Menjaga Detak Jantung Kalimantan Selatan

0
JANTUNG INDONESIA UTAMA

Foto Ilustrasi - Kampanye Hidup Sehat menjaga Jantung Indonesia dan Kalsel (Foto-Economic Travelling.Com).

Pelantikan Pengurus Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Kalimantan Selatan periode 2025–2030 bukan sekadar agenda organisasi. Namun ini  menjadi penanda penting bagaimana isu kesehatan jantung semakin menempati posisi strategis dalam pembangunan manusia, khususnya di daerah yang tengah bertumbuh secara ekonomi dan mobilitas seperti Kalimantan Selatan.

Tahun 2025 juga menandai 44 tahun perjalanan Yayasan Jantung Indonesia. Selama lebih dari empat dekade, YJI konsisten menjalankan visi menciptakan masyarakat Indonesia yang unggul, sehat, dan terbebas dari ancaman penyakit jantung dan pembuluh darah.

Komitmen itu tidak berhenti pada kampanye, tetapi menjelma menjadi aksi nyata, termasuk bantuan bagi anak-anak penderita penyakit jantung bawaan dari keluarga kurang mampu.

Hingga kini, lebih dari 2.641 pasien penyakit jantung bawaan telah mendapatkan bantuan. Sepanjang 2025 saja, 179 pasien telah tertangani, sementara 189 pasien lainnya masih menunggu.

Angka-angka ini berbicara jujur: penyakit jantung bukan sekadar persoalan medis, melainkan isu sosial, ekonomi, dan keberlanjutan kualitas hidup.

“Setiap anak berhak memiliki jantung yang sehat, tidak ada keluarga yang berjuang sendirian, dan setiap manusia berhak atas hidup yang berkualitas.” Pernyataan ini bukan retorika. Ia adalah fondasi etis bahwa investasi kesehatan jantung sejatinya adalah investasi masa depan bangsa.

 

Karikatur Ilustrasi – Economic Travelling.Com

Kesehatan Jantung dan Produktivitas Daerah

Dalam perspektif Economic Travelling, kesehatan jantung berkaitan langsung dengan produktivitas manusia, kualitas perjalanan hidup, dan daya saing daerah. Penyakit jantung termasuk dalam empat penyakit utama penyebab kematian dan beban ekonomi terbesar, baik bagi rumah tangga maupun negara.

Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman mengingatkan bahwa jantung adalah pusat kehidupan yang harus dikelola melalui gaya hidup sehat secara konsisten. Pola makan seimbang, tidur cukup, olahraga teratur, dan menjauhi rokok bukan sekadar nasihat kesehatan, melainkan strategi pembangunan sumber daya manusia.

Ketika masyarakat sehat, biaya kesehatan menurun, produktivitas meningkat, dan mobilitas,baik untuk bekerja, berwisata, maupun beribadah—menjadi lebih aman dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, kesehatan jantung adalah prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Ketua YJI Kalimantan Selatan Ellyana Trisya Hasnuryadi menegaskan bahwa kehadiran YJI tidak boleh berhenti sebagai organisasi struktural. Ia harus tampil sebagai gerakan sosial yang nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Tantangan ke depan tidak ringan. Perubahan gaya hidup, pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta tingkat stres yang tinggi adalah konsekuensi dari modernisasi dan urbanisasi. Tanpa intervensi preventif, penyakit jantung akan terus menjadi “biaya tersembunyi” pembangunan.

Karena itu, fokus YJI ke depan pada edukasi preventif, kampanye hidup aktif, pembinaan kader jantung sehat, serta deteksi dini hingga ke lapisan masyarakat terbawah patut diapresiasi. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan, akademisi, media, komunitas lokal, hingga pemanfaatan teknologi digital menjadi kunci agar pesan kesehatan jantung menjangkau generasi muda.

Editorial ini mencatat satu pesan penting, kesehatan jantung bukan tanggung jawab satu lembaga. Ia membutuhkan sinergi antara pemerintah, organisasi sosial, dunia usaha, media, dan keluarga. Peran ibu dalam keluarga, sebagaimana disampaikan Wakil Gubernur, menjadi benteng pertama pembentukan gaya hidup sehat.

Ketika pengabdian dijadikan ruh utama dan perbedaan latar belakang dipandang sebagai kekuatan, gerakan jantung sehat akan tumbuh menjadi modal sosial yang kokoh. Dari sinilah Kalimantan Selatan dapat melangkah menuju masyarakat yang tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga berdetak sehat.

Pada akhirnya, menjaga jantung bukan hanya soal memperpanjang usia, melainkan tentang menjaga kualitas perjalanan hidup manusia. Dan di situlah YJI, bersama seluruh pemangku kepentingan, memainkan peran strategisnya agar pembangunan daerah terus berdetak, kuat, dan berkelanjutan.(Tim Redaksi).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!