Bamasakan Urang Banjar Warisan Budaya dan Tren Kebersamaan

0
BAMASAKAN

Foto Ilustrasi - Suasana Bamasakan menjadi tren hingga kini, di mana dan kapan pun, ketika berkumpul menjadi wadah silaturahmi warga. (Foto- Olpah Sari).

Oleh: Made Ludya Edwi Santhy

Di tengah perubahan sosial yang ditandai oleh individualisme dan efisiensi instan, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan menyimpan satu praktik kebudayaan yang justru bergerak berlawanan arah yaitu bamasakan.

Tradisi memasak bersama ini bukan sekadar aktivitas kolektif menjelang hajatan atau perayaan keagamaan, melainkan produk peradaban sosial yang terbentuk dari kebutuhan ekologis, nilai agama, dan struktur masyarakat sungai.

Secara historis, bamasakan telah dikenal sejak masa awal Kesultanan Banjar (abad ke-16). Catatan etnografi kolonial Belanda, termasuk dalam studi Volkenkunde van Borneo, menyebutkan kuatnya budaya gotong royong masyarakat Banjar dalam aktivitas pangan dan ritual sosial.

Pola pemukiman di bantaran sungai, keterbatasan akses logistik, serta tradisi hajatan massal mendorong lahirnya sistem produksi makanan berbasis kolektif,efisien, adaptif, dan berkelanjutan.

Dari sudut pandang antropologi, bamasakan merupakan bentuk communal labor system. Penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan (2018) menunjukkan bahwa lebih dari 72 persen masyarakat Banjar pedesaan masih mempertahankan praktik memasak bersama dalam acara adat dan keagamaan. Tradisi ini berfungsi sebagai mekanisme redistribusi sumber daya, memperkuat kohesi sosial, sekaligus memperkecil jarak kelas sosial dalam komunitas.

Secara sosiologis, bamasakan memiliki dampak nyata. Studi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tahun 2021 mencatat bahwa komunitas yang aktif menjalankan tradisi gotong royong, termasuk bamasakan, memiliki tingkat konflik sosial 35 persen lebih rendah dibanding komunitas yang tidak lagi mempraktikkannya. Kebersamaan dalam dapur kolektif terbukti meningkatkan rasa saling percaya (social trust) dan empati antarwarga.

 

Foto Ilustrasi -Bamasakan juga selalu mewarnai dalam Tradisi Bubur Asyura di Banjarmasin. (Foto – Olpah Sari).

Dimensi religius turut menguatkan tradisi ini. Dalam budaya Banjar yang kental dengan nilai Islam, bamasakan dipandang sebagai amal sosial. Prinsip sadaqah, ta’awun (tolong-menolong), dan ukhuwah terwujud secara konkret. Tidak mengherankan bila bamasakan menjadi pemandangan umum dalam haul ulama, peringatan hari besar Islam, hingga dapur umum saat bencana.

Menariknya, dalam satu dekade terakhir, bamasakan mengalami transformasi menjadi tren sosial baru. Fenomena ini terlihat dari maraknya dapur umum swadaya, posko relawan, hingga konten media sosial yang menampilkan aktivitas memasak massal untuk kepentingan publik.

Data Dinas Kebudayaan Kalsel (2023) mencatat peningkatan 48 persen kegiatan sosial berbasis komunitas yang menggunakan konsep bamasakan, terutama pascapandemi Covid-19.

Pandemi menjadi titik balik. Ketika krisis memperlihatkan rapuhnya sistem individual, masyarakat kembali pada nilai lama yang terbukti tangguh. Bamasakan hadir sebagai jawaban lokal terhadap krisis global, murah, cepat, dan menguatkan solidaritas.

Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, tradisi ini juga selaras dengan konsep sustainable community. Memasak bersama menekan pemborosan pangan, mengoptimalkan sumber daya lokal, dan memperkuat ekonomi berbasis solidaritas. Inilah kearifan lokal yang relevan dengan tantangan zaman.

Bamasakan bukan nostalgia romantik, melainkan praktik peradaban yang hidup dan berkembang. Ketika hari ini ia menjadi tren, sejatinya masyarakat Banjar sedang menegaskan satu hal penting, kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Terkadang, justru dengan kembali ke nilai-nilai lama, masa depan bisa dibangun lebih manusiawi.

Menjaga bamasakan berarti menjaga denyut peradaban Banjar, sebuah peradaban yang lahir dari sungai, diperkaya adat, dan dikuatkan kebersamaan.

Penulis adalah Penggiat Pariwisata Kalsel- Tour Guide.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!