Hujan Datang, Pertahanan Kalsel Menguat
Karikatur Ilustrasi - Tim Redaksi.
Memasuki masa pancaroba, Kalimantan Selatan kembali menegakkan garis pertahanannya. Pemerintah Provinsi bersama Dinas Sosial mengaktifkan seluruh sistem perlindungan sosial untuk menghadapi musim hujan yang diprediksi datang lebih awal.
BMKG menyebut puncak hujan akan berlangsung pada November–Desember 2025, dengan sebagian wilayah masih berpotensi mengalami intensitas tinggi hingga Januari 2026. Sifat hujan mayoritas berada pada kategori normal, namun sejumlah zona diprediksi bisa mencapai atas normal, sebuah petunjuk penting bahwa risiko hidrometeorologi perlu diantisipasi secara lebih serius.
Di tengah dinamika cuaca ini, Kalsel tidak menunggu. Pemerintah bergerak memperkuat Kampung Siaga Bencana (KSB) yang kini mencapai 24 titik, dilengkapi 46 lumbung sosial dan 3 Kawasan Siaga Bencana (KWSB) sebagai simpul mitigasi berbasis komunitas.
Di tingkat lokal, KSB menjadi sekolah kecil mitigasi—melatih warga membaca tanda-tanda bahaya, mengenali jalur evakuasi, hingga mengaktifkan solidaritas ketika situasi memburuk.
Plh. Kepala Dinas Sosial Kalsel, Achmadi, menegaskan bahwa penguatan ini bukan respons sementara, tetapi strategi perlindungan jangka panjang. Inventarisasi lumbung terus dilakukan, terutama yang mulai menipis atau kosong.
Berbagai kebutuhan akan diisi kembali melalui dukungan ganda APBD dan APBN, agar bantuan tidak tumpang tindih dan setiap daerah mendapatkan suplai yang relevan dengan situasi lapangannya.
“Kami siap. Peralatan, personel, hingga logistik sudah dalam posisi siaga,” ujar Achmadi seperti dilansir MC Kalsel, Senin (24/11/2025).
Di gudang provinsi, paket pangan, tenda serbaguna, selimut, dan perlengkapan evakuasi mulai disiapkan kembali. Sementara itu, BNPB menyiapkan pemasangan unit sirene peringatan dini banjir di sejumlah lokasi prioritas,upaya penting untuk memperkuat sistem peringatan dini yang selama ini menjadi penentu cepat-lambatnya evakuasi.
Data BMKG Staklim Kalsel juga menunjukkan bahwa pada beberapa dasarian November 2025, curah hujan diperkirakan berada di kisaran 50–100 mm, cukup untuk meningkatkan debit sungai jika turun secara beruntun.
Informasi ini memungkinkan pemerintah merancang skenario evakuasi lebih presisi, terutama bagi wilayah dengan sejarah banjir seperti Hulu Sungai, Banjar, dan Tanah Laut.
Namun angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di lapangan, kesiapsiagaan berarti memastikan warga bantaran sungai memiliki rute aman saat debit tiba-tiba naik.
Kesiapsiagaan berarti memastikan relawan desa tidak menghadapi bencana tanpa perahu karet, lampu penerangan, atau stok kebutuhan dasar. Dan kesiapsiagaan berarti memastikan setiap lumbung memiliki stok minimal untuk 14 hari kebutuhan darurat, dengan sirkulasi dan pelaporan barang yang disiplin.
Belajar dari kejadian banjir tahun-tahun sebelumnya, Kalsel memahami bahwa ancaman dapat datang tanpa aba-aba. Karena itu, pertahanan warga kini ditegakkan di setiap penjuru, dari gudang provinsi hingga lumbung desa, dari kawasan kota hingga lereng Meratus.
Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan program kesiapsiagaan mandiri sesuai karakter ancaman masing-masing, dari banjir, angin kencang, hingga longsor.
Esensi dari seluruh langkah ini adalah kolaborasi. Bencana hanya bisa dihadapi melalui jaringan perlindungan yang bekerja bersamaan, pemerintah, relawan, warga, hingga komunitas lokal yang memahami medan dan pola ancaman di daerahnya.
Ketika hujan pertama turun, Kalsel ingin memastikan satu hal, sistem perlindungan sudah berdiri tegak. Bukan menunggu krisis, tetapi mencegah kerusakan. Bukan reaktif, tetapi antisipatif.
Musim boleh berubah, ancaman boleh datang.Namun dengan kesiapsiagaan menyeluruh, kalimantan Selatan memastikan satu hal yang paling penting, Tidak ada warga yang menghadapi musim hujan tanpa perlindungan.(Tim Redaksi).
