Hangatnya Rebusan, Hangatnya Gerakan Sehat

0
JAJANAN SEHAT SEKALI

Karikatur Ilustrasi - Tren jajanan serba rebusan sebagai jajanan sehat. (Dok - Tim Redaksi).

Setiap pagi di kawasan Jalan Pramuka, uap panas dari periuk besar menyelimuti udara. Di balik meja sederhana, Yulia (39), seorang ibu rumah tangga, sibuk menata jagung manis, ubi ungu, kentang, telur, dan salad rebus. Tak ada bau minyak atau asap gorengan yang ada hanyalah kehangatan aroma alami bahan pangan lokal.

“Banyak pelanggan bilang, setelah makan rebusan, badan terasa lebih enteng. Jadi bukan cuma kenyang, tapi segar,” tutur Yulia sambil tersenyum, Minggu (26/10/2025).

Dalam sehari, ia menjual hingga 100 porsi rebusan, dengan omzet rata-rata Rp300 ribu. Modal kecil, tapi manfaat besar,bagi tubuh, lingkungan, dan dompet. Fenomena sederhana ini menggambarkan pergeseran gaya hidup baru masyarakat perkotaan, sehat, alami, dan sadar pangan.

 

Yuli di depan dagangan makanan sehat miliknya di kawasan Jalan Pramuka Banjarmasin. (Foto – Yuli).

Bagi masyarakat Banjar, makanan rebus bukan hal baru. Sejak dulu, singkong, jagung, dan umbi rebus menjadi teman setia di rumah-rumah kampung. Namun seiring modernisasi, makanan rebus tergeser oleh makanan cepat saji dan gorengan berlemak tinggi.

Padahal, penelitian Universitas Gadjah Mada (2022) membuktikan bahwa metode merebus dapat mempertahankan 85–95% kandungan vitamin dan mineral, sedangkan proses menggoreng bisa menurunkan hingga 70% kadar gizi karena panas dan minyak berlebih.

Selain itu, World Health Organization (WHO, 2023) mencatat bahwa diet tinggi lemak jenuh dan garam menyebabkan lebih dari 17 juta kematian dini akibat penyakit tidak menular setiap tahun.

Rebusan adalah bentuk intervensi pangan sehat paling murah dan mudah dijalankan di rumah. Sejatinya makanan rebus dengan bahan lokal seperti ubi ungu, jagung, dan telur mengandung serat, beta karoten, serta protein alami yang mampu menjaga metabolisme tubuh.

 

Karikatur Ilustrasi – Dok Tim Redaksi.

Data Profil Kesehatan Kalimantan Selatan 2024 menunjukkan peningkatan signifikan kasus obesitas pada penduduk dewasa dari 21,7% (2018) menjadi 26,1% (2024). Angka hipertensi pun melonjak ke 34%, sementara penderita diabetes tercatat mencapai 145 ribu orang.

Diakui atau tidak tren pola makan masyarakat masih didominasi gorengan dan karbohidrat sederhana.Tak heran jika masyarakat selalu didorong untuk beralih ke pangan lokal yang lebih sehat, seperti singkong, talas, dan jagung. Rebusan menjadi alternatif yang realistis dan sesuai budaya lokal

Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) pun kini memasukkan kampanye konsumsi rebusan dalam kegiatan posyandu dan sekolah. Pemerintah daerah juga menggandeng UMKM lokal untuk memproduksi jajanan sehat siap saji berbasis rebusan tanpa bahan pengawet.

Dari Dapur ke Peluang Bisnis Baru

Kebiasaan makan rebusan ternyata tak hanya menyehatkan, tapi juga membuka peluang ekonomi baru.
Di tengah tren makanan sehat global, produk seperti clean food dan diet plant-based semakin diminati. Hal ini bisa diterjemahkan ke skala lokal dalam bentuk “Healthy Street Food” versi Indonesia, jajanan rebusan dengan kemasan higienis, label gizi, dan branding lokal.

Yulia sendiri adalah bukti nyata. Tanpa modal besar, ia berhasil menciptakan pasar baru di lingkungannya.

“Saya hanya ingin orang makan lebih sehat, tapi ternyata banyak yang beli setiap pagi,” katanya.

Menurut data BPS Kalimantan Selatan (2024), sektor kuliner UMKM masih tumbuh 5,3% per tahun, dengan peningkatan minat pada produk pangan sehat sebesar 18% dalam dua tahun terakhir. Artinya, makanan rebus bisa menjadi “bisnis kecil dengan dampak besar” jika dikembangkan secara kreatif.

Hidup sehat tak harus mahal, dan revolusi tidak selalu berisik.Kadang, ia datang dari periuk air mendidih di pinggir jalan dari tangan-tangan kecil yang merebus, bukan menggoreng.

Rebusan mengajarkan kita tentang keseimbangan, antara cita rasa, kesederhanaan, dan keberlanjutan. Dari jagung dan ubi yang direbus dengan sabar, lahir harapan baru bahwa hidup sehat dan ekonomi rakyat bisa berjalan beriringan.(Tim Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!