Pers Bermartabat di Tengah Disrupsi

0
PA MUNIR DI RUANG REDAKSI

Penulis saat mengunjungi salah satu media. (Foto - Risanta).

Catatan Abdul Munir untuk Hari Pers Nasional

Setiap Hari Pers Nasional selalu menghadirkan pertanyaan lama yang tak pernah benar-benar usang, untuk siapa pers bekerja, dan sejauh mana pers masih setia pada mandat sejarahnya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan disrupsi teknologi, pertanyaan itu justru menjadi semakin mendesak.

Sebagai budayawan dan akademisi, saya memandang pers bukan semata-mata sebagai institusi penyampai informasi, melainkan sebagai penjaga nalar publik.

Pers dalam kacamata saya adalah ruang kebudayaan tempat nilai, etika, dan kesadaran sosial diproduksi dan diperdebatkan. Karena itu, martabat pers tidak ditentukan oleh kecepatan klik atau viralitas, melainkan oleh kedalaman makna dan kejujuran intelektual yang dihadirkannya.

Era digital telah mengubah wajah pers secara fundamental. Algoritma kini menjadi “redaktur tak kasatmata” yang menentukan apa yang dibaca publik.

Sayangnya, algoritma tidak mengenal etika, empati, atau tanggung jawab sosial. Ia hanya bekerja berdasarkan atensi dan keterlibatan.

Awas godaan terbesar pers hari ini adalah mengorbankan kepercayaan publik demi memenuhi selera algoritma. Judul dipelintir agar provokatif, isu dibesarkan tanpa konteks, dan fakta diperas agar emosional.

Dalam jangka pendek, mungkin mendatangkan trafik. Namun dalam jangka panjang, ia menggerogoti fondasi kepercayaan yang selama puluhan tahun dibangun pers.

Pers boleh beradaptasi dengan teknologi, tetapi tidak boleh tunduk sepenuhnya pada logika mesin. Algoritma harus menjadi alat, bukan penentu arah moral.

Jika pers kehilangan nurani, ia akan kehilangan publik dan kehilangan dirinya sendiri.

Wartawan sebagai Pekerja Budaya

Wartawan bukan sekadar pengumpul fakta, tetapi pekerja budaya. Ia membingkai realitas, memilih sudut pandang, dan memberi makna pada peristiwa.

Dalam konteks ini, kualitas sumber daya manusia pers menjadi penentu utama masa depan jurnalisme.

SDM pers hari ini dituntut serba bisa, memahami data, teknologi digital, multimedia, sekaligus tetap teguh pada prinsip jurnalistik. Namun tuntutan adaptasi ini sering kali tidak diiringi dengan kesejahteraan yang memadai.

Wartawan dibebani target produksi tinggi, jam kerja panjang, dan tekanan ekonomi yang membuat independensi mudah tergadai.

Bagaimana mungkin kita menuntut jurnalisme berkualitas dari wartawan yang hidup dalam ketidakpastian? Kesejahteraan bukan kemewahan, melainkan prasyarat bagi kemerdekaan berpikir dan keberanian bersikap.

Independensi pers hari ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibanding masa lalu. Jika dulu ancamannya datang dari kekuasaan politik, kini tekanan juga datang dari kepentingan ekonomi, pemilik modal, dan bahkan preferensi audiens yang dibentuk algoritma.

Independensi bukan berarti pers berdiri di ruang hampa, melainkan kemampuan menjaga jarak kritis dari semua kepentingan.

Di era digital, menjaga jarak itu semakin sulit, tetapi justru semakin penting. Pers yang kehilangan independensi akan berubah menjadi sekadar saluran propaganda, baik politik maupun komersial.

Masa Depan Pers Indonesia

Saya percaya masa depan pers Indonesia tidak suram, tetapi menuntut keberanian untuk memilih jalan yang lebih sulit. Jalan jurnalisme berkualitas mungkin tidak selalu populer, tetapi ia membangun kepercayaan jangka panjang.

Publik Indonesia semakin cerdas, karena mereka pada akhirnya akan membedakan mana informasi dan mana manipulasi.

Hari Pers Nasional seharusnya menjadi momen refleksi, bukan sekadar perayaan. Pers perlu kembali bertanya: apakah kita masih berpihak pada kepentingan publik? Apakah kita masih menjaga etika, akurasi, dan keberimbangan? Apakah kita sedang mendidik publik, atau sekadar mengejar perhatian?

Di tengah disrupsi, satu hal yang tidak boleh berubah adalah komitmen pers pada kebenaran.

Teknologi akan terus berganti, platform akan terus berubah, tetapi kepercayaan publik adalah modal yang tak tergantikan. Sekali hilang, ia sulit dipulihkan.

Pers Indonesia hanya akan tetap hidup dan bermartabat jika ia setia pada nuraninya, memperkuat kualitas manusianya, dan menempatkan publik di atas algoritma.

Itulah harapan saya di Hari Pers Nasional,yakni pers yang berani, beradab, dan berjangka panjang.

 

*Penulis adalah Budayawan dan Akademisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!