“Kampus Gila Marketing” Dari 44 Mahasiswa Menuju 14 Ribu Mimpi
Alumni STIE Pancasetia Banjarmasin saat wisuda beberapa saat lalu.
Oleh: Muhammad Risanta SE MM
Ada masa ketika STIE Pancasetia Banjarmasin hanyalah satu dari sekian banyak kampus swasta yang berdiri di sudut kota, sepi peminat, dan nyaris tenggelam di antara nama-nama besar perguruan tinggi negeri. Tak banyak yang tahu, kampus itu pernah memiliki mahasiswa tak lebih dari dua kelas, hanya 44 orang.
Namun, dari titik yang nyaris senyap itulah lahir kisah besar, bagaimana satu orang, dengan keyakinan, semangat, dan strategi yang tak biasa, mengubah wajah pendidikan tinggi di Kalimantan Selatan.
Dia adalah Prof. HM Rahmady Radiani, sosok yang kini dikenang bukan hanya sebagai pendiri dan penggerak STIE Pancasetia, tapi juga sebagai arsitek perubahan yang membawa kampusnya dari pinggiran menuju puncak reputasi.

Dari Kampus Sepi ke Kampus Bergairah
Awal tahun 2000-an adalah masa sulit bagi banyak perguruan tinggi swasta. Di tengah keterbatasan dana, fasilitas, dan daya saing, kampus-kampus kecil bergulat dengan satu pertanyaan sederhana namun menentukan: bagaimana bertahan?
Namun, Prof. Rahmady tak ingin hanya bertahan. Ia ingin berlaga.
Dengan semangat yang sering disebut orang “Gila Marketing”, dia mulai mengubah cara pandang tentang promosi pendidikan. Kampus bukan sekadar tempat belajar, tapi juga brand, nilai, dan harapan masa depan.
Ia turun langsung ke lapangan, bertemu kepala sekolah, berdialog dengan orang tua, bahkan mengunjungi calon mahasiswa ke rumah mereka, bahkan ke tempat-tempat kerja termasuk perusahaan.
Pendekatannya bukan menjual ijazah, melainkan menjual mimpi , bahwa STIE Pancasetia bisa menjadi tangga menuju masa depan yang lebih baik.
Strategi yang Tak Biasa
Prof. Rahmady bukan pemimpin yang bersembunyi di balik meja. Ia dikenal sebagai sosok yang energik, persuasif, dan berani mengambil risiko. Di tangannya, marketing kampus bukan sekadar spanduk dan brosur, melainkan gerakan sosial.
Ia membangun citra kampus dengan sentuhan manusiawi, menyapa masyarakat, menghadirkan seminar, mendatangkan tokoh-tokoh nasional, dan memunculkan citra kampus yang aktif, terbuka, dan berorientasi pada masa depan.
Tak heran jika dalam waktu singkat, kampus yang dulu sunyi mulai ramai. Mahasiswa berdatangan dari berbagai daerah di Kalimantan. Dalam kurun beberapa tahun, angka 44 melonjak menjadi ribuan. Hingga akhirnya, STIE Pancasetia dikenal sebagai kampus ekonomi terbesar di Kalimantan Selatan, bahkan menembus 14 ribu mahasiswa di masa kejayaannya.

Dari Generasi Pendiri ke Generasi Penerus
Setelah Prof. Rahmady berpulang, tongkat estafet perjuangan diteruskan oleh generasi keduanya, Dr. Andry Radiany.
Warisan semangat inovatif tak berhenti di situ. Di bawah kepemimpinan baru, STIE Pancasetia memasuki babak baru, modernisasi sistem akademik dan digitalisasi manajemen.
Tak hanya fokus pada jumlah mahasiswa, kampus ini mulai memperkuat kualitas pendidikan, riset, dan jejaring industri. Hingga akhirnya berdirilah kampus termegah di kawasan Trikora, Banjarbaru, sebuah simbol nyata dari mimpi yang dulu mungkin dianggap mustahil.
Gedung-gedung megah itu kini menjadi saksi bahwa “kampus gila marketing” bukan sekadar julukan, melainkan legenda perjuangan di dunia pendidikan tinggi Kalimantan.

Filosofi: Membangun dengan Hati, Bekerja dengan Strategi
Apa yang membuat STIE Pancasetia berbeda bukan hanya marketing-nya yang agresif, tetapi jiwa kepemimpinannya.
Prof. Rahmady memahami satu hal penting, pendidikan adalah bisnis kepercayaan. Maka, setiap strategi promosi harus dibarengi dengan komitmen mutu dan kepedulian terhadap mahasiswa.
Beliau sering mengatakan, “Kalau kita ingin kampus besar, jangan mulai dari gedung megah, tapi dari niat yang megah.”
Dan kalimat itu kini menjadi napas bagi generasi penerusnya.
Refleksi Warisan yang Tak Pernah Padam
STIE Pancasetia bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah kisah kebangkitan, bagaimana tekad dan visi bisa mengalahkan keterbatasan. Dari 44 mahasiswa menjadi 14 ribu, dari ruang kuliah sederhana menjadi kampus megah, dari ide yang diragukan menjadi inspirasi nyata.
Semangat “Gila Marketing” yang diwariskan Prof. Rahmady bukan sekadar strategi promosi, melainkan filosofi hidup,
bahwa dalam dunia yang penuh saingan, yang paling berani bermimpi dan bertindaklah yang akan mengubah sejarah.
Kampus besar tidak lahir dari dana besar, tetapi dari keyakinan besar.
STIE Pancasetia Banjarmasin adalah buktinya , bahwa keberanian untuk berbeda bisa melahirkan perubahan yang abadi.
*Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia & Jurnalis Senior
