Menulis Meretas Misteri, Bukan Sekadar Kohesi
Foto Ilustrasi - Penulis sedang menyimak naskah-naskah karya tulis mahasiswa seperti skripsi dan tesis di perpustakaan kampus. (Foto - Risanta).
Oleh : Abdul Munir
Di rak-rak perpustakaan kampus, kita mudah menemukan judul-judul yang terdengar gagah, Gaya Kepemimpinan Transformasional dalam Meningkatkan Motivasi Kerja Pegawai pada Pengadilan Agama dan seterusnya.
Sekilas ilmiah, sistematis, dan meyakinkan. Namun ketika halaman demi halaman dibuka, sering kali pembaca tersesat. Antara judul dan isi tak saling menyapa. Diksi tak kohesif, gagasan tak koheren. Seolah judul berdiri sendiri, sementara isi berjalan ke arah lain.
Dalam landasan teori, misalnya, pembahasan melebar pada budaya perusahaan, dinamika pasar, hingga persaingan bisnis global,topik yang tak selalu relevan dengan fokus kepemimpinan transformasional di lembaga peradilan agama.
Ada yang tak bertaut. Ada yang tak teranyam. Seperti potongan kain dari warna berbeda yang dijahit tanpa pola.
Masalahnya bukan semata pada teknik menulis. Lebih dalam dari itu, penulis tak benar-benar menulis.
Banyak naskah lahir bukan dari pergulatan pikiran, melainkan dari bantuan orang lain. Setelah selesai, tak dibaca ulang dengan saksama.
Pendahuluan dan landasan teori dipenuhi kutipan langsung dua spasi,panjang, padat, tetapi hampa refleksi. Suara penulis menghilang, tenggelam di antara paragraf orang lain. Yang tersisa hanyalah kompilasi.
Ironisnya, dalam Kata Pengantar sering tertulis kalimat yang begitu familiar: “Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua bantuan yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung selama penyusunan skripsi ini.”
Kalimat itu seolah jujur dan justru karena terlalu jujur, ia menjadi cermin. Bantuan memang ada. Bahkan mungkin terlalu banyak. Hingga yang tersisa dari proses menulis hanyalah formalitas akademik.
Padahal menulis bukan sekadar memenuhi syarat administratif. Menulis adalah kerja intelektual. Ia menuntut perenungan, kejujuran, dan keberanian.
Keberanian untuk berpikir sendiri. Keberanian untuk merangkai argumen dengan sadar. Keberanian untuk bertanggung jawab atas setiap kalimat.
Rumusan menulis sesungguhnya sederhana, namun berat dijalani:
baca, baca, baca, baca, catat, tulis, baca, tulis.
Membaca bukan hanya untuk mengutip, tetapi untuk memahami. Mencatat bukan hanya untuk mengumpulkan, tetapi untuk merumuskan.
Menulis bukan hanya untuk menyusun kalimat, tetapi untuk menata pikiran. Dan membaca ulang bukan sekadar memeriksa salah ketik, melainkan memastikan alur gagasan tetap utuh, kohesif, dan koheren.
Menulis adalah upaya meretas misteri, sebuah misteri ketidaktahuan dalam diri sendiri. Setiap paragraf yang jernih lahir dari pertarungan sunyi antara ragu dan nalar.
Setiap bab yang runtut adalah hasil disiplin berpikir. Kohesi bukan sekadar keterpautan kata; ia adalah kesetiaan pada fokus. Koherensi bukan sekadar alur yang tersusun, ia adalah kesatuan ide dari awal hingga akhir.
Jika judul berbicara tentang kepemimpinan transformasional, maka seluruh bab harus mengalir ke sana. Jika penelitian membahas motivasi kerja pegawai, maka teori, data, dan analisis harus menegaskan arah itu. Tidak melebar tanpa alasan. Tidak meloncat tanpa jembatan.
Menulis adalah tanggung jawab moral. Karena mencerminkan integritas akademik sekaligus integritas pribadi. Di situlah hakikatnya, bukan sekadar kohesi kata, melainkan kohesi nurani.
Sebab pada akhirnya, karya tulis bukan hanya dinilai dari tebalnya halaman atau banyaknya kutipan. Ia dinilai dari kejernihan pikiran yang menghidupinya. Dan kejernihan itu hanya lahir dari satu jalan panjang membaca dengan tekun, berpikir dengan jujur, lalu menulis dengan sadar.
*Penulis adalah Budayawan dan Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin
