Volatilitas Global Tekan Rupiah, Euforia AI Berpotensi Jadi Penopang IHSG

0
SAHAM

Foto Ilustrasi - Seorang Tenaga Bursa Effek Indonesia sedang mengedukasi mahasiswa. (Foto - Risanta).

Saat ini pasar saham nasional masih akan bergerak volatil di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, dinamika nilai tukar rupiah, serta sensitivitas pasar terhadap arah kebijakan moneter. Namun demikian, adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi pasar modal Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Hans Kwee, Co-Founder PasarDana dalam kegiatan Edukasi Wartawan secara daring, yang membahas prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah ketidakpastian global, Jumat (23/01/2025).

Hans menjelaskan, pelemahan rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik global. Dalam kondisi ketidakpastian, investor global cenderung kembali ke aset aman, khususnya dolar AS, karena pasar negara berkembang dinilai lebih berisiko.

“Kalau tensi global meningkat dan Amerika Serikat bermasalah, biasanya dana kembali ke US dollar. Emerging market dianggap lebih berisiko, sehingga mata uangnya tertekan,” ujar Hans.

Meski demikian, ia menilai dampak geopolitik bersifat jangka pendek. Hans menyinggung dinamika kebijakan Amerika Serikat yang kerap diwarnai retorika keras, namun sering kali tidak sepenuhnya direalisasikan.

“Pasar sudah belajar. Banyak gertakan, tapi biasanya mundur saat sudah dekat implementasi. Itu yang membuat volatilitas tinggi,” katanya.

Terkait arah kebijakan Bank Indonesia (BI), Hans menilai pergantian pejabat di bank sentral tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar selama independensi BI tetap terjaga dan defisit fiskal terkendali.

Menurutnya, BI masih memiliki ruang kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa harus terburu-buru menurunkan suku bunga acuan. Salah satu fokus utama adalah mempercepat transmisi kebijakan agar suku bunga kredit dapat turun lebih cepat.

“BI harus tetap independen. Salah satunya dengan menahan bunga dan menggunakan instrumen kebijakan lain untuk mendorong pertumbuhan, sambil memastikan transmisi ke sektor riil berjalan,” jelas Hans.

Sementara itu, terkait dinamika sektor teknologi, Hans menilai adopsi AI menjadi sentimen positif bagi ekonomi dan pasar modal Indonesia. Penerapan AI dalam bisnis diyakini dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas perusahaan, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap kinerja saham.

“AI ini positif bagi ekonomi dan capital market kita. Adopsi AI dalam bisnis akan meningkatkan level profitabilitas perusahaan,” sambungnya lagi.

Menjawab pertanyaan apakah euforia saham berbasis AI dapat meningkatkan sensitivitas IHSG, Hans menilai hal tersebut justru berpotensi menjadi penopang pasar, selama investor selektif memilih emiten dengan fundamental kuat.

Ia menegaskan, volatilitas pasar yang tinggi saat ini tidak hanya menghadirkan risiko, tetapi juga peluang bagi investor.

“Volatilitas tinggi itu juga peluang. Kalau sahamnya bagus dan melemah karena sentimen global, itu bisa menjadi momentum beli,” tegas Hans.

Menurutnya, secara keseluruhan pasar saham Indonesia masih memiliki prospek yang konstruktif, dengan pergerakan IHSG yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor global, kebijakan moneter, serta ekspektasi pertumbuhan sektor-sektor berbasis teknologi.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!