INACRAFT dan Kalsel: Jangan Hanya Pulang dengan Brosur
Foto Ilustrasi - INACRAFT salah satu event pameran internasional yang membuka peluang produk Kalsel semakin dikenal dan bisa menembus pasar dunia, (Foto - Redaksi).
Setiap Februari, INACRAFT kembali digelar. Setiap tahun pula, Kalimantan Selatan hadir dengan ragam kerajinan: sasirangan, anyaman purun, kain Pagatan, hingga produk olahan UMKM berbasis kearifan lokal.
Namun pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur adalah: apa yang benar-benar dibawa pulang perajin Kalsel setelah pameran usai?
INACRAFT sering dipersepsikan sebagai panggung kebanggaan budaya. Booth dipenuhi ornamen daerah, foto pejabat beredar luas, dan laporan keikutsertaan disusun rapi.
Tetapi di balik itu, tidak sedikit perajin yang kembali ke daerah dengan cerita yang sama, prospek ada, transaksi terbatas, dan tindak lanjut minim.
Masalahnya bukan pada kualitas budaya. Produk Kalsel kaya identitas dan punya cerita kuat. Masalahnya terletak pada cara pemerintah daerah memposisikan INACRAFT. Pameran ini masih diperlakukan sebagai acara, bukan sebagai strategi ekonomi.
Padahal INACRAFT adalah ruang pasar. Buyer datang dengan kalkulasi, bukan nostalgia. Mereka mencari konsistensi suplai, standar mutu, kepastian harga, dan kemampuan produksi jangka panjang.
Karena itu pula kita sepakat, pada titik inilah banyak perajin Kalsel tersandung. Pesanan datang, tapi kapasitas terbatas. Minat muncul, tapi logistik dan pembiayaan tidak siap.
Lebih ironis lagi, hingga kini tidak ada data terbuka yang menjawab pertanyaan sederhana,
ke mana saja produk kerajinan Kalsel bergerak setelah INACRAFT?
Apakah menembus pasar nasional? Apakah sampai ke luar negeri? Atau berhenti di transaksi ritel pameran?
Tanpa data, klaim keberhasilan menjadi rapuh. Pemerintah daerah tidak punya alat evaluasi. Perajin tidak punya peta pasar. Dan publik hanya disuguhi narasi kehadiran tahunan yang berulang.
Jika kesejahteraan perajin memang menjadi tujuan, maka paradigma harus diubah. INACRAFT tidak boleh berhenti di spanduk dan seremoni.
Event besar dan berkelas ini harus menjadi pintu masuk kebijakan, pendampingan pasca-pameran, penguatan klaster produksi, akses pembiayaan, hingga jaminan pasar.
Kalimantan Selatan tidak kekurangan potensi. Yang masih kurang adalah keberanian untuk bertanya apakah kita sekadar ikut pameran, atau sedang membangun masa depan ekonomi perajin?. (Tim Redaksi).

