Api Tak Bisa Dilawan Sendiri, Dunia Usaha Turun Tangan Menjaga Hutan
Foto Karikatur Ilustrasi - Relawan Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan.
Oleh : Muhammad Risanta SE MM
Pagi di hamparan Kalimantan jarang benar-benar sepi. Udara lembap bercampur aroma tanah basah, dan di kejauhan, burung enggang menembus langit yang mulai cerah. Tapi bagi para petugas patroli kebun sawit, pagi bukan hanya tanda hari baru melainkan peringatan bahwa api bisa datang kapan saja. Mereka berjaga, bukan karena takut, tapi karena tahu satu hal sederhana, api tak bisa dilawan sendiri.
Sejatinya menurut kawan-kawan saya di lapangan ini, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, begitu istilah resminya, adalah bukan musuh yang bisa ditaklukkan dengan satu alat semprot air atau satu keputusan rapat. Ia adalah ancaman kompleks yang berakar dari cuaca ekstrem, degradasi lahan, perilaku manusia, dan lemahnya pengawasan.
Merujuk berbagai literatur termasyk data KLHK menunjukkan, sepanjang Januari hingga April 2025, terdapat 142 titik panas terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian besar di Riau, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, kawasan yang menjadi paru industri kelapa sawit nasional.
Namun, di balik kabut masalah itu, ada cerita tentang sinergi yang mulai membuahkan hasil. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), asosiasi yang menaungi lebih dari 750 perusahaan di 15 provinsi, kini menjadikan pencegahan karhutla sebagai salah satu pilar tanggung jawab industrinya. Tidak lagi sebatas slogan hijau di atas kertas, tapi menjadi gerakan nyata di lapangan.
“Dunia usaha dapat mengambil peran positif dalam membantu pengendalian karhutla,”ujar Eddy Martono, Ketua Umum GAPKI, usai menandatangani nota kesepahaman dengan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), pertengahan Oktober 2025.

Kerja sama itu menjadi simbol bahwa pencegahan karhutla bukan tugas satu pihak, melainkan kerja kolektif lintas sektor. GAPKI dan APHI bersepakat membangun mekanisme koordinasi, patroli bersama, serta sistem respon cepat jika titik api muncul. Bahkan, mereka menggagas Desa Peduli Api dan Kelompok Tani Peduli Api sebagai model kemitraan sosial-lingkungan.
Di lapangan, langkah-langkah nyata terus berjalan. Perusahaan anggota GAPKI kini rutin memetakan area rawan kebakaran, membangun menara pantau, dan menyiapkan sumber air buatan untuk menjaga kelembapan lahan gambut. Gerakan bersama menembus kampung pun di lakukan, seperti pelatihan bersama masyarakat lokal, hingga penggunaan drone untuk mendeteksi potensi kebakaran dalam radius puluhan kilometer.
Menurut data internal GAPKI dan laporan WRI Indonesia (2025), program pemantauan lahan digital dan pelatihan mitigasi kebakaran telah menjangkau lebih dari 40 kabupaten di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Hasilnya terlihat nyata jumlah titik panas di kawasan perkebunan anggota GAPKI menurun lebih dari 60% dibandingkan 2019.
Namun, GAPKI sadar, sekadar memadamkan api tak cukup. Pencegahan harus dimulai jauh sebelum bara muncul. Karena itu, banyak perusahaan kini menggandeng pesantren, sekolah, hingga kelompok tani untuk mengedukasi warga tentang pengelolaan lahan tanpa bakar, cara tanam yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Melegakan juga, di Kalimantan Timur, pendekatan ini membuahkan hasil, angka karhutla di wilayah industri perkebunan turun hingga 15 titik pada musim kemarau 2025, salah satu capaian terbaik di Indonesia.
Lebih jauh, sinergi ini bukan hanya tentang menjaga hutan, tapi menjaga ekonomi. Setiap hektare lahan yang selamat dari api berarti sumber penghidupan yang bertahan. Industri sawit memberi lapangan kerja bagi jutaan orang, dan menjaga lahan dari kebakaran berarti menjaga dapur mereka tetap berasap bukan karena terbakar, tapi karena hidupnya berjalan.
Meski begitu, pekerjaan ini belum selesai. Perubahan iklim global terus memanjangkan musim kemarau, mempertinggi risiko kebakaran. Edukasi masyarakat masih perlu diperluas, terutama di daerah yang belum terjangkau jaringan GAPKI. Tapi satu hal kini pasti, dunia usaha sudah turun tangan, dan mereka tak lagi berdiri di pinggir menonton.
Karhutla memang musuh lama bangsa ini. Tapi kini, dengan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Indonesia memiliki harapan baru. Seperti kata seorang petugas lapangan di Tapin, “Kalau kita kerja bersama, hutan pun tahu kita serius menjaganya.”
Api mungkin tak pernah benar-benar hilang dari bumi tropis ini. Tapi berkat kerja bersama, kini kita tahu api bisa dikendalikan (namun tidak seekstrem cerita animasi Avatar ) asal kita tidak saling meninggalkan.

