Menyelamatkan Dunia Pendidikan dari Bencana Banjir

0
BANJIR DI MARTAPURA

Foto Ilustrasi - Seorang Relawan Perempuan sedang menemani dua siswa menuju sekolah. (Foto - Risanta).

Banjir yang merendam 926 sekolah di Kalimantan Selatan bukan sekadar persoalan infrastruktur yang rusak. Tentu kabar ini membuat miris hati kita. Karena data yang tersampaikan ini adalah peringatan keras bahwa dunia pendidikan kita masih sangat rentan terhadap bencana alam.

Ketika ruang kelas terendam, buku hilang, seragam hanyut, dan jadwal belajar terhenti, yang paling terdampak bukan hanya bangunan sekolah, melainkan masa depan anak-anak.Mereka kembali harus ke rumah, sesuatu yang tak dihendaki memaksa mereka tak bisa bersekolah.

Ada kekhawatiran bagi generasi ini.Karena jika tidak ditangani dengan strategi yang tepat, banjir berpotensi menciptakan learning loss berkepanjangan, terutama bagi siswa dari keluarga rentan. Karena itu, penyelamatan dunia pendidikan harus menjadi agenda prioritas, bukan sekadar respons darurat.

Langkah Jangka Pendek: Pastikan Belajar Tidak Terhenti

Dalam situasi darurat, fokus utama pemerintah daerah dan satuan pendidikan adalah menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar.

Pertama, pemulihan cepat fasilitas minimum. Sekolah yang rusak berat harus segera difungsikan secara darurat melalui ruang belajar sementara, seperti memanfaatkan balai desa, gedung pemerintah, rumah ibadah, atau sistem sekolah bergilir. Menunggu renovasi selesai tanpa solusi alternatif hanya akan memperpanjang ketertinggalan siswa.

Kedua, bantuan langsung kepada siswa. Kehilangan tas, seragam, dan buku bukan persoalan sepele bagi keluarga terdampak banjir. Bantuan perlengkapan sekolah harus dipercepat dan tepat sasaran agar siswa dapat kembali belajar tanpa beban psikologis dan ekonomi tambahan.

Ketiga, fleksibilitas kurikulum dan evaluasi. Sekolah di wilayah rawan banjir perlu diberi kelonggaran dalam penerapan target pembelajaran. Penilaian harus berorientasi pada pemulihan, bukan sekadar pencapaian angka akademik.

Keempat, pendampingan psikososial. Anak-anak korban banjir bukan hanya kehilangan fasilitas, tetapi juga rasa aman. Pendampingan oleh guru, konselor, dan relawan menjadi penting untuk memastikan kesiapan mental siswa kembali ke sekolah.

Langkah Jangka Panjang: Pendidikan Harus Tahan Bencana

Penanganan jangka pendek tidak akan cukup tanpa perubahan struktural. Kalimantan Selatan, dengan karakter wilayah rawa dan sungai, harus mengembangkan sistem pendidikan yang adaptif terhadap banjir.

Pertama, desain sekolah tahan banjir. Revitalisasi sekolah tidak boleh hanya mengganti tembok dan lantai, tetapi harus berbasis mitigasi bencana: bangunan panggung, elevasi lantai, sistem drainase sekolah, serta penyimpanan perlengkapan belajar di area aman.

Kedua, pemetaan sekolah rawan banjir. Pemerintah daerah perlu memiliki peta risiko yang jelas untuk menentukan sekolah mana yang harus direlokasi, ditinggikan, atau disiapkan dengan skema pembelajaran alternatif permanen.

Ketiga, integrasi teknologi pembelajaran. Sekolah di wilayah rawan banjir harus disiapkan dengan sistem pembelajaran daring atau hybrid yang sederhana dan inklusif. Bukan sekadar platform digital, tetapi juga pelatihan guru dan akses perangkat bagi siswa.

Keempat, pendidikan kebencanaan sejak dini. Kurikulum lokal perlu memasukkan materi kesiapsiagaan bencana agar siswa dan sekolah tidak selalu berada dalam posisi reaktif, melainkan siap dan tangguh.

Pendidikan Tidak Boleh Menjadi Korban Bencana

Banjir mungkin tidak bisa sepenuhnya dihindari, tetapi ketertinggalan pendidikan bisa dicegah. Negara, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat harus berdiri pada satu kesepahaman dan menegaskan anak-anak tidak boleh menanggung dampak berkepanjangan dari bencana yang terjadi di luar kendali mereka.

Menyelamatkan dunia pendidikan dari banjir bukan hanya soal membangun kembali gedung sekolah, melainkan memastikan hak belajar tetap terpenuhi, kapan pun dan dalam kondisi apa pun. Karena di balik setiap ruang kelas yang terendam, ada masa depan yang harus tetap dijaga.(Muhammad Risanta).

Penulis adalah Seorang Akademisi – Jurnalis Senior.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!