Dari Wadai ke Wisata, Strategi Ekonomi Ramadan Banjarmasin

0
PASAR WADAI RAMADHAN

Foto Ilustrasi - Wisatawan mancanegara dan nusantara menjadikan Banjarmasin sebagai destinasi wisata Ramadan, jika Festival Wadai Ramadan Banjarmasin dikelola kian profesional dan tetap menjaga kearifan lokalnya. (Foto-Redaksi Economic Travelling.Com).

Festival Pasar Wadai Ramadan 2026 kembali digelar di Banjarmasin. Di balik hiruk-pikuk kuliner khas dan agenda religi, festival ini memikul beban yang lebih besar, menjadi instrumen nyata untuk memajukan ekonomi rakyat sekaligus memperkuat identitas budaya Banjar.

Transformasi Pasar Wadai menjadi festival dengan kemasan lebih modern patut dibaca sebagai sinyal kesadaran pemerintah kota bahwa tradisi tidak cukup hanya dipertahankan, namun ia harus dikembangkan, dikelola, dan diberi nilai tambah.

Ramadan bukan sekadar momentum konsumsi, tetapi peluang strategis untuk menguji daya tahan UMKM dan arah kebijakan pariwisata lokal.

Selama bertahun-tahun, Pasar Wadai dikenal sebagai ruang jual beli musiman. Tahun ini, pemerintah mencoba mendorongnya naik kelas, memperluas agenda, memperkaya konten budaya, dan menarik pengunjung lintas daerah.

Langkah ini penting agar Pasar Wadai tidak berhenti sebagai keramaian temporer, melainkan tumbuh menjadi agenda ekonomi tahunan yang berkelanjutan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil, menyebut penguatan budaya Banjar sebagai poros utama festival.

“Pasar Wadai tidak hanya soal berjualan. Di sini kita ingin menunjukkan peningkatan budaya,” kata Sabil.

Pernyataan ini menjadi kunci. Budaya bukan ornamen. Karena eksistensinya  harus hadir sebagai daya tarik ekonomi menggerakkan produksi kuliner tradisional, membuka ruang bagi perajin, seniman, dan pelaku ekonomi kreatif, serta menciptakan pengalaman yang membedakan Banjarmasin dari kota lain selama Ramadan.

Dari sudut pandang ekonomi, Pasar Wadai Ramadan adalah ruang uji daya beli masyarakat. Jika dikelola dengan baik, efeknya tidak berhenti pada transaksi di lapak, tetapi menjalar ke rantai pasok, petani bahan baku, produsen kemasan, jasa logistik, transportasi, hingga tenaga kerja informal. Inilah efek berganda yang semestinya menjadi target utama.

Upaya menggandeng event organizer berpengalaman dari luar provinsi menunjukkan keinginan menaikkan standar. Namun, tujuan akhirnya bukan sekadar acara yang ramai, melainkan transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas lokal, agar ke depan Banjarmasin mampu mandiri mengelola festival berskala besar dengan karakter sendiri.

Spirit memajukan Pasar Wadai juga harus dibaca dalam konteks pariwisata. Festival ini berpotensi menjadi ikon wisata Ramadan Kalimantan Selatan, asal terhubung dengan destinasi lain, wisata sungai, kawasan Siring Menara Pandang, hingga agenda religi dan budaya yang terkurasi. Tanpa integrasi, potensi ekonomi hanya akan berputar di lingkar sempit.

Rencana penataan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Siring menjadi bagian penting dari upaya ini. Keteraturan ruang publik bukan sekadar soal estetika, tetapi faktor penentu kenyamanan wisatawan dan lama tinggal pengunjung, yakni dua variabel utama dalam ekonomi pariwisata.

Catatan Redaksi Economic Travelling.Com meneguhkan memajukan Pasar Wadai Ramadan berarti mengubah cara pandang. Pasar ini bukan sekadar tradisi tahunan yang diulang, melainkan aset ekonomi-budaya yang harus diukur dampaknya, diperbaiki tata kelolanya, dan diperkuat keberlanjutannya.

Jika spirit ini konsisten dijaga, Pasar Wadai Ramadan tidak hanya akan hidup setiap Ramadan, tetapi tumbuh sebagai kebanggaan kota dan mesin ekonomi rakyat yang sesungguhnya.Tentunya wisatawan luar daerah maupun mancanegara merasakan suasana beda di Banjarmasin. (Olpah Sari).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!