Di Bandung, Kreativitas Tak Pernah Vakum
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bersama Ibunda Kartini Basuki mendonasikan lukisan berjudul "Sekulen" karya sang ibunda di acara "Pasar Seni ITB 2025", di Kampus ITB Ganesha, Bandung, Minggu (19/10/2025).(Foto-Biro Komunikasi Kemenpar).
Setelah sebelas tahun vakum, Pasar Seni ITB kembali hadir membawa semangat baru. Bertajuk “Laju Temu Laku”, ajang yang digelar di Kampus ITB Ganesha itu menjadi perayaan besar seni, budaya, dan kreativitas lintas generasi.
Acara yang diinisiasi oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB ini dibuka oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, yang menyebut Pasar Seni ITB sebagai ruang ekspresi sekaligus jembatan diplomasi budaya.
“Setelah vakum selama 11 tahun, Pasar Seni ITB kembali hadir dengan semangat kolaborasi lintas generasi. Ini bukan sekadar pameran seni, melainkan ruang dialog yang mempertemukan kreativitas dan kebersamaan,” ujar Menteri Widiyanti dalam sambutannya.
Pasar Seni ITB telah menjadi ikon budaya nasional sejak pertama kali digelar pada tahun 1972. Ajang ini mempertemukan seniman, desainer, akademisi, pelajar, komunitas, hingga wisatawan, menjadikannya ruang strategis untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia.
Menteri Widiyanti menegaskan, kegiatan ini sejalan dengan salah satu program besar Kementerian Pariwisata, yakni Event by Indonesia, yang mendukung karya anak bangsa sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia.

Menurutnya, Pasar Seni ITB 2025 tak hanya menghidupkan ruang seni, tapi juga menggerakkan ekonomi lokal.
“Kegiatan ini relevan dengan semangat pariwisata berbasis kreativitas. Dari UMKM, pengrajin, kuliner, hingga penyedia jasa transportasi, semuanya ikut bergerak,” ucapnya.
Data Kemenparekraf 2024 mencatat, sektor ekonomi kreatif berkontribusi sekitar 18,8 persen terhadap PDB nasional. Bandung, sebagai salah satu Kota Kreatif Dunia versi UNESCO (2015), menjadi episentrum dari geliat itu—tempat di mana seni, teknologi, dan tradisi berpadu dalam satu energi.
Dalam kesempatan itu, Menteri Widiyanti yang hadir bersama ibundanya, Kartini Basuki, turut mendonasikan lukisan berjudul “Sukulen” karya sang ibu. Lukisan tersebut dilelang bersama karya Soesilo Bambang Yudhoyono dan Nyoman Nuarta, dan hasilnya akan disalurkan untuk Dana Abadi ITB, guna membantu mahasiswa berprestasi dan kurang mampu.
Karya “Sukulen” menggambarkan tanaman kecil yang tumbuh di batang tua yang kering, sebuah metafora tentang keteguhan hidup dan daya lenting manusia. Simbol yang terasa sangat relevan dengan kebangkitan Pasar Seni ITB sendiri, seni yang tetap hidup meski sempat terhenti waktu.
Pasar Seni ITB 2025 menjadi lebih dari sekadar acara seni. Ia merupakan gerakan kultural yang menegaskan kembali peran Bandung sebagai laboratorium ide bangsa. Di antara tenda-tenda penuh warna dan alunan musik di kampus Ganesha, pengunjung seolah diingatkan bahwa kreativitas adalah bahasa universal yang mempersatukan manusia.
“Dari Bandung, kota sejuta ide, kita buktikan bahwa kreativitas bukan sekadar gaya hidup, melainkan kekuatan untuk menggerakkan bangsa,” tutup Menteri Widiyanti. (Fikri Husaini).
