Mengapa Ada Hari Guru, tetapi Tidak Ada Hari Dosen?

0
DOSEN DAN GURU.

Karikatur Ilustrasi - Tim Redaksi.

Oleh Muhammad Risanta SE MM

Setiap 25 November, Indonesia merayakan Hari Guru Nasional. Di sekolah-sekolah, siswa berbaris rapi mengikuti upacara, media sosial dipenuhi ucapan terima kasih, dan gema penghormatan untuk para guru mengalir dari berbagai penjuru. Di tengah suasana yang penuh penghargaan itu, muncul satu pertanyaan yang sesekali mencuat: mengapa ada Hari Guru, tetapi tidak ada Hari Dosen?

Pertanyaan sederhana ini sebenarnya menyimpan refleksi panjang tentang sejarah pendidikan Indonesia, struktur sosial, dan persepsi kita terhadap dunia keilmuan.

Hari Guru lahir dari akar historis yang kuat. Tanggal 25 November merujuk pada berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia, organisasi yang menjadi simbol perjuangan guru dalam membebaskan bangsa dari kolonialisme. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi mengambil bagian dalam gerakan kebangsaan. Peristiwa sejarah inilah yang kemudian diperingati setiap tahun.

Sementara itu, dunia pendidikan tinggi tumbuh melalui jalur berbeda. Dosen berperan strategis dalam ilmu pengetahuan, tetapi tidak memiliki satu momentum historis tunggal yang menjadi dasar penetapan hari nasional.

 

Foto Ilustrasi – Suasana kampus kelas malam di sebuah perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

Kampus tidak terikat pada satu organisasi tunggal seperti PGRI, sehingga tidak ada satu momen simbolik yang kemudian menjadi rujukan negara untuk menetapkan Hari Dosen.

Selain faktor sejarah, persepsi publik juga berpengaruh. Guru adalah figur yang hadir sejak masa kecil. Semua orang pernah dibimbing oleh guru sebelum merasakan pendidikan tinggi. Karena itu, penghargaan terhadap guru terasa lebih universal, lebih dekat, dan lebih emosional. Sementara peran dosen baru dipahami ketika seseorang memasuki perguruan tinggi, yakni ruang yang tidak diakses seluruh warga.

Namun, apakah ketiadaan Hari Dosen berarti kontribusi mereka kurang penting? Tentu tidak. Dalam dunia modern, dosen memainkan peran kunci sebagai penghasil ilmu pengetahuan, pemandu riset, dan pengarah pemikiran kritis.

Dosen membentuk paradigma baru dalam bisnis, ekonomi, teknologi, hingga kebijakan publik. Mereka menjaga napas keilmuan bangsa.

Di kampus, penghargaan memang tidak selalu bersifat seremoni. Penghormatan hadir dalam bentuk lain: reputasi akademik, karya ilmiah, penelitian, kolaborasi, dan peran dalam mencetak generasi pemimpin. Dosen terbiasa bekerja dalam budaya reflektif, tenang, dan lebih banyak bicara melalui karya.

Namun ada alasan untuk merenung:,apakah penghargaan moral bagi dosen saat ini sudah memadai? Ataukah bangsa ini sebenarnya perlu momentum nasional untuk kembali mempertegas pentingnya pendidikan tinggi?

Keberadaan atau ketiadaan Hari Dosen seharusnya tidak mengaburkan fakta bahwa guru dan dosen adalah mata rantai tak terpisahkan dalam pembangunan bangsa. Guru membuka pintu pengetahuan, dosen memperluas cakrawalanya. Guru menanamkan dasar karakter, dosen mengasah daya kritis. Guru membentuk masa kecil bangsa, dosen membentuk arah masa depannya.

Mungkin tugas kita bukan sekadar memperdebatkan peringatannya, tetapi memastikan penghormatan pada pendidik, di semua jenjang, tetap hidup, relevan, dan nyata.

Karena tanpa pendidik, Indonesia memang bisa berjalan.Tetapi tanpa pendidik yang dihormati dan dihargai, Indonesia akan kehilangan arah.Terlepas itu semua, izinkan kami pribadi mengucapkan Selamat Hari Guru, Bapak dan Ibu semua.

Penulis Adalah Ahli Pers Dewan Pers & Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!