Rindu Membawa Razak Menembus Ribuan Kilometer ke Sekumpul
Abdul Razak dilepas istri, anak dan kerabat dari Serdang Bedagai menuju Sekumpul Martapura. (Foto-Dok Pribadi Abdul Razak).
Senin pagi , 1 Desember 2025, dengan udara dingin lembab di Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Abdul Razak menyalakan motor tuanya dengan hati berdebar. Hari itu, ia memulai perjalanan ribuan kilometer menuju Martapura, Kalimantan Selatan.
Bukan untuk wisata, bukan untuk pekerjaan, tetapi demi satu hal yang ia simpan setahun penuh di dalam dada. menghadiri Haul Guru Sekumpul.
Razak bukan orang yang mudah tergugah oleh hal-hal seremonial. Hidupnya sederhana, pekerjaannya biasa saja, namun ada satu hal yang membuat laki-laki lima puluh tahunan itu rela menembus pulau, menantang cuaca, dan menaklukkan rasa lelah,rindu pada seorang ulama yang ia hormati setinggi-tingginya.
“Bagi saya,” katanya pelan, “perjalanan ini bukan pilihan. Ini kebutuhan hati.”
Tahun lalu, cerita Razak sempat menjadi buah bibir di kampungnya dan Indonesia. Dengan sepeda tua, ia nekat melintasi Sumatra–Jawa–Kalimantan hanya demi hadir di Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan.
Ia mengayuh ribuan kilometer, membiarkan hujan dan panas menjadi teman, dan membuktikan bahwa tekad manusia bisa menaklukkan batas fisik. Namun perjalanan pulang saat itu berubah menjadi catatan tersendiri.
Di jalur menanjak Sumatra Barat, lututnya sempat cedera. Ia terpaksa berhenti beberapa hari di rumah warga yang menolongnya. Cedera itu meninggalkan nyeri yang kadang masih muncul saat ia salah melangkah.
Tetapi nyeri itu tidak memadamkan keinginannya. Jika ada yang justru menguatkannya, itu adalah rasa syukur setelah perjalanan panjang itu.
“Rasa sakit hilang,” katanya mengenang, “tapi keberkahannya tinggal sampai hari ini.”

Karena itulah, tahun ini Razak memutuskan untuk tetap berangkat. Namun dengan cara yang lebih bijak menggunakan sepeda motor. Bukan motor besar, bukan motor baru, hanya GTO 1981 keluaran lama yang ia rawat dengan penuh kesabaran.
Motornya sendiri dicustom atau dibuat bersama dua sahabatnya Masdar (spesialis pengecatan) dan Aloy (spesialis perliatrikan), DKW custom 1956 menelan waktu selama lima bulan dalam pengerjaan, mulai Juli hingga Nopember 2025 dengan BBM 2 Tak.
Oli pun ia ganti sendiri, rem ia setel ulang, dan ban ia pastikan masih layak menempuh jarak panjang. Ia tidak punya banyak modal, tetapi ia percaya sesuatu yang lebih besar akan menjaganya selama di jalan.
Subuh itu, istrinya menatapnya lama. Ada kecemasan yang tidak bisa disembunyikan dari wajah perempuan yang selama ini menemani hidupnya di kampung.
“Hati-hati kau, Yah,” ucapnya sambil menggenggam tangan Razak.
Razak tersenyum, memegang erat tangan sang istri. “Doa ibu yang saya bawa.”
Ia hanya membawa sebuah ransel kecil, dua stel baju, selembar sajadah tipis, jas hujan, botol minum, dan foto kecil Guru Sekumpul yang ia laminating sendiri. Tidak ada perlengkapan mewah, tidak ada kelebihan. Tetapi perjalanan spiritual memang tidak menuntut banyak. Yang penting adalah hati yang siap dan niat yang kuat.

Perjalanan Razak mungkin tampak gila bagi sebagian orang. Ribuan kilometer? Menghabiskan hari demi hari untuk satu acara? Mengorbankan tenaga, waktu, dan kesehatan?
Tetapi bagi Razak, perjalanan ini bukan soal jarak. Bukan soal kendaraan. Bahkan bukan soal pengorbanan. Ini soal pulang. Pulang kepada kerinduan. Pulang kepada keberkahan. Pulang kepada sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.
Pukul 22.00 Wita dia pun menghubungi salah satu sahabatnya, seorang Jurnalis senior di Banjarmasin, Muhammad Risanta. Razak mengabarkan kalau dia sekarang sudah ada di depan SPBU Simpang Kawat, Asahan, Sumatera Utara.
“Alhamdulillah, beristirahat dulu disini, sambil ngecharge baterai handphone dan aki motor. Biar perjalanan panjang jadi nyaman,” tuturnya sambil menghirup kopi panas dan kue bolu meranti khas Medan.
Razak sendiri memilih beristirahat agar tubuhnya bugar menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Sekumpul Martapura. Udara dingin di kota Asahan menjelang tengah malam membuat ia bertahan beberapa jam.
“Julak Risanta, doakan ulun lah agar perjalanan ini semakin lancar dan dimudahkan ke Kalimantan Selatan. Titip salam buat warga Banua, ulun himung bisa tulak lagi ke Haul Abah Guru Sekumpul,” tutupnya sambil tidur-tiduran di serambi mushola SPBU Simpang Kawat Asahan. (Muhammad Irfani).
