Membahasakan Ekonomi Perbankan dalam Bahasa Jurnalistik

0
PAMOR BORNEO AKHIR 3

Foto Ilustrasi - Borneo Business & Investment Forum (BBIF) 2025, yang berhasil melahirkan 15 Letter of Interest (LoI) dengan total nilai Rp55,37 triliun. Jumlah ini melonjak tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat Rp3,02 triliun. (Foto-Humas Bank Indonesia).

Oleh : Muhammad Risanta SE MM

Salah satu tantangan terbesar dalam jurnalisme ekonomi adalah bagaimana wartawan mampu menerjemahkan bahasa teknis perbankan ke dalam bahasa publik. Dunia perbankan dipenuhi istilah, data, dan angka yang begitu detail, rumit, serta cenderung hanya bisa dipahami kalangan terbatas seperti ekonom, analis keuangan, atau praktisi bank.

Namun, tugas utama seorang jurnalis justru menghadirkan informasi yang rumit itu menjadi berita yang bisa dimengerti pembaca umum, tanpa menghilangkan esensi dan akurasi.

Persoalan mendasar yang sering dihadapi wartawan adalah bahasa angka dan istilah. Laporan keuangan, suku bunga, inflasi, likuiditas, hingga instrumen investasi seperti SBN atau obligasi, kerap ditulis dengan gaya teknis dan penuh detail. Jika disajikan apa adanya, berita ekonomi akan terasa kaku, kering, dan sulit dipahami. Di sinilah peran jurnalis menjadi “penerjemah” antara bahasa teknis perbankan dengan bahasa jurnalistik yang ringkas, jelas, serta komunikatif.

Saya pun sering diminta pendapat sejumlah wartawan ekonomi yang sempat memprotes bahasa perbankan itu “istilahnya bahasa Professor”.Tentu saya tidak menyalahkan teman-teman yang memang latar belakang disiplin ilmu berbeda dan bukan ekonomi. Namun sebagai wartawan yang ditugaskan bekerja di desk ekonomi dan bisnis, menulis itu harus siap.

Siap dalam konteks ini adalah bisa menjembatani bahasa perbankan ke dalam bahasa yang enak dicerna dan dipahami pembaca.Karena itu butuh tahapan dan proses bagaimana bisa membuat berita ekonomi perbankan yang menarik dan penuh analitik tanpa harus menggurui.

 

Foto Ilustrasi – Kunjungan Jurnalis Kalsel Perum Peruri.Fadel, Kepala SBU Uang RI didampingi Hilda Erika yang merupakan Asisten Direktur Kelompok Data Sistem Informasi Edukasi Kerjasama dan Penanggulangan Uang Palsu Bank Indonesia, saat berdiskusi dengan Tim Jurnalis Kalsel yang berkunjung ke Perum Peruri, di Karawang, Jawa Barat.

Kunci keberhasilan membahasakan isu perbankan terletak pada pendekatan naratif dan simplifikasi makna. Jurnalis tidak boleh sekadar menyalin data, melainkan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Misalnya, ketika Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga acuan, berita tidak berhenti pada angka “naik 25 basis poin”, tetapi harus dijelaskan: apa dampaknya pada cicilan KPR, kredit kendaraan, atau bunga tabungan. Dengan begitu, angka tidak berhenti sebagai data kaku, melainkan berubah menjadi cerita yang relevan.

Selain itu, penggunaan analogi dan perbandingan sederhana juga menjadi teknik penting. Istilah “likuiditas ketat”, misalnya, bisa dijelaskan dengan perbandingan sederhana, bank sedang berhati-hati mengeluarkan dana, seperti orang yang menahan belanja karena pemasukan terbatas. Begitu pula dengan istilah “non performing loan (NPL)”, bisa dibahasakan sebagai kredit macet atau pinjaman yang gagal bayar.

Namun, jurnalis juga dituntut berhati-hati. Penyederhanaan tidak boleh sampai menyesatkan. Setiap istilah perbankan memiliki makna hukum dan ekonomi yang spesifik. Oleh karena itu, presisi bahasa harus dijaga. Berita ekonomi harus tetap faktual, sekaligus memudahkan pembaca memahami dampak kebijakan atau fenomena perbankan.

Akhirnya, membahasakan ekonomi perbankan ke dalam bahasa jurnalistik adalah seni meramu antara data, fakta, dan narasi. Di tangan jurnalis yang peka, data angka bisa hidup sebagai cerita; istilah teknis bisa cair menjadi bahasa populer; dan kebijakan bank bisa dipahami masyarakat sebagai informasi yang dekat dengan dompet dan kebutuhan sehari-hari. Itulah esensi jurnalisme ekonomi: menghadirkan pengetahuan kompleks dalam sajian yang sederhana, akurat, dan bermakna bagi publik.

Penulis Adalah Akademisi dan Ahli Pers Dewan Pers

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!