SHEILA ON 7 DUTA

Kehadiran Duta sang Vokalis Sheila On 7 yang membumi, hadir apa adanya, tanpa persona artifisial, tanpa jarak simbolik.

Mengapa Mereka Tak Pernah Kehilangan Panggung

Sabtu malam, 24 Januari 2025, di bawah langit Amanah Borneo Park, Banjarbaru, puluhan ribu orang menyatu dalam satu suara. Bukan oleh efek visual megah atau gimmick berlebihan, melainkan oleh lagu-lagu yang telah hidup bersama mereka selama lebih dari dua dekade.

Sheila On 7 kembali membuktikan satu hal, waktu boleh berjalan, tetapi rasa tidak pernah menua.Bukan kami yang generasi Z saja menikmati, mereka yang berada dalam lintasan generasi X ikut larut dalam magnet musik yang disuguhkan Band asal Yogjakarta.

Pada gelaran Buzz Youth Fest #4, band asal Yogyakarta itu menghipnotis lautan manusia dengan lagu-lagu yang sudah menjadi semacam “bahasa bersama” lintas generasi. Begitu intro Kisah Klasik Untuk Masa Depan mengalun, ribuan tangan terangkat. Jadikan Aku Pacarmu, Sephia, hingga Melompat Lebih Tinggi menjadi puncak euforia,bukan sekadar dinyanyikan, tetapi dirayakan.

Hem,sebagai generasi dilahirkan disaat mereka lagi di puncak, kami merasakan di titik ini sejatinya memang Sheila On 7 tak lagi sekadar band. Mereka adalah ingatan kolektif.

 

Aksi Panggung Vokalis Duta yang menghipnotis ribuan penonton lintas usia dan generasi. (Foto – MI.Irfani).

Duta Itu Ikon yang Tetap Membumi

Salah satu kekuatan utama Sheila On 7 terletak pada sosok vokalisnya, Akhdiyat Duta Modjo, atau cukup disebut Duta. Dalam dunia hiburan yang sering membangun jarak antara panggung dan penonton, Duta justru melakukan sebaliknya. Ia hadir apa adanya, tanpa persona artifisial, tanpa jarak simbolik.

Duta bukan bintang yang menjulang, melainkan sosok yang terasa duduk di sebelah kita. Cara bernyanyinya sederhana, artikulasinya jujur, dan interaksinya di atas panggung sering kali terasa seperti obrolan santai dengan kawan lama. Inilah magnetnya. Ia tidak memaksa orang untuk kagum, dan kekaguman itu kata Om Kami, Syahriyanto Ruslan, Jurnalis Senior Radio Elshinta Jakarta, tumbuh dengan sendirinya.

Dalam dua dekade lebih perjalanan karier, Duta tidak pernah terjebak dalam kultus selebritas. Pria yang sekarang berambut gondrong dan tertata rapi ino.  bertahan sebagai ikon justru karena kemerakyatannya. Di era ketika banyak musisi membangun citra, Duta mempertahankan karakter.

Musik yang Menyentuh Usia, Bukan Zaman

Mengapa Sheila On 7 begitu melekat lintas generasi? Jawabannya terletak pada kesederhanaan yang jujur. Lirik-lirik mereka tidak rumit, tetapi tepat. Tidak menggurui, tetapi memahami. Lagu-lagu Sheila On 7 berbicara tentang cinta yang canggung, rindu yang diam-diam, harapan yang sederhana. Dan kerennya tema-tema yang relevan bagi remaja 90-an, milenial, hingga Gen Z hari ini.

Seorang remaja mungkin menemukan Sephia lewat TikTok, sementara orang tuanya pernah menangis karena lagu yang sama dua puluh tahun lalu. Sheila On 7 menjembatani generasi tanpa harus beradaptasi secara paksa. Mereka tidak mengejar tren, tren yang datang menghampiri mereka.

Di setiap kota mereka manggung, dari kota besar hingga daerah, ribuan penonton selalu memadati. Tidak ada jeda generasi di barisan depan,yang ada hanya koor bersama.

Sheila On 7 adalah contoh langka band yang bertahan lama tanpa skandal besar, tanpa konflik terbuka, tanpa drama berlebihan. Mereka membangun karier lewat konsistensi, bukan sensasi. Dari album ke album, dari panggung ke panggung, Penulis sendiri menilan mereka ini justru menanamkan satu hal, kepercayaan.

 

Duta, Vokalis Sheila On 7 saat mampir di Calma Cafe, Banjarbaru dan foto bersama owner, Mutia Amana Nastiti dan karyawan. (Foto – Mutia).

Dalam industri musik yang sering memakan idola dengan cepat, Sheila On 7 justru tumbuh pelan tapi kokoh. Mereka tidak selalu produktif secara komersial, tetapi selalu relevan secara emosional. Dan itu jauh lebih sulit.

Fenomena militansi fans Sheila On 7 bukanlah hasil fanatisme kosong. Ia lahir dari hubungan emosional yang panjang dan tulus. Fans merekasering disebut Sheila Gank,tidak sekadar mengikuti band, tetapi tumbuh bersama mereka.

Tak heran jika seorang anggota dewan di DPRD Kalsel maupun Kabupaten Banjar hingga kepala dinas di Pemprov Kalsel, rela berdesak-desakan di antara ribuan penonton, untuk menyaksikan bintang pujaannya tampil.Bukan Fomo, namun karena kecintaan akan band yang menjadi satu diantara band Indonesia merangkul siapa saja dan masuk sejarah band terbaik negeri ini.

Bagi banyak orang, lagu Sheila On 7 adalah soundtrack masa sekolah, cinta pertama, patah hati, hingga fase dewasa. Maka ketika band ini tampil, yang hadir bukan sekadar penonton, melainkan kenangan yang hidup kembali.

Militansi itu bukan tentang membela membabi buta, melainkan tentang rasa memiliki.

Jika menengok penampilan di Buzz Youth Fest #4 kembali menegaskan bahwa Sheila On 7 bukan fenomena sesaat. Mereka adalah artefak budaya pop Indonesia,yang bertahan bukan karena nostalgia semata, tetapi karena kejujuran.

Di tengah dunia musik yang terus berubah, Sheila On 7 berdiri dengan caranya sendiri. Dan mungkin, justru itulah rahasianya, Duta dkk tidak berusaha menjadi siapa pun selain diri mereka sendiri.

Dan selama masih ada orang yang percaya bahwa lagu sederhana bisa menyentuh hati banyak orang, Sheila On 7 akan selalu punya panggung di mana pun, kapan pun. Maka nikmati musik indah yang tersuguh harmoni nan indah. (Muhammad Irfani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!