Dari Atas Ombak, Gizi untuk 951 Anak Pulau Tetap Mengalir
Setiap pagi, sebelum matahari sempurna mengangkat cahaya pertama di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, deru mesin klotok sudah terdengar membelah kesunyian. Di dermaga kecil Aluh-Aluh Besar, para relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memulai hari dengan satu misi sederhana, namun sarat makna: memastikan 951 anak pulau tetap mendapat makanan bergizi.
Di tangan merekalah, boks-boks berisi Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar paket makanan,melainkan harapan kecil yang dibawa menyeberangi laut dan menyusuri sungai, menuju sekolah-sekolah yang terpencil dan terpisah oleh perairan.

Kepala SPPG Aluh-Aluh Besar, Kasful Anwar, memandang aktivitas di dermaga dengan mata yang tak pernah benar-benar lepas dari rasa tanggung jawab.
“Dari 2.138 penerima manfaat, 951 berada di pulau-pulau. Jadi distribusinya harus lewat laut dan sungai,” ucapnya pelan, namun tegas, saat Tim Economic Travelling.Com dan CNN Indonesia mengikuti perjalanannya, Senin (17/11/2025).
Dua klotok dan satu mobil menjadi andalan mereka setiap hari, berpacu dengan waktu dan kondisi alam.
Saat boks-boks itu diangkat ke atas kapal, embun pagi masih menempel di permukaan kayu. Para relawan bekerja dalam ritme yang akrab, mengangkat, menyusun, memastikan semuanya aman untuk dibawa menyeberang. Empat relawan khusus ditugaskan untuk perjalanan laut, menuju desa-desa kecil seperti Aluh-Aluh Kecil dan Podok.
Anak-Anak yang Menunggu di Tepi Dermaga
Setiap kali kapal merapat di dermaga pulau, hampir selalu ada pemandangan yang sama, anak-anak sekolah berdiri di tepi air, seragam mereka tertiup angin, mata mereka berbinar menyambut kedatangan MBG. Jarak sekolah dari dermaga tak jau, hanya sekitar 30 mete, namun antusiasme mereka menjadikan langkah kecil itu penuh makna.
“Anak-anak biasanya ikut membantu membawa boks. Mereka senang sekali, semangat,” ujar Kasful, mengenang momen-momen itu seperti sebuah adegan yang selalu hidup di benaknya.

Dua klotok lalu bergerak kembali, membelah ombak yang sesekali menguat. Laut yang mereka seberangi bukan luas tak bertepi, namun cukup untuk mengingatkan bahwa tugas ini tidak pernah benar-benar mudah. Dari laut, perjalanan berlanjut masuk ke jalur sungai, menyusuri air yang lebih tenang namun berkelok.
Meski perjalanan hanya sekitar 30 menit, setiap menitnya berarti. Menjelang pukul 08.30, semua paket makanan biasanya sudah tiba di sekolah-sekolah pulau. Tepat waktu,karena bagi anak-anak itu, sarapan bergizi bukan sekadar makan pagi, melainkan bagian dari masa depan yang sedang ditata perlahan.
Mayoritas penerima MBG di pulau-pulau Aluh-Aluh adalah anak-anak dari keluarga petani dan nelayan. Pekerjaan yang bergantung pada cuaca, musim, dan nasib. Program MBG menjadi penopang gizi yang sangat berarti, terutama bagi keluarga yang hidup jauh dari pusat layanan.

“Program ini sangat membantu masyarakat menengah ke bawah di pulau-pulau.Rata-rata memang kondisi ekonomi mereka begitu dan tepat sekali kalau pemerintah mencanangkan program MBG yang mulia ini, ” terang Jaylani, anggota Babinsa Koramil Aluh-Aluh Besar yang selalu setia menemani perjalanan pengantaran Program MBG di pelosok desa.
Program MBG di Aluh-Aluh Besar sendiri baru berjalan sekitar tiga pekan. Awalnya fokus di daratan, baru dua minggu terakhir relawan mulai membuka rute laut, rute yang lebih menantang namun sekaligus lebih mulia.
Setiap perjalanan membawa satu pesan sederhana namun berharga: di balik angka dan data, ada manusia yang bekerja dengan hati. Ada relawan yang tak gentar pada gelombang, ada anak-anak yang menunggu dengan penuh harap, dan ada orang tua yang bersyukur karena gizi anak mereka dijaga oleh tangan-tangan yang tak pernah mereka temui langsung.
“Kami sangat mengapresiasi perjuangan kawan-kawan mengantarkan omprengan MBG.Walaupun jalan yang dilalui menuju sekolah ada jalan berlumpur hingga titian jabuk (lapuk.red).Ini yang membuat kami salut,” terang Mardiah, Petugas Sanitasi Puskesmas Aluh-Aluh Besar ikut perjalanan membagi MBG.
Di atas ombak, para relawan itu menjalankan tanggung jawabnya tanpa keluh. Mereka tak sekadar mengantar makanan, mereka mengantar kepedulian, mengantar kesempatan untuk tumbuh, dan mengantar harapan agar anak-anak pulau memiliki masa depan yang tak lagi dibatasi oleh jarak dan keadaan.
Dan setiap hari, selama klotok itu tetap melaju, aliran gizi untuk 951 anak pulau akan terus mengalir, melintasi air, melampaui batas, menyentuh hati.(Olpah Sari).

