Menapak Jejak JIS dan Asa Baru Infrastruktur Olahraga Banua

0
STUDI TIRU

Karikatur Ilustrasi - Tim Redaksi.

Ada semangat baru yang terbawa pulang dari perjalanan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kalimantan Selatan ke Jakarta International Stadium beberapa waktu lalu. Sebuah perjalanan yang pada mulanya hanya berniat belajar, namun di sepanjang koridornya justru memunculkan gambaran lebih besar tentang masa depan infrastruktur olahraga Banua.

Kunjungan ini menghadirkan bayangan konkret tentang bagaimana sebuah stadion bukan hanya sebongkah bangunan megah, tetapi sebuah ekosistem yang hidup dan memberi energi bagi masyarakatnya.

Saat rombongan PUPR Kalsel dipimpin Plt Kabid Cipta Karya Ryan Tirta Nugraha melangkah masuk ke kawasan JIS, yang terlihat bukan sekadar arena pertandingan. Yang mereka temui adalah sebuah pusat aktivitas kota yang berjalan nyaris tanpa henti.

Dari kejauhan, struktur stadion yang menjulang memperlihatkan standar pembangunan yang tidak hanya memikirkan bentuk tetapi juga fungsi dan keberlanjutan. Atap stadion yang bisa dibuka dan ditutup bergerak seperti simbol fleksibilitas peradaban baru dalam pengelolaan fasilitas publik. Rumput hybrid terhampar sebagai bukti bagaimana teknologi mampu menjaga kualitas lapangan sekaligus memperpanjang usia pemakaian.

Di dalamnya, berbagai fasilitas modern berdiri serupa ruang pengalaman. Royal lounge, sky view deck, ruang media, hingga puluhan corporate box yang menjadi penopang aktivitas ekonomi stadion.

Namun bukan itu yang paling menarik perhatian. Yang justru menginspirasi adalah bagaimana JIS mengatur dirinya sebagai ruang inklusif. Koridor ramah disabilitas dibuat tanpa kompromi. Akses transportasi publik dirancang terintegrasi dari BRT hingga KRL dan LRT. Kehadiran stadion tidak memutus ruang masyarakat, justru menjadi titik temu baru yang memberi kemudahan.

 

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Selatan melakukan studi tiru pengelolaan stadion modern ke Jakarta International Stadium (JIS) pada Rabu, 12 November 2025.(Foto – Dok MC Kalsel).

Di luar bangunan utama, kawasan JIS berdenyut sebagai ruang hidup. Warga berolahraga di jogging track, pesepeda melintas di jalur yang rapi, sementara anak muda berkumpul di area interaksi yang mengarah ke Waduk Cincin. Semua itu memberikan pesan sederhana namun kuat bahwa sebuah stadion modern pada dasarnya adalah ruang publik yang harus dijaga agar tetap bernapas bersama warganya serta memberikan manfaat kesehatan dan ekonomi.

Pengalaman ini memberi kesan mendalam bagi rombongan Kalimantan Selatan. Ryan Tirta Nugraha menyampaikan bagaimana banyak hal yang kemudian membuka wawasan tentang arah pembangunan stadion di Banua.

“Integrasi moda transportasi, pengembangan ekonomi kreatif berbasis aktivitas olahraga, desain yang inklusif, serta tata kelola yang berkelanjutan menjadi catatan yang tak sekadar dibawa pulang tetapi akan dirumuskan ulang dalam rencana besar pembangunan kawasan olahraga Kalsel,” tuturnya.

Ada kesadaran baru bahwa membangun stadion tidak boleh hanya berhenti pada menegakkan tiang dan dinding. Ia harus hidup, harus memberi ruang bertumbuh, dan harus mencerminkan peradaban sebuah daerah. Tanpa konsep kawasan yang matang, tanpa pengelolaan profesional, sebuah stadion hanya akan menjadi bangunan besar yang ramai sesaat dan sepi berkepanjangan.

Kunjungan ke JIS menjadi penanda bahwa arah baru telah terbuka dan peluang besar menanti jika langkah ini diikuti keseriusan perencanaan dan kebersamaan.

Kini tantangannya berada di tangan pemerintah daerah. Momentum ini harus dirawat agar tidak hilang begitu saja. Studi tiru ke JIS dapat menjadi pondasi kuat bagi lahirnya stadion modern yang tidak hanya megah secara struktur tetapi kaya fungsi sosial dan ekonomi. Banua memiliki kesempatan untuk menyusun satu desain besar tentang masa depan infrastruktur olahraga yang tidak hanya membanggakan tetapi juga relevan bagi generasi mendatang.

Jika pengalaman di Jakarta International Stadium dapat diolah dengan tepat, maka Kalimantan Selatan sedang berada di pintu gerbang lahirnya kawasan olahraga yang benar benar hidup. Sebuah kawasan yang mampu menjadi ruang berkumpul, ruang bertanding, ruang berekspresi, dan ruang yang mewakili mimpi besar masyarakat Banua. Tentu dari sinilah cerita masa depan itu mulai disusun.Semoga bisa terwujud dengan integritas dan niat terbaik untuk kebaikan Banua.(Tim Redaksi).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!