Dari Lore, Aku Belajar Arti Pemberdayaan dan Kearifan Lokal
Catatan Perjalanan Traveller Abby
Kabut pagi di Lore Tengah turun perlahan seperti tirai yang menyingkap wajah lembah. Di kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan dengan gemericik air sungai yang mengalir dari pegunungan Napu. Udara yang tajam menembus kulit, tapi entah kenapa, hatiku terasa hangat.
Di sinilah, di sebuah desa kecil di jantung Sulawesi Tengah, aku menyaksikan kisah yang sering terlewat dari peta besar negeri ini, tentang pemuda-pemuda yang dicap keras, tapi menyimpan api semangat luar biasa.
Aku datang ke Lore bukan sekadar untuk menjelajah alamnya yang elok. Aku datang untuk mendengar kisah, harapan, dan kegelisahan anak-anak muda yang tumbuh di tanah pascakonflik. Sebagian orang luar mengenal mereka hanya dari berita, suka berkelahi, sulit diatur, dan terlibat masalah sosial.
Tapi ketika aku duduk bersama mereka di bale-bale bambu, mendengarkan tawa dan rencana-rencana kecil mereka tentang hidup, aku tahu: label itu tak sepenuhnya benar.
“Kami ingin maju, Kaka. Cuma, kadang orang tidak percaya,” kata seorang pemuda sambil menatap lembah.
Kata-kata itu menancap kuat. Kepercayaan , sesederhana itu kuncinya.aku menatap diam-diam sebuah harapan dari wajahnya.

Potensi yang Tersembunyi di Balik Stereotip
Lore adalah wilayah yang kaya, tanahnya subur, alamnya memesona, dan budayanya unik. Tapi ironisnya, potensi sebesar itu sering terhalang oleh stigma sosial. Maka dari itu, aku dan rekan-rekan di Elang Khatulistiwa Indonesia datang bukan sebagai pengamat, tapi sebagai sahabat, untuk memantik kembali semangat mereka.
Kami berdiskusi tentang ekonomi kreatif dan wisata lokal. Tentang bagaimana alam Lore bisa menjadi ruang belajar, bukan sekadar tempat dikunjungi. Bagaimana seni dan budaya lokal bisa menjadi produk kebanggaan, bukan sekadar pertunjukan bagi tamu.
“Kalau pariwisata dikelola anak muda sendiri, kami bisa jaga adat, kami juga dapat penghasilan,” ujar Rani, gadis muda yang kini mulai membuat anyaman khas Napu untuk dijual secara daring.
Dan benar, wajah perubahan itu mulai tampak. Dari tenda-tenda kecil di lereng bukit, dari warung kopi sederhana di pinggir jalan, hingga dari tawa anak-anak yang mulai percaya bahwa masa depan tak selalu harus meninggalkan tanah kelahiran.

Putera Daerah Sebagai Penjaga Kearifan
Bagi mereka putera daerah harus menjadi jantung dari setiap aktivitas wisata. Karena siapa lagi yang lebih paham tentang tanahnya, selain mereka yang tumbuh di dalamnya? Setiap jalur pendakian, setiap tarian adat, setiap batu di sungai, punya kisah yang hanya bisa diceritakan oleh mereka yang lahir di sana.
Mereka bukan hanya penjaga tempat, tetapi penutur nilai agar kearifan lokal tetap hidup, dan budaya Lore tidak larut dalam arus modernisasi.
Wisata seharusnya bukan sekadar panorama, tetapi ruang perjumpaan: antara alam, manusia, dan makna.
Aku percaya, pemberdayaan bukan berarti mengubah mereka menjadi seperti kita, melainkan membantu mereka menemukan cara terbaik menjadi diri sendiri, dengan kekuatan dan kearifan lokal yang mereka miliki.
Dalam setiap perjalanan, aku belajar bahwa perubahan sosial tak mungkin berdiri sendiri. Ia perlu sinergi, antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan. Komunitas yang kupimpin hanya bagian kecil dari lingkaran itu, tapi aku dkk ingin menjadi percikan pertama yang menyalakan semangat.
Di Lore, aku menemukan bahwa pemberdayaan bukan proyek, melainkan perjalanan panjang. Dan dalam perjalanan itu, aku tak hanya melihat wajah-wajah muda yang ingin berubah, tapi juga melihat Indonesia yang ingin sembuh , dari prasangka, dari jarak, dari ketidakpercayaan.
Saat matahari tenggelam di balik pegunungan, Lore kembali tenang. Aku menatap lembah sekali lagi dan tersenyum. Di bawah sana, anak-anak muda Lore mulai melangkah , dengan kepala tegak dan hati yang percaya.
Mereka bukan lagi sekadar nama dalam berita. Mereka adalah penjaga masa depan yang sedang menulis ulang kisahnya sendiri.
*Penulis adalah Founder Elang Khatulistiwa dan Traveler
