekitarnya.(Olpah Sari).
