Menjual Pesona Keindahan Geopark Meratus ke Dunia

0
CALENDAR OF EVENT (COE)

Oleh: Muhammad Risanta SE MM

Malioboro, Yogyakarta, sore di pertengahan Nopember 2025 nantinya  akan tampak berbeda. Di tengah keramaian wisatawan, aroma kopi Banjar berpadu dengan denting musik panting. Di panggung terbuka, para penari mengenakan kain sasirangan yang berkilau dalam cahaya lampu kota akan menyapa mereka.

Inilah Calendar of Event (COE) Pariwisata Kalimantan Selatan 2026 momentum besar di mana Banua memperkenalkan dirinya ke mata dunia. Di jantung wisata Indonesia,natinya  Kalsel menampilkan mahakarya alamnya Geopark Meratus, taman bumi warisan UNESCO yang diakui sebagai salah satu bentang alam tertua dan terindah di Nusantara.

“COE bukan sekadar pameran budaya, tetapi diplomasi ekonomi kreatif.Kalsel sedang menyiapkan langkah panjang menuju pariwisata berkelas dunia.”” ujar seorang penggiat wisata.

Data Dinas Pariwisata Provinsi Kalsel bicara dengan optimisme. Tahun 2023, jumlah wisatawan mencapai 11,9 juta orang. Setahun kemudian, angka itu melonjak menjadi 19,9 juta , hampir dua kali lipat.

Capaian itu menjadi bukti bahwa arah kebijakan dan promosi mulai menunjukkan hasil. Di balik lonjakan ini, ada peran penting pejabat terbaik mulai HM Syarifuddin (sekarang Sekdaprov Kalsel) dan penerusnya  Iwan Fitriadi, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalsel, yang dikenal dengan pendekatan strategisnya, tenang, tapi tajam dalam menata arah sektor pariwisata.

“Pariwisata bukan hanya menjual panorama, namun menjual identitas, nilai, dan pengalaman yang berkesan.”

 

Foto Ilustrasi – Salah atraksi seni budaya Banjar, Tari Japin. (Foto – Risanta).

Kalsel tampak serius memperlakukan pariwisata sebagai instrumen ekonomi yang berkelanjutan. COE hanyalah gerbang awal. Yang lebih penting adalah arah jangka panjang, membangun brand pariwisata Banua yang kuat dan autentik.

Penulis pun mencoba menyumbangkan pikiran bagaimana skema lima strategi kunci yang menjadi salah satu tulang punggung promosi pariwisata Kalimantan Selatan ke depan:

Membangun Identitas yang Khas
Dunia harus mengenal “Meratus – The Heart of Borneo.” Alam Meratus bukan sekadar pemandangan, tetapi kisah tentang harmoni manusia dan bumi.

Membidik Pasar Global yang Tepat
Segmen eco-traveler dari Eropa dan Asia Timur adalah target potensial. Mereka mencari pengalaman otentik—dan Banua punya semuanya: pegunungan, sungai, dan keramahan lokal.

Kuasai Dunia Digital
Satu video Reels yang viral bisa mengalahkan puluhan baliho. Virtual tour, influencer, dan storytelling digital harus menjadi inti strategi promosi.

Tonjolkan Keunikan (USP)
Wisata sungai dan gunung dalam satu paket adalah pengalaman langka. Kalsel bisa menjadikannya signature product yang menembus pasar dunia.

Bangun Ekosistem, Bukan Event Musiman
Setelah panggung COE usai, kerja berkelanjutan harus diteruskan. Branding digital, kampanye wisata hijau, dan penguatan SDM lokal menjadi kelanjutan yang vital.

Era Kolaborasi dan Digitalisasi

Pemerintah daerah kini tak bisa bekerja sendiri. Dunia pariwisata bergerak lewat sinergi lintas sektor, pemerintah, pelaku industri, komunitas kreatif, hingga diaspora Banjar di luar negeri.

Kemitraan dengan online travel agent (OTA) seperti Traveloka, Agoda, dan TripAdvisor dapat memperluas jangkauan global. Sementara kolaborasi dengan content creator lokal akan membentuk narasi otentik yang menggugah.Termasuk juga asosiasi kepariwisataan, mulai ASITA (leader), ASPPI, ASPERWI, ASTINDO, HPI serta komunitas Jurnalis Pariwisata Banua.

“Pariwisata masa kini bukan soal siapa paling indah, tapi siapa paling konsisten bercerita.”

Bayangkan jika setiap unggahan tentang Banua menggunakan tagar #ExploreMeratus atau #VisitSouthBorneo. Dalam setahun, dunia akan mengenal Kalsel bukan hanya lewat peta, tapi lewat kisah.

Kenaikan jumlah wisatawan memang menggembirakan. Namun keberhasilan sejati pariwisata terletak pada sejauh mana masyarakat lokal ikut tumbuh bersama.

Ketika wisatawan berkunjung ke Geopark Meratus, Loksado, atau Pasar Terapung Kuin, mereka seharusnya membawa dampak langsung: ekonomi meningkat, budaya terpelihara, dan alam tetap lestari.

Inilah konsep community-based tourism yang menjadi dasar pariwisata berkelanjutan, menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan penonton di tanah sendiri.

 

Atraksi Tarian Dayak “Burung Meratus” yang mendunia, salah satu bagian tak terpisahkan dari atraksi budaya dalam Geopark Meratus.

Momentum dari Malioboro

Sejatinya pula kegiatan COE pariwisata Kalsel 2026 di Yogyakarta bukan sekadar pameran, tapi momentum reflektif. Di sana, Banua memperlihatkan wajah barunya, terbuka, kreatif, dan siap menembus pasar global.

Namun, setelah sorot lampu padam, pekerjaan sejati dimulai, merawat promosi, memperkuat destinasi, dan menumbuhkan kesadaran bahwa pariwisata bukan proyek, melainkan perjalanan panjang menuju kemandirian ekonomi daerah.

Kalimantan Selatan memiliki modal luar biasa:,alam eksotik, budaya kuat, dan kepemimpinan visioner. Tapi modal itu baru berarti jika dijalankan dengan konsistensi dan inovasi.

COE adalah langkah awal. Selanjutnya, dunia menunggu bab berikutnya dari kisah Meratus, kisah tentang bumi tua yang hidup kembali lewat tangan manusia yang mencintainya. Betapa bangganya kita.

“Pariwisata bukan sekadar perjalanan, Ia adalah cara sebuah daerah memperkenalkan jiwanya kepada dunia.”” tulis Reifa Tour Guide Wisata Kalsel.

Dan ketika wisatawan asing nanti berdiri di tepi Sungai Martapura, menatap senja Meratus yang memerah di kejauhan, mereka akan tahu satu hal, Kalimantan Selatan bukan sekadar tempat , tapi kisah yang hidup.

Catatan Redaksi:
Esai ini ditulis oleh Muhammad Risanta, akademisi dan jurnalis senior, penggiat pariwisata nasional. Tulisan ini merupakan refleksi atas geliat promosi pariwisata Kalimantan Selatan yang kini menapaki strategi digital dan berkelanjutan menuju pasar global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!