Mengulik Sejarah Buka Puasa Bersama di Indonesia

0
BUKA PUASA LUDYA

Foto Ilustrasi - Buka Puasa Bersama menyatukan persaudaraan dan silaturahmi antar keluarga, yang jarang bertemu karena kesibukan dan tempat tinggal yang berjauhan kota. (Foto - Risanta).

Oleh : Abdul Munir

Tradisi buka puasa bersama di Indonesia bukan sekadar ritual makan setelah azan Magrib. Tradisi ini adalah peristiwa sosial yang menyimpan jejak panjang sejarah, membentang dari ajaran Islam paling awal hingga menjadi bagian dari budaya modern masyarakat perkotaan.

Tahukah kita daru meja sederhana maupun di hotel berbintang, buka puasa bersama selalu menghadirkan makna yang sama. Kebersamaan.

Akar tradisi ini dapat ditelusuri hingga masa Muhammad SAW, ketika berbuka puasa bukan hanya menjadi kewajiban individual, tetapi juga momentum berbagi.

Dalam berbagai riwayat, Nabi menganjurkan umatnya untuk memberi makan orang yang berpuasa. Bahkan, memberi sebutir kurma atau seteguk air sudah bernilai pahala. Sejak saat itu, buka puasa tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu melibatkan orang lain.

Ketika Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13, tradisi berbuka bersama ikut terbawa. Di pesisir Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, para pedagang dan ulama memperkenalkan kebiasaan berkumpul menjelang Magrib.

 

Buka Puasa Bersama merekatkan tali silaturahmi diantara teman semasa sekolah maupun kuliah. ( Foto – Dok Risanta).

Di masjid-masjid awal, masyarakat duduk bersila, menunggu azan sambil berbincang. Tidak ada kemewahan. Hanya air, kurma, dan makanan seadanya. Namun dari situlah terbentuk fondasi sosial yang kuat yang mengakar hingga saat ini.

Pada masa kerajaan Islam seperti Demak dan Mataram, buka puasa bersama berkembang menjadi tradisi istana. Sultan dan rakyat kadang berbuka di halaman masjid kerajaan.

Tradisi ini memperkuat hubungan simbolik antara pemimpin dan masyarakat. Di sinilah buka puasa menjadi lebih dari sekadar ibadah. Ia menjadi ruang sosial dan politik.

Memasuki era kolonial, tradisi buka puasa bersama justru menjadi ruang solidaritas. Di tengah tekanan penjajahan, umat Islam berkumpul di surau dan masjid untuk berbuka bersama.

Kebersamaan itu menjadi bentuk perlawanan sunyi. Tidak dengan senjata, tetapi dengan menjaga identitas.

Pada abad ke-20, terutama setelah kemerdekaan, organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memperkuat tradisi ini melalui kegiatan sosial.

Mereka mengadakan buka puasa bersama untuk anak yatim, kaum miskin, dan masyarakat umum. Buka puasa tidak lagi hanya berlangsung di masjid, tetapi juga di sekolah, kantor, dan rumah.

Perubahan paling mencolok terjadi pada era modern, terutama sejak 1980-an. Buka puasa bersama mulai menjadi tradisi institusional. Perusahaan menggelar acara buka puasa untuk karyawan.

Pemerintah mengadakan buka puasa bersama pejabat dan masyarakat. Bahkan, Presiden secara rutin menggelar buka puasa bersama tokoh nasional dan rakyat, sering kali di tempat ikonik seperti Masjid Istiqlal.

 

Salah satu perhimpunan perusahaan swasta seperti GAPKI Kalsel mengggelar Buka Puasa Bersama mengundang dan menyantuni anak yatim panti asuhan di Banjarmasin. (Foto – Dok Risanta).

Di kota-kota besar, buka puasa bersama juga menjadi fenomena sosial kelas menengah. Restoran dan hotel menawarkan paket khusus Ramadan.

Undangan buka puasa bersama menjadi sarana mempererat hubungan profesional, reuni teman lama, hingga pertemuan keluarga besar. Istilah “bukber” pun lahir sebagai singkatan populer, mencerminkan bagaimana tradisi ini telah menyatu dengan kehidupan modern.

Namun di balik perubahan bentuknya, esensinya tetap sama. Buka puasa bersama adalah tentang mempertemukan orang-orang. Karena dari dimensi sosial akan menjembatani jarak sosial, ekonomi, dan generasi. Di meja yang sama, pejabat dan rakyat, atasan dan bawahan, kaya dan miskin, duduk sejajar.

Ramadan di Indonesia bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga musim kebersamaan. Ketika azan Magrib berkumandang, jutaan orang berhenti sejenak dari aktivitasnya. Mereka duduk, mengangkat tangan berdoa, lalu berbuka bersama.

Dalam momen itu, sejarah berulang. Dari zaman Nabi hingga Indonesia modern, buka puasa bersama tetap menjadi pengingat bahwa ibadah, pada akhirnya, adalah tentang kemanusiaan dan kebersamaan.

*Penulis Adalah Budayawan dan Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!