Di Balik Panggung Event, Ketahanan UMKM dan Peran Bank Daerah

0
KARIKATUR BANK KALSEL

Karikatur Ilustrasi - Peran Bank Kalsel mendorong UMKM Banua semakin berkualitas dan naik kelas.

Keramaian sering disalahpahami sebagai pertumbuhan. Dalam ekonomi perkotaan, ia memang penting tetapi tidak pernah cukup. Event publik seperti Pekan Aksel menciptakan momentum, bukan fondasi. Event ini membuka pintu, tetapi tidak otomatis membangun rumah.

Di Kalimantan Selatan sendiri, ekosistem UMKM bergerak jauh lebih besar dari sekadar panggung acara. Berdasarkan pendataan Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) per Desember 2024, wilayah ini memiliki sekitar lebih dari setengah juta unit UMKM, terdiri dari 507.230 usaha mikro, 2.201 usaha kecil, dan 335 usaha menengah yang terdata secara resmi. Jumlah ini menjadi gambaran betapa luasnya basis ekonomi yang bergerak di tataran lokal Banua(Data Diskominfo Kalsel).

UMKM di daerah hidup dalam paradoks, mereka dekat dengan pasar,kuliner, kriya, mode, perdagangan,tetapi sering jauh dari sistem keuangan formal. Mereka adaptif, tumbuh dari kebutuhan lokal, namun tetap rentan terhadap perubahan ekonomi besar.

Banyak yang mampu bertransaksi tunai di warung atau outlet mereka, tetapi kesulitan menembus kriteria perbankan formal untuk mendapatkan pembiayaan yang dapat mendongkrak kapasitas produksi. Di ruang inilah bank daerah seharusnya hadir sebagai penerjemah, untuk mengubah aktivitas ekonomi menjadi akses yang lebih adil.

 

Foto Ilustrasi – Dukungan Bank Kalsel untuk berbagai event yang melibatkan UMKM di Banua. (Foto-Humas Bank Kalsel).

Dalam konteks ini, kontribusi lembaga seperti Bank Kalsel layak mendapat sorotan. Sebagai bank milik pemerintah daerah, perannya tidak berhenti pada fungsi keuangan standar.Namun Bank yang sekarang dibawah kepemimpinan Fachrudin,  juga menjaga hubungan sosial dan ekonomi yang halus antara modal, peluang, dan pemerataan kesejahteraan. Berikut adalah beberapa bentuk nyata kontribusi Bank Kalsel yang mulai mengukir jejak di ekosistem UMKM:

Program Rombong Barakah — melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ), Bank Kalsel memberikan bantuan gerobak usaha kepada pelaku UMKM pra sejahtera di awal 2025, sebagai upaya langsung mendukung usaha mikro kecil di wilayah kota. Penyerahan itu dilakukan secara simbolis kepada pelaku usaha kuliner, seperti pentol dan bubur ayam, menunjukkan bahwa dukungan modal tidak selalu harus melalui kredit, tetapi juga melalui alat produksi yang praktis.

Penghargaan dan digitalisasi transaksi — pelaku UMKM binaan Bank Kalsel, seperti pedagang kuliner yang berhasil memaksimalkan penggunaan QRIS, menunjukkan bahwa bank juga berperan mendorong penerapan teknologi pembayaran modern. Kepada merchant yang tampil paling menonjol di festival digital, penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi untuk merangkul transaksi digital secara berkelanjutan. Pemanfaatan QRIS membuka pintu akses data transaksi yang lebih akurat dan aman, sekaligus mengurangi ketergantungan pada uang tunai.

Bantuan sarana usaha melalui CSR dan momentum perayaan lokal — dalam momen seperti HUT Bank Kalsel, beberapa gerobak usaha yang lebih representatif diberikan kepada pelaku UMKM sebagai bagian dari program berbagi. Ini menunjukkan bahwa di luar aktivitas inti perbankan, bank turut berkontribusi melalui tanggung jawab sosial yang memang menyentuh kehidupan pelaku usaha kecil secara langsung

Kolaborasi dan diskusi tematik — Bank Kalsel juga tidak hanya berinteraksi dengan UMKM melalui transaksi, tetapi terlibat dalam dialog strategis bersama lembaga lain seperti BPKP Provinsi, dengan agenda mendukung UMKM naik kelas. Diskusi semacam ini penting untuk membangun pemahaman bersama dan membuka wawasan pelaku usaha terhadap praktik pengembangan usaha yang lebih luas.

Event memberikan bank data yang tidak tercatat dalam laporan keuangan, ritme jualan, daya tahan usaha, hubungan dengan konsumen, serta pola permintaan lokal. Data semacam ini bernilai tinggi jika dibaca  bukan hanya melalui lensa kehati-hatian administratif, tetapi juga empati ekonomi. Tanpa tindak lanjut yang cermat, semua itu akan menguap bersama selesainya acara, kembali ke rutinitas hari biasa yang jauh lebih sunyi dan penuh tantangan.

Keberpihakan terhadap UMKM tidak diukur dari banyaknya stan yang berdiri di Pekan Aksel, melainkan dari berapa banyak pelaku usaha yang mampu naik kelas setelahnya, untuk mendapatkan akses kredit yang layak, pendampingan usaha yang berkelanjutan, serta literasi keuangan yang membumi.

Skema kredit adaptif, dukungan teknologi, dan proses pembiayaan yang mempertimbangkan konteks lokal adalah pekerjaan sunyi yang jarang terlihat di panggung acara namun justru menentukan masa depan ekonomi daerah.

Pekan Aksel 2025 membuka peluang untuk itu. Momentum keramaian ini dapat menjadi batu pijakan jika dibaca sebagai awal perjalanan panjang, bukan sekadar puncak kunjungan publik. Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar, apakah keramaian ini hanya akan dikenang sebagai peristiwa yang menyenangkan, atau diterjemahkan menjadi kebijakan yang bertahan lebih lama dari gemerlap panggungnya?

Karena pada akhirnya, pembangunan ekonomi lokal bukan soal berapa banyak orang yang hadir di acara, tetapi berapa banyak dari mereka yang kembali ke rumah dengan peluang baru, bukan hanya cerita singkat tentang keramaian semalam.Terus bergerak Bank Kalsel dan berkembang bagus pelaku UMKM Banua. (Tim Redaksi).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!