Pasar Rakyat dan Peran Bank Kalsel Menahan Laju Inflasi
Karikatur Ilustrasi - Keterlibatan kalangan industri perbankan seperi Bank Kalsel menyokong gerakan ekonomi kerakyatan.
Kenaikan harga yang terjadi sepanjang 2025 kembali mengingatkan kita bahwa inflasi tidak lahir dari ruang kosong. Inflasi itu menurut sebagian pengamat ekonomi adalah hasil dari kombinasi biaya logistik yang menanjak, harga energi yang terdorong ke atas, serta struktur distribusi yang panjang dan kerap tidak efisien.
Di tengah dinamika ini, salah satu intervensi yang paling nyata justru datang dari inisiatif sederhana yang dampaknya langsung terasa oleh masyarakat, yakni Pasar Rakyat.
Kegiatan Pasar Rakyat yang digelar di Kecamatan Banjarmasin Timur pada awal Desember 2025 memotret bagaimana instrumen stabilisasi harga dapat bekerja secara efektif ketika pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan lembaga perbankan hadir pada titik yang sama.
Bank Kalsel melalui Direktur Kepatuhan Mitra Damayanti menegaskan komitmen tidak hanya sebagai penyokong kegiatan, tetapi sebagai mitra pembangunan ekonomi daerah yang memahami denyut UMKM dan kebutuhan masyarakat.
Inflasi Kalimantan Selatan sepanjang tahun menunjukkan pola yang menguat sejak pertengahan tahun. Januari hanya berada di kisaran 0,6 % namun perlahan merangkak hingga melampaui 3 % pada Oktober 2025.
Kenaikan bertahap itu sejalan dengan pola tekanan nasional yang berada di kisaran 2,7 % pada November. Tekanan harga pangan, tarif transportasi yang terdorong naik, serta penyesuaian energi menjadi pemicu utama yang dirasakan rumah tangga.

Di titik inilah Pasar Rakyat memainkan peran strategis. Pertama harga menjadi lebih bersahabat karena rantai distribusi dipangkas hingga ke bentuk yang paling dasar. Produsen lokal bertemu langsung dengan konsumen tanpa biaya perantara yang kerap menjadi penyebab harga naik sebelum sampai di dapur rumah tangga.
Kedua kegiatan ini menciptakan ruang pemasaran yang lebih luas bagi UMKM yang selama ini bergantung pada kios dan toko dengan biaya sewa yang tidak kecil.
Ketiga Pasar Rakyat memberi sinyal bahwa pemerintah daerah tidak hanya reaktif atas angka inflasi bulanan tetapi melakukan langkah preventif menjelang puncak konsumsi akhir tahun.Ini memang harapan bersama.
Bank Kalsel hadir dengan pendekatan yang lebih dalam dari sekadar dukungan fasilitas kegiatan. Skema pembiayaan ringan pendampingan literasi keuangan dan fasilitasi digitalisasi menjadi paket lengkap yang memungkinkan UMKM meningkatkan efisiensi produksi dan akses pemasaran.
Ketika UMKM bekerja lebih efisien struktur biaya mereka menurun dan harga jual dapat lebih terkendali. Efek berantainya bergerak ke masyarakat dalam bentuk harga barang yang tidak terlalu melonjak.
Sinergi seperti ini menegaskan bahwa stabilitas harga bukan hanya soal angka statistik tetapi juga soal ketahanan sosial ekonomi masyarakat. Ketika daya beli terjaga tekanan inflasi dapat diredam lebih cepat dan perekonomian daerah memiliki ruang untuk tumbuh lebih sehat.
Pasar Rakyat bukanlah solusi tunggal namun menjadi bagian dari ekosistem kebijakan yang saling melengkapi antara sektor publik dan sektor keuangan.
Pada akhirnya komitmen Bank Kalsel untuk terus menopang UMKM adalah investasi sosial yang menciptakan efek ganda. UMKM tumbuh lebih kuat masyarakat memperoleh akses harga yang lebih wajar dan ekonomi daerah bergerak dengan ritme yang lebih stabil.
Dalam situasi global yang tidak menentu serta risiko kenaikan harga yang dapat datang sewaktu waktu kehadiran intervensi nyata seperti Pasar Rakyat menjadi penegasan bahwa stabilitas ekonomi daerah dapat dijaga melalui kerja bersama.
Sejatinya memang Editorial kami ini percaya kalau Kalimantan Selatan memiliki modal kuat untuk menjaga daya beli dan menahan laju inflasi. Selama sinergi tetap terjaga dan keberpihakan pada UMKM tidak berubah perekonomian daerah akan menemukan jalannya untuk terus tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.Semoga dan semoga.(Tim Redaksi).
