Belanja Awal Tahun dan Denyut Ekonomi Kalsel
Foto Ilustrasi - Aktivitas transaksi di pasar tradisional meningkat terutama menjelang Ramadan. (Foto - Risanta).
Aktivitas belanja masyarakat pada awal 2026 menunjukkan sinyal yang masih cukup sehat. Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran pada Januari 2026 tumbuh 7,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Indeks Penjualan Riil (IPR) ini memberi gambaran bahwa konsumsi rumah tangga, sebagai mesin utama ekonomi daerah belum kehilangan tenaga, meski euforia belanja Natal dan Tahun Baru telah berlalu.
Di Kalimantan Selatan, pola ini terasa nyata. Pergerakan konsumsi masih ditopang belanja kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman, sandang, serta kebutuhan rumah tangga. Terlebih sepekan menjelang bulan Ramadan.
Aktivitas perdagangan di pasar tradisional hingga ritel modern di Banjarmasin, Banjarbaru, dan sejumlah kabupaten penyangga tetap ramai, seiring berlanjutnya aktivitas sektor pertambangan, perkebunan, dan jasa yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Secara bulanan, penjualan eceran Januari memang diperkirakan turun 0,6 persen. Penurunan ini mencerminkan normalisasi belanja setelah puncak konsumsi di akhir tahun.
Namun, kontraksi tersebut jauh lebih ringan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bagi pelaku usaha di Kalsel, situasi ini menunjukkan daya beli masyarakat masih relatif terjaga, meski mulai lebih selektif.
Momentum kuat justru terlihat pada Desember 2025. Penjualan eceran tumbuh 3,5 persen secara tahunan dan melonjak 3,1 persen secara bulanan.
Lonjakan ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas wisata domestik, serta kebutuhan transportasi dan logistik sektor yang cukup dominan di Kalimantan Selatan sebagai wilayah penghubung antardaerah di Kalimantan.
Dari sisi harga, tantangan ke depan patut dicermati. Bank Indonesia mencatat meningkatnya ekspektasi kenaikan harga pada Maret dan Juni 2026, seiring mendekatnya Ramadan dan Idulfitri.
Di Kalimantan Selatan, tekanan inflasi kerap bersumber dari komoditas pangan seperti beras, cabai, bawang, dan ikan, yang pasokannya sensitif terhadap cuaca dan distribusi.
Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kalsel didorong untuk memperkuat langkah antisipatif, mulai dari menjaga kelancaran distribusi antarkabupaten, mengoptimalkan kerja sama antardaerah, hingga memastikan stok pangan strategis aman menjelang hari besar keagamaan.
Bagi masyarakat, data ini memberi sinyal bahwa aktivitas ekonomi daerah masih bergerak, namun kewaspadaan terhadap kenaikan harga tetap perlu. Sementara bagi pemerintah daerah, stabilitas daya beli dan inflasi menjadi ujian penting agar pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan tetap inklusif dan berkelanjutan.
