Wisata Kalsel Hidup Lagi, Tapi Belum Kuat
Foto Ilustrasi - Kunjungan Wisatawan ke Pasar Terapung Lok Baintan.
Kalimantan Selatan mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan sektor pariwisata. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel mencatat, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada September 2025 mencapai 56,27 persen, naik signifikan dibanding Agustus yang hanya 49,84 persen. Dari angka itu, jelas terlihat bahwa hotel-hotel mulai ramai kembali, terutama hotel bintang 4 yang mencatat TPK tertinggi, 59,81 persen.
Namun, di balik geliat ini, ada catatan penting yang tidak bisa diabaikan. Jika dibandingkan dengan September 2024, TPK justru turun 1,97 poin. Artinya, meski ada kenaikan bulanan, pemulihan pariwisata Kalsel belum stabil sepenuhnya. Lonjakan ini lebih terlihat sebagai efek musiman atau agenda tertentu, bukan pemulihan struktural yang berkelanjutan.
Yang menarik, rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel bintang meningkat tipis menjadi 1,49 malam, menandakan bahwa tamu mulai menghabiskan waktu lebih lama. RLM tertinggi ada pada hotel bintang 3, yakni 1,62 malam, sementara hotel bintang 1 hanya 1,08 malam. Hal ini menunjukkan bahwa segmen menengah ke atas masih menjadi tulang punggung industri perhotelan di Kalsel. Sementara segmen bawah masih menghadapi tantangan, mulai dari persaingan penginapan daring hingga keterbatasan fasilitas.
Apa yang bisa dibaca dari data ini? Pertama, wisata Kalsel hidup lagi, tetapi belum kuat. Kenaikan TPK dan RLM memberi harapan bahwa aktivitas ekonomi dari sektor pariwisata mulai terasa. Namun, tanpa strategi jangka panjang, lonjakan ini bisa menjadi “naik-turun sesaat”, terutama jika hanya bergantung pada acara atau agenda musiman.

Kedua, pemulihan pariwisata harus dibarengi dengan diversifikasi sumber tamu. Pemerintah daerah perlu mendorong wisata domestik dan internasional, sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah. Promosi destinasi, pengembangan atraksi lokal, dan inovasi layanan hotel bisa menjadi kunci agar tamu tidak hanya datang sekali, tapi berulang kali.
Ketiga, segmentasi hotel menunjukkan bahwa kelas menengah-atas masih dominan. Hal ini mengindikasikan perlunya perhatian serius pada pengembangan hotel dan homestay kelas bawah, agar semua lapisan wisatawan, termasuk backpacker dan keluarga lokal, dapat menikmati potensi Kalsel.
Sektor perhotelan bukan sekadar menghitung okupansi kamar. Ia menjadi indikator denyut ekonomi dan kehidupan masyarakat lokal. Ketika hotel ramai, transportasi bergerak, kuliner hidup, dan UMKM berkembang. Sebaliknya, jika sektor ini stagnan, efeknya terasa luas.
Kesimpulannya, Kalimantan Selatan memang mulai hidup kembali dari keterpurukan pandemi dan fluktuasi ekonomi, tetapi perjalanan menuju pemulihan pariwisata yang stabil dan kuat masih panjang. Kenaikan TPK dan RLM adalah awal yang menggembirakan, namun untuk benar-benar kuat, diperlukan strategi yang matang, inovasi berkelanjutan, dan kolaborasi seluruh pihak: pemerintah, pengusaha, dan masyarakat.
Kalsel memiliki potensi wisata yang kaya , sungai, budaya, kuliner, dan alam tropis. Sekarang saatnya semua pihak bekerja sama agar potensi itu tidak hanya menjadi statistik, tapi menjadi cerita nyata tentang kota dan kabupaten yang hidup, aman, dan produktif.(Olpah Sari).
