Sisigan Kariau Sima Saat Ingatan Menjadi Horor
Foto : Instagram Official Sisigan Kariau Sima.
Film pendek terbaru dari Ruang Aktor Project berjudul Sisigan Kariau Sima siap mengajak penonton menyelami lapisan terdalam ketakutan manusia. Karya yang digagas oleh Bastari Bayu ini lahir dari perpaduan folklore Banjar dan horor psikologis yang menyentuh luka ingatan serta trauma masa lalu. Film ini menjadi salah satu yang terpilih dalam program Banua Film Fund 2025 yang mendukung pengembangan film daerah.
Sisigan Kariau Sima mengikuti perjalanan Bayu seorang penulis novel yang hidupnya perlahan diganggu suara tangisan misterius setiap malam. Suara itu terdengar dekat seakan memanggilnya kembali pada sesuatu yang sudah lama ia kubur dalam ingatan. Bersama putrinya Ima ia memutuskan kembali ke desa untuk mencari ketenangan namun ketenangan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika suara tersebut semakin nyata dan semakin menuntut perhatiannya. Dari sinilah penonton diajak menyaksikan bahwa horor sesungguhnya tidak selalu datang dari sosok gaib tetapi dari masa lalu yang belum selesai.
Bastari Bayu menggarap film ini dengan pendekatan intim. Ia ingin menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari hari dan tidak sekadar mengandalkan efek kejut. Menurutnya setiap orang membawa ketakutan sendiri dan film ini mencoba menyentuh ruang personal tersebut. Folklore Anak Sima menjadi pintu masuk untuk memperlihatkan bagaimana budaya Banjar menyimpan cerita yang penuh emosi dan simbol.
Film ini diperkuat oleh deretan aktor Ruang Aktor Acting School seperti Asheeqa Bastari Aisyla Rahma Fatimah Azizah Rohit Rendra dan Umi Naura Al. Aktris senior Kalimantan Selatan Hj Ely Rahmi turut hadir memberikan warna tersendiri. Sementara Erpan Lele tampil dalam peran singkat namun sangat menentukan alur cerita. Produksi berlangsung di Banjarmasin Bati Bati Banjarbaru dan kawasan Bukit Batu Kabupaten Banjar selama lima hari yang intens dan padat. Produser Herpandi menyampaikan bahwa seluruh proses berjalan atas dasar kolaborasi sehingga setiap kru memiliki peran penting.
Film ini juga mendapat dukungan dari para kurator Banua Film Fund yaitu Ahmad Maulanna Agung Aritatno dan Munir Sadikin yang terlibat dalam supervisi teknis penulisan dan proses penyuntingan. Dukungan komunitas kreatif Banua semakin memperkuat produksi mulai dari Forum Sineas Banua Baswara Cinema Bias Studio hingga berbagai sponsor lokal. Bagi Bayu dukungan kolektif tersebut menjadi energi utama yang membentuk film ini.
Meski mendapatkan ruang pemutaran dan perhatian publik Bayu menegaskan bahwa harapannya tetap sederhana. Ia ingin penonton merasa dekat dengan cerita dan menemukan bagian dirinya dalam ketakutan yang dialami tokoh Bayu. Jika film ini melangkah lebih jauh ke festival nasional itu adalah bonus tetapi keterhubungan dengan penonton Banua adalah hal yang terpenting.
Sisigan Kariau Sima bukan hanya film horor. Ia adalah perjalanan menuju luka yang pernah disembunyikan seseorang. Sebuah pengingat bahwa masa lalu tidak selalu hilang. Terkadang ia kembali dalam bentuk yang tidak kita duga. Dan ketika ingatan menjadi horor pertanyaan utamanya adalah apakah kita siap untuk menghadapinya.(Muhammad Irfani).

